• Telp : 0725-47297, 41507
  • Fax : 0725-47296
  • Email : iainmetro@metrouniv.ac.id
Diposting oleh Tgl 25-05-2021 & wkt 06:22:17 dibaca Sebanyak 124 Kali

Dharma Setyawan, M.A. (Kaprodi Ekonomi Syariah IAIN Metro)

Asian Development Bank (ADB) bersama International Food Policy Research Institute (IFPRI) menyatakan,"Pada 2016-2018, sekitar 22,0 juta orang di Indonesia menderita kelaparan." Untuk mewujudkan dunia tanpa kelaparan pada tahun 2030, ditetapkan target diantaranya menghilangkan kelaparan dan kekurangan gizi, menggandakan produktivitas pertanian, menjamin pertanian pangan berkelanjutan, mengelola keragaman genetik, dan meningkatkan kapasitas produktif pertanian.

Sosialisasi yang dilakukan pemerintah dalam penanggulangan kelaparan, belum terintegrasi dengan pola transformasi kebudayaan pertanian pada generasi muda. Data-data menunjukkan jumlah petani semakin menurun, dan ini sangat berkolerasi pada jumlah produktivitas hasil pertanian. Sisi lain berkurangnya jumlah petani karena disebabkan berbagai hal diantaranya berkurangnya lahan pertanian produktif, iklim pertanian yang tidak menjanjikan kesejahteraan, gempuran asing dalam industri besar menyingkirkan petani kecil, dan dukungan negara yang lemah terhadap dunia pertanian.

Petani sebagai Budaya

Banyak orang tua yang tidak menginginkan anaknya jadi petani. Pola pendidikan mengubah kenyataan besar bahwa menjadi pegawai adalah impian semua orang tua, meskipun akhir-akhir ini banyak yang bicara tentang enterprenurship. Namun kenyataan hidup adalah soal pangan, dan perang terhadap kebutuhan pangan dilakukan sejak manusia lahir. Pangan sebagai kebutuhan dasar tidak boleh diabaikan, bahwa sumbernya dipinggirkan oleh struktur masyarakat itu sendiri.

Menjadi petani adalah pekerjaan mulia, jika terjadi marginalisasi terhadap profesi petani berarti ada yang salah dengan arah kompas bangsa. Padahal semua orang hidup harus punya kewajiban menanam. Anak-anak muda harus punya mimpi untuk melihat pertanian dan budaya menanam sebagai wujud nasionalisme. Petani dalam dimensi kebudayaan dapat diwujudkan dengan gotong royong pengetahuan dan implementasinya.

Desa dan Lumbung Pangan

Pandemi covid-19 mengajarkan banyak hal arti penting pangan bagi kelangsungan bangsa. Data 22 juta orang kelaparan tidak masuk logika negara agraris. Semua orang butuh makan, dan apa yang dimakan adalah dari hasil apa yang ditanam. Jika pertanian dianggap tidak menjanjikan dalam kesejahteraan hidup, pasti ada yang salah dengan konsep dan integrasinya dengan gerakan ekonomi lainnya. Menanam adalah melawan, itu jargon yang harus dimunculkan atas kebijakan impor produk luar negeri yang diputuskan oleh pemangku kebijakan.

Desa dalam kebudayaan masa depan melihat pertanian adalah mata rantai nilai. Sebuah lifestyle yang harus dijaga dan diperbaharui agar digitalisasi tidak menjebak kita semua sebagai buruh-buruh Milenial. Konsep pertanian jelas tidak dapat dikerjakan dengan system monokultur, gagasan Permakultur adalah pilihan wajib agar petani tidak bergantung pada satu hasil tanaman. Selain itu integrasi juga harus dilakukan agar ekosistem organik terpenuhi, diantaranya peternakan, perikanan dan keanekaragaman hayati yang wajib dijawa menumbuhkan kembali siklus rantai makanan.

Masalah kelaparan akan menjadi masalah penting di era modern. Bahwa teknologi informasi seharusnya menjadi jembatan produk pangan dapat dipasarkan secara baik dna menguntungkan petani itu sendiri. Asimetris information dapat diminimalisir sehingga petani mendapat harga yang pantas. Perguruan Tinggi juga penting melihat masalah pangan sebagai persoalan serius. Anak-anak muda yang kuliah mengenyam bangku perguruan tinggi bahkan dijurusan pertanian tidak menjamin akan lahir para petani-petani muda yang cerdas dan survive dalam sustainable gerakan.

Dana Desa harus memberi stimulus bagi tumbuhnya lumbung pangan desa. Kebijakan desa terhadap pertanian bukan lagi pada support pupuk kimia yang selama ini meracuni desa. Perlu ada pengetahuan alternatif dalam gerakan organik untuk memaksimalkan potensi yang ada pada pupuk organik, pestisida hayati dan rantai makanan dari hubungan flora dan fauna. Tantangan utama ada pada narasi petani desa yang ditransformasikan ke pemuda.

Berita Lainnya

Masukkan Komentar

SrW91

Total Komentar (0)


Halaman :
Facebook Pages
 
Twitter
 
Jajak Pendapat
Polling Management
Apakah Web ini sudah memberiakan informasi yang anda butuhkan?
2607(68.0%)
TOTAL 3832
Statistik
Online : 8 Users
Hits : 3568573
Hari Ini : 1137
Bulan Ini : 29754
Tahun Ini : 272904
Total : 1500655