• Telp : 0725-47297, 41507
  • Fax : 0725-47296
  • Email : iainmetro@metrouniv.ac.id
Diposting oleh Tgl 25-06-2021 & wkt 05:00:01 dibaca Sebanyak 417 Kali

Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur PascasarjanaIAIN Metro) 

Istilah Gigantisme, awalnya digunakan untuk menyebut suatu penyakit yang disebabkan oleh kelebihan hormon pertumbuhan. Anak-anak yang terkena penyakit ini akan mengalami pertumbuhan fisik yang tidak normal karena ia akan tumbuh sangat tinggi dan besar, sehingga terlihat seperti raksasa. Gigantisme bisa dikenali tanda-tandanya secara fisik, misalnya ukuran badan anak lebih tinggi dan besar secara tidak normal dibandingkan anak seumurannya, beberapa bagian tubuhnya terlihat tidak proporsional dengan bagian tubuh lainnya seperti pertumbuhan pada kaki, tangan dan penebalan pada jari-jari. Gejala lainnya adalah rahang dan dahi yang menonjol, serta hidung yang datar. Singkatnya, ini adalah sebuah penyakit yang berdampak pada pertumbuhan yang tidak normal pada fisik seseorang. Meskipun seseorang itu terlihat tinggi dan besar, namun sesungguhnya fisiknya sakit, keropos dan tidak sehat.

Gigantisme kemudian dipergunakan untuk menyebut beberapa gejala sosial yang lain dalam konteks yang berbeda-beda. Ada istilah gigantisme kota, yaitu suatu kota besar yang  memiliki ciri-ciri sebagai kota yang tidak terstruktur dengan fasilitas yang lengkap dan memadai sehingga membuat warganya merasa tidak nyaman dan betah tinggal di dalamnya. Menurut para ahli ilmu sosial, umumnya kota-kota besar di Indonesia mengidap gigantisme. Sebuah kota besar yang keropos dan tidak nyaman untuk ditinggali karena berbagai persoalan seperti tata ruang yang buruk, kemacetan lalu lintas yang akut, fasilitas umum yang buruk dan ruang terbuka hijau yang kurang dan sangat terbatas. Ada yang menyebut, Jakarta bukanlah sebuah kota, tetapi the big village atau hanya sebuah kampung besar. Jakarta dan kota-kota besar lainnya mengidap gejala gigantisme.

Gigantisme juga bisa digunakan untuk menyebut sebuah lembaga atau organisasi yang besar dan kompleks namun tidak produktif dan efisien. Banyak lembaga yang memiliki struktur organisasi yang besar, diisi oleh orang yang hebat-hebat dan berpendidikan tinggi, dengan sumber daya dan sumber dana yang melimpah namun lembaganya tidak berkembang dengan baik. Birokrasinya  rumit dan mengular sangat panjang, tidak produktif bahkan penuh intrik dan konflik. Lembaga atau organisasi seperti ini sedang terkena penyakit gigantisme. Sebab itu dalam ilmu manajeman ada istilah Small is Beautiful (Kecil itu Indah).. Istilah ini pertama kali dikemukan oleh  E.F.Schumacer dalam bukunya  Small is Beautiful : A Study of Economics as if People Mattered pada tahun 1973. Dalam bukunya ini ia mengatakan bahwa organisasi raksasa hampir pasti akan menghasilkan birokarsi yang melemahkan dan ketidaksehatan. Schumacer memiliki prasangka yang kuat dalam hal yang kecil, seperti yang ia katakan dalam frasa paling ringkas ‘manusia itu kecil, dan karenanya, kecil itu indah’.

Gigantisme dapat pula melanda organisasi sosial kemasyarakatan, organisasi politik, organisasi keagamaan, bahkan masyarakat atau umat. Rasulullah SAW pernah mengingatkan tentang kondisi umat Islam di akhir jaman yang jumhlahnya banyak namun lemah dan tidak berdaya di tengah-tengah  pergumulan sosial. Jumlah umat Islam dikatakan Beliau saat itu banyak namun seperti buih di lautan. Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW :

 

“Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring. Seseorang berkata, “Apakah sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “ bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kalian seperti buih di atas air. Dan Allah akan mencabut  rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit Wahn”. Seseorang bertanya “ Apakah Wahn itu?” Beliau Menjawab “Cinta dunia dan takut mati.” (HR.Ahmad, Al-Baihaqi dan Abu Dawud).

 

Umat yang menderita gigantisme adalah umat yang sebenarnya jumlahnya banyak, namun mereka tidak berkualitas. Karena tidak berkualitas, maka mereka menjadi umat yang tertinggal, terbelakang dan hanya menjadi obyek serta tersubdordinasi oleh kelompok lain yang boleh jadi jumlahnya lebih sedikit. Ada sinyelemen bahwa organisasi keagamaan seperti Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah, kalau tidah hati-hati bisa juga menderita gigantisme. Kelihatannya besar, pengikutnya banyak, akan tetapi tidak menentukan dalam kehidupan umat Islam, bahkan diintervensi dan tersubordinasi oleh banyak kelompok kepentingan, terutama kepentingan politik dan kepentingan pragmatis. Semoga saja tidak demikian.

Secara individual gigantisme juga bisa menjangkiti seseorang, dimana ia merasa besar dan paling hebat namun sejatinya ia tidak mempunyai kemampuan apa-apa. Ibarat kata pepatah ‘tong kosong nyaring bunyinya’. Ia seolah-olah nampak sebagai orang yang berpengetahuan luas, paling berwawasan, paling baik, dan paling bermoral, padahal sesungguhnya orang lain menilai ia hanya seperti merak yang memamerkan keindahan bulunya. Setelah bulu itu tertelungkup hilanglah keindahannya. Gigantisme moral seperti ini dalam perspektif akhlak Islam disebut dengan sikap sombong atau takabur. Padahal Rasulullah SAW mengingatkan bahwa siapa saja yang dalam hatinya memiliki sikap takabur meskipun hanya sebesar dzarah (atom), maka ia akan masuk neraka.

 

Kecil (Sedikit) Yang Menentukan

 

Sejarah manusia diukir tidak oleh banyak orang, namun  oleh sedikit orang saja. Mereka itu adalah para pemikir dan ilmuwan, filosof, para penguasa dan politisi, kaum agamawan dan ulama, seniman, serta olahragawan. Jumlah mereka tidaklah banyak, namun bisa dihitung dengan jari, setidaknya bila dibandingkan dengan seluruh jumlah manusia di muka bumi ini. Mereka yang mampu mengubah dunia bukanlah sekelompok besar masyarakat dari suatu negara atau seklompok umat manusia di bumi ini, tetapi hanya beberapa orang yang merupakan bagian dari masyarakat yang banyak tersebut.

Kuantitas tidak selalu bisa menentukan hitam dan putih kehidupan ini. Karena itu jangan bangga dengan jumlah yang banyak, pengikut yang banyak, anggota yang banyak atau segala kebesaran yang kita miliki. Hal ini tidak berarti bahwa jumlah yang banyak tidak penting atau bisa diabaikan saja. Jumlah tetap penting, namun jumlah yang banyak tetapi lemah tidak lebih baik dari yang sedikit namun kuat dan berpengaruh. Berapa banyak peristiwa sejarah memberikan i’tibar kepada kita dimana ada kelompok kecil bisa mengalahkan kelompok yang besar. Al-Qur’an mengingatkan hal itu kepada kita di dalam surat Al-Baqarah (2) ayat 249 :

 

….ۦۚ قَالَ ٱلَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَٰقُواْ ٱللَّهِ كَم مِّن فِئَةٖ قَلِيلَةٍ غَلَبَتۡ فِئَةٗ كَثِيرَةَۢ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ 

...Mereka yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, "Betapa banyak kelompok kecil dapat mengalahkan kelompok besar dengan ijin Allah". Dan Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS.Al-Baqarah (2) : 249).

 

Perang Badar adalah perang yang pertama kali terjadi dalam sejarah Islam antara kaum muslimin dan kafir Qurais. Saat itu pasukan muslim hanya sekitar 300 orang saja sementara dari pasukan kaum Qurais ada sekitar 1000 pasukan. Jumlah pasukam Islam tiga kali lipat lebih sedikit dibandingkan pasukan Qurais, namun sejarah mencatat perang ini dimenangkan secara gemilang oleh kaum muslimin yang jumlahnya lebih sedikit. Konon orang-orang eropa, baik itu bangsa Portugis, Spanyol, maupun Belanda,  yang pertama kali datang ke bumi nusantara jumlahnya hanya beberapa ratusa saja. Akan tetapi lihat, mereka, terutama Belanda bisa menjajah Indonesia yang jumlah penduduknya puluhan juta selama hampir kurang lebih 3,5 abad. Mari lihat saudara kita etnis Tionghoa, jumlahnya tidak sampai lima persen, namun berkat kegigihannya mereka bisa menguasai ekonomi secara nasional. Dalam setiap rilis tahunan daftar orang terkaya di Indonesia, peringkat 10 besar selalu berasal dari kelompok etnis ini dan hanya satu saja yang betul-betul asli pribumi.

Itulah contoh-contoh nyata betapa kelompok yang kecil, yang jumlahnya sedikit, namun bisa mengalahkan dan menguasai kelompok yang jumlahnya lebih besar. Mari belajar apa dan  dimana rahasia kelompok kecil itu sehingga bisa unggul dan menang melawan yang lebi besar. Tidak perlu iri kepada mereka yang jumlahnya sedikit tetapi sukses dengan menyalahkan mereka sebagai penyebab kemunduran dan kekalahan kita. Namun belajarlah menarik pelajaran dan memahami kunci kesuksesan mereka. Jadilah kecil yang menentukan daripada besar namun ketinggalan terus. Lebih baik lagi, jadilah besar dan menentukan. (mh.240621)

Berita Lainnya

Masukkan Komentar

NDw3K

Total Komentar (0)


Halaman :
Facebook Pages
 
Twitter
 
Jajak Pendapat
Polling Management
Apakah Web ini sudah memberiakan informasi yang anda butuhkan?
2616(67.9%)
TOTAL 3853
Statistik
Online : 1 User
Hits : 3667673
Hari Ini : 218
Bulan Ini : 3757
Tahun Ini : 339417
Total : 1567168