• Telp : 0725-47297, 41507
  • Fax : 0725-47296
  • Email : iainmetro@metrouniv.ac.id
Diposting oleh Administrator Tgl 21-05-2018 & wkt 01:26:27 dibaca Sebanyak 1937 Kali

Kewajiban puasa bukanlah hanya untuk umat Nabi Muhamnad SAW saja,  tetapi Allah telah mewajibkan kepada  umat sebelum kita (Q. S.  Al-Baqarah 183). Dalam ayat ini, tujuan dari puasa adalah agar menjadi orang yang taqwa.

Untuk mencapai tujuan tersebut Allah dan Rasul telah menetapkan silabus dan materinya, dengan berbagai metode serta waktunya 1 bulan.

Jika puasa dilakukan sesuai dengan yang diinginkan oleh Allah sebagai pendesign dan Rasulullah sebagai instrukturnya, maka tujuan puasa akan tercapai.  Kenapa tidak? Jika dalam kondisi puasa kita dapat menahan diri untuk tidak memakan makanan yang jelas harta sendiri dan di rumah sendiri, maka kita pasti akan lebih bisa lagi untuk tidak memakan harta orang lain yang juga dilarang oleh Allah. Dengan demikian orang yang puasa tidak akan sanggup untuk mencuri,  merampok, korupsi dan seterusnya.

Selain itu juga, dengan berpuasa kita sanggup untuk tidak melakukan hubungan suami isteri di siang Ramadhan, meskipun telah sah dari perkawinan yang sah, maka kita akan lebih sanggup untuk tidak menggauli orang yang tidak memiliki hubungan yang sah dengan kita (zina,  selingkuh).

Akan tetapi, jika puasa dilakukan dengan tidak mengikuti ketentuan yang  telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul,  maka tidak akan sampai pula tujuan dari puasa itu sendiri.
Rasulullah bersabda:

رُبَّ صَاىِٔمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوْعُ وَالْعَطَشُ

“Berapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja.” (HR. Ibnu Majah no.1690)

Bahkan perkataan (ujaran) yang akan merugikan orang lain pun termasuk hal  yang diantisipasi untuk tidak dilakukan pada saat menunaikan ibadah puasa.  Lebih jelas lagi dalam sabda Rasulullah:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلّٰهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَه

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan selalu  mengamalkannya, maka Allah Ta’ala tidak butuh kepada puasanya.” (HR. Al-Bukhari no.1804)
 
Puasa satu bulan di setiap tahun merupakan karunia yang diberikan oleh Allah, agar yang menjalankannya menjadi pribadi yang lebih baik.

Prof. Dr. Enizar, M.Ag
Metro, 19 Mei 2018

Author

Berita Lainnya

Oleh : Prof. Dr. Enizar, M.Ag
Oleh : Prof. Dr. Enizar, M.Ag
Oleh : Prof. Dr. Enizar, M.Ag
Oleh : Prof. Dr. Enizar, M.Ag
Oleh : Prof. Dr. Enizar, M.Ag
Oleh : Administrator
Oleh : Siti Sufiah
Oleh : Siti Sufia
Oleh : Prof. Dr. Enizar, M.Ag
Oleh : Muhammad Ryan Fahlevi

Masukkan Komentar

lMTu2

Total Komentar (0)


Halaman :
Facebook Pages
 
Twitter