• Telp : 0725-47297, 41507
  • Fax : 0725-47296
  • Email : iainmetro@metrouniv.ac.id
Diposting oleh Tgl 24-03-2019 & wkt 04:06:28 dibaca Sebanyak 198 Kali

Malam ini pertemuan yang spesial dengan penggerak lingkungan hidup di Kota Metro. Pak Narno panggilannya adalah orang yang tidak asing lagi, banyak meraih penghargaan lingkungan lokal sampai nasional.

P4 Lestari adalah tempat kreatifitas, inovasi, pembuatan kompos organik. Sejak tahun 1972 Pak Narno pindah ke Metro dari Gunung Kidul D.I. Yogyakarta. Lahir dari alam yang penuh batu membuatnya harus berjuang keras. Pindah ke Lampung, kakek yang kini masih segar bugar ini pernah mencoba jadi tukang becak, jualan keliling dan pada akhirnya bergelut dipertanian organik.

Bagi Pak Narno ada yang salah dari kita hidup. Lingkungan tak lagi asri, dan ekosystem memang sudah mulai terganggu. Cara kita menangani hama harus menggunakan pestisida adalah kesalahan fatal kita mengikuti negara lain. Meskipun pada akhirnya hal itu menjadi ketergantungan latin kita semua.

Pak Narno memproduksi Kompos sudah bekerjasama dengan banyak kalangan. Mulai dari Jepang, Perguruan Tinggi dan pihak lainnya. Beberapa anugerah mulai dari kalpataru, penggiat lingkungan, penghargaan Walikota, Bupati, Gubernur, Kementerian, Presiden dan lainnya berjejer di rumahnya.

Rumah yang menurut saya sangat luas, ada aula yang dibangun atas bantuan dari Jepang, malam-malam ramai anak-anak muda yang beraktifitas atau magang di rumah Pak Narno. Mereka belajar mulai dari nol sampai mahir membuat kompos.

Saya diundang oleh anak-anak muda untuk makan malam perpisahan pelatihan. Pak Narno yang baru pertama kali bertemu dengan saya langsung bercerita banyak terkait gerakan yang sudah dilakukannya puluhan tahun. Kami seperti orang yang langsung jatuh hati dan bercerita satu sama lain. Tertanya Ivan yang telah bercerita ke beliau terkait apa saja yang saya kerjakan di Lingkungan Ivan Dwi. Dahsyatnya lagi beliau akan membantu bibit apa saja yang akan kami tanam di Yosomulyo Pelangi.

Pak Narno bercerita bahwa di Yosomulyo ini pernah beliau datangkan bibit pohon pelangi–nama pohon karena batangnya memiliki warna seperti pelangi. Bibit yang dihargai 25 juta dan didatangkan langsung dari Australia. Apa yang disampaikan dari bibirnya, adalah potret manusia penggerak bukan manusia teori.

Sudah banyak beliau berkeliling daerah, di undang berbagai kegiatan lingkungan di berbagai provinsi, kabupaten dan kota. Tidak kenal lelah untuk menjelaskan sampai ke perguruan tinggi, diundang oleh banyak profesor untuk menjelaskan berbagai produk inovasi pupuk organik.

Pernah Pak Narno beli hewan Jangkrik ribuan, lalu di lepas di sawah, beberapa hari dilihatnya sudah tidak ada satupun suara. Pernah juga membeli ratusan burung apa saja, lalu dibebaskan dan tidak ada disekitar rumahnya. Pernah bahkan membeli bibit ikan satu kwintal dilepaskan di aliran sungai samping rusunawa depan taman Ki Hajar Dewantara ternyata juga tidak banyak tanda kehidupan.

“Mungkin semuanya mati karena pestisida atau karena manusia memburunya,” ujar Pak Narno.

Artinya lingkungan kita ini sakit dan kita hanya diam saja. Beliau berharap bahwa anak-anak muda harus jadi penggerak perubahan. Jangan sampai hanya menyampaikan tapi tidak melakukan sesuatu untuk perubahan.

 

Dharma Setyawan

Kajur Ekonomi Syariah

 

Berita Lainnya

Masukkan Komentar

hVALR

Total Komentar (0)


Halaman :
Facebook Pages
 
Twitter
 
Jajak Pendapat
Polling Management
Apakah Web ini sudah memberiakan informasi yang anda butuhkan?
2616(67.9%)
TOTAL 3853
Statistik
Online : 1 User
Hits : 3667677
Hari Ini : 221
Bulan Ini : 3760
Tahun Ini : 339420
Total : 1567171