• Telp : 0725-47297, 41507
  • Fax : 0725-47296
  • Email : iainmetro@metrouniv.ac.id
Diposting oleh Tgl 01-03-2021 & wkt 11:54:09 dibaca Sebanyak 392 Kali

Dedi Irwansyah (Kepala Pusat Penelitian dan Penerbitan IAIN Metro)

A mediocre university focuses on numbers,

a good university talks about impact and citation. (Sunu Wibirama)

 

 

 

 

Sebagai pembimbing atau  penguji, tak jarang dosen menemukan skripsi yang potensial. Yang memiliki konten up-to-date dan metodologi riset yang solid. Yang publishable, atau layak dipublikasi pada jurnal terakreditasi. Meski skripsi publishable itu cukup banyak, ia sukar memiliki impact dan sitasi jika tidak segera dikonversi menjadi artikel pada jurnal terakreditasi. Pada titik tertentu, adalah impact dan sitasi yang menjadi  faktor pembeda antara kampus ‘papan tengah’ (mediocre) dan kampus unggul (good). Karene itu, setelah kuantitas karya ilmiah, proyeksi strategis selanjutnya  harus diarahkan kepada impact dan sistasi.

Mengawal skripsi ke jurnal terakreditasi lebih mudah dikatakan daripada diwujudkan. Kerap dibutuhkan ‘polesan ekstra’, terutama pada aspek judul, abstrak, dan discussion. Pertama, judul sebuah skripsi bisa mencapai 20 kata lebih karena biasanya menyakup detail lokasi penelitian hingga tahun akademik pembelajaran. Sementara judul sebuah artikel jurnal dipandang efektif jika kurang dari 16 kata. Untuk menghasilkan judul yang efektif, penulis harus menggunakan sesedikit mungkin kata namun mampu merepresentasikan sebanyak mungkin isi naskah. Cukup menantang.

Kedua, abstrak. Naskah yang di-submit oleh penulis, pertama-tama akan dibaca oleh penyunting (editor). Naskah yang bagus akan diteruskan ke reviewers. Dari reviewers, naskah dikembalikan lagi ke editor untuk ditentukan apakah diterima, perlu direvisi, atau ditolak. Dalam alur proses itu, abstrak berperan sebagai the advertisement of the article, atau ‘iklan’ yang menentukan apakah sebuah naskah akan dibaca seluruhnya atau tidak oleh editor atau reviewers. Tidak berlebihan, jika pada titik yang paling spektakuler, abstrak/abstract merupakan variabel terpenting di balik penerimaan (acceptance) sebuah naskah.

Teknis penulisan abstrak, khususnya abstract berbahasa Inggris, bergantung pada gaya selingkung jurnal target. Jumlah kata dalam abstrak bisa berbeda antara satu jurnal dengan jurnal lainnya. Penulis harus mencermati author guidelines atau article template yang berlaku. Meski jumlah kata dalam abstrak bisa variatif, secara prinsip struktur abstract menyakup: (1) pendahuluan (introduction) yang ditulis dalam 1-2 kalimat dalam bentuk present perfect atau simple present tense; (2) tujuan (aim) disajikan dalam present tense atau past tense; (3) metode penelitian yang disajikan dalam past tense; (4) temuan dan hasil (findings and results) yang disajikan dalam present tense; dan (5) implikasi atau rekomentasi yang umumnya disajikan dalam simple future tense. Jika jumlah kata dalam abstrak sangat dibatasi, penulis hanya perlu menyajikan tujuan, metode penelitian, dan temuan.

Ketiga, discussion. Salah satu struktur standar sebuah jurnal adalah IMRAD (Introduction, Method, Result, and Discussion). Di titik ini, penulis pemula patut mencermati beberapa istilah teknis sebelum menyusun discussion. Di antara istilah teknis itu adalah: masalah penelitian (research problem), pertanyaan penelitian (research question), temuan penelitian (findings), dan hasil penelitian (results). Satu masalah penelitian dapat diturunkan menjadi beberapa pertanyaan penelitian. Jika seorang penulis, misalnya, mengajukan dua pertanyaan penelitian, penulis harus menyajikan dua jawaban penelitian. Jawaban penelitian dianggap valid jika ada data dukung yang bisa berupa tabel, grafik, kutipan wawancara, foto, angka, atau ringkasan isi (Ada banyak penulis yang memulai penulisan jurnalnya dari penyajian data dukung tersebut). Jawaban terhadap pertanyaan penelitian inilah, menurut sebuah pendapat, yang disebut temuan penelitian (research findings). Sampai sini, patut dicatat bahwa sebuah skripsi (level S1) dipandang selesai jika sudah memuat research findings.

Pada tugas akhir di level S2 dan S3, sebuah temuan penelitian masih harus didialogkan dengan teori atau hasil penelitian terdahulu yang relevan. Dialog tersebut untuk menegaskan posisi dari temuan penelitian, yaitu apakah mendukung, menolak, atau memunculkan teori baru. Hasil dari dialog tersebutlah yang kerap diistilahkan dengan hasil penelitian (results). Namun begitu, perbedaan antara temuan dan hasil penelitian itu adalah sebuah pendapat. Pendapat (baca ‘praktik’) lain di lapangan memperlihatkan bahwa dialog antara temuan dan teori, adalah sesuatu yang menjadi sajian pada sub discussion pada struktur IMRAD.

Ragam pendapat terkait istilah teknis tidak perlu diperdebatkan secara berlarut. Tetapi untuk dijadikan pijakan dalam merespon article template yang juga beragam adanya. Satu hal yang patut dicermati bahwa sebuah skripsi tidak bisa begitu saja dikonversi menjadi jurnal tanpa menambahkan sub discussion. Dalam proses penulisan discussion, pengayaan referensi berupa jurnal dan keterampilan menggunakan reference manager menjadi faktor tambahan lain selain judul, abstrak, dan discussion.

Ditulis untuk memotret sebuah upaya mengonversi skripsi mahasiswa TBI IAIN Metro menjadi artikel jurnal nasional terakreditasi peringkat 2 (Sinta 2):  http://jurnal.unissula.ac.id/index.php/edulite/article/view/9588

Metro, 01 Maret 2021

 

Berita Lainnya

Masukkan Komentar

7k3XN

Total Komentar (0)


Halaman : 1 Next->
Facebook Pages
 
Twitter
 
Jajak Pendapat
Polling Management
Apakah Web ini sudah memberiakan informasi yang anda butuhkan?
2607(68.0%)
TOTAL 3832
Statistik
Online : 1 User
Hits : 3568683
Hari Ini : 1244
Bulan Ini : 29861
Tahun Ini : 273011
Total : 1500762