• Telp : 0725-47297, 41507
  • Fax : 0725-47296
  • Email : iainmetro@metrouniv.ac.id
Diposting oleh Tgl 04-06-2021 & wkt 10:59:56 dibaca Sebanyak 38 Kali

 

Dharma Setyawan, M.A. (Kaprodi Ekonomi Syariah IAIN Metro)

Membaca berita tentang desa tua di Singapura yang bertahan di tengah arus modernitas menarik untuk diulas. Ada banyak alasan terkait tergerusnya desa beserta kebudayaannya, namun yang paling sering kita dengar adalah karena proses adaptasi terhadap perubahan. Kampung lorong Buangkok menjadi viral semenjak pandemi dan para penduduk menjadikan kampung tua ini tempat lari pagi, menghirup udara dan melihat tanaman langka.

Istilah kota kreatif ini pada dasarnya lahir dari persoalan kota yang gagal menyelesaikan kebutuhan primernya, mulai dari pangan, oksigen, sanitasi, ruang terbuka hijau, sarana olahraga, dan tentu sikap individual yang terus menjamur. Maka ide kota kreatif menjadi salah satu solusi ruang metropolitan supaya memiliki gagasan-gagasan baru dan mengubah wajah kota lebih dinamis. Dalam kategori SDGs, kota lebih banyak gagal dalam 17 capaian. Indikator ini punya korelasi terhadap sikap acuh warga kota dan kini semakin ditiru oleh warga desa.

Munculnya kota kreatif nampaknya sebuah pengakuan bahwa kota gagal mengobati sakit yang diidap dalam ruang tubuhnya. Hanya saja bertemunya kepentingan merkantilisme pasar ekonomi dan politik, masih menjadikan kota sebagai magnet bagi orang desa untuk terus hadir dan membangun mimpi. Hematnya, selama orang punya mimpi metropolitan, bangunan kota berlomba megah-megahan, pasar tidak dibangun untuk rakyat tapi melayani sedikit elit, ruang kota dipenuhi hutan beton, selama itu pula pembangunan bertujuan untuk uang, bukan menyelamatkan manusia dan lingkungan hidup.

Kota kreatif kemudian membawa arus digitalisasi ke beberapa sub-sektor warisan leluhur. Mulai membawa arah glorifikasi rumah adat tua, kuliner, fashion, kerajinan leluhur, dan segala peninggalan lama di lestarikan melalui promosi digital. Tidak ada yang salah dalam promosi kota kreatif ini, tapi pasar ini kelak akan berpihak ke siapa? Pemilik industri digital atau pelaku ekonomi kreatif yang mewarisi hasil kebudayaan secara turun temurun?

Selama sebuah ruang masih menyelamatkan pangan, kebudayaan leluhur dan mempertahankan kekayaan di dalamnya, tidak perlu orang muncul dengan sikap dan mimpi harus menjadi kota. Kesempatan kampung tua dengan pertahanan budaya alami inilah, yang sekarang diburu oleh para wisatawan. Kolektifitas selalu menemukan elan vitalnya. Orang tidak perlu menyetujui pembangunan yang kelak mereka tidak pernah menikmatinya. Pasar-pasar elit, gedung tinggi, hotel mewah, studio film besar milik asing, semua tidak relevan dengan masa depan ekonomi masyarakat secara menyeluruh. Mungkin segelintir orang akan berpengaruh, tapi efek ketimpangan yang ditimbulkan kita tidak perlu berdebat.

Menjadi pemikiran bersama, sanggupkah kita sabar dan mempertahankan kebudayaan leluhur? Perjuangan ini tidak mudah, tapi bukan berarti sulit, menarik perhatian semua mata kembali ke kampung budaya adalah upaya bersama masyarakat. Pemberdayan masyarakat memungkinkan membawa kembali mata rantai nilai ini sehingga menguntungkan masyarakat lokal. Kerinduan manusia pada lokalitas, kebudayaan leluhur, kuliner lokal, arsitektur tua, kesenian dan tentu masih banyak lagi yang patut dipertahankan.

Kita tidak perlu menjadi Singapura yang maju tapi menyingkirkan nilai-nilai leluhur. Dibalik megahnya gedung-gedung tinggi, ada kemiskinan, ada banyak individu rentan yang tersingkir, ada ketimpangan kelas, ada perlombaan hidup yang semu. Ada oksigen yang terenggut, tanah yang hilang hak untuk ditumbuhi tanaman, ada teknologi yang tidak manusiawi, dan semua itu sudah dibayar dengan peningkatan ekonomi yang semu. Yang murah menjadi mahal, yang guyub menjadi tercerai, yang alami menjadi kimiawi, dan kerinduan kita pada warisan kampung lama yang sudah digusur tidak akan bisa kembali.

Sebelum semua terlambat kesejahteraan itu bukan soal menumpuknya uang. Kesejahteraan adalah pemerataan hasil kolektifitas. Kesejahteraan adalah tanah yang terus dapat menumbuhkan kebutuhan pangan manusia, kesejahteraan adalah penghuni rumah-rumah yang saling berinteraksi, kesejahteraan itu tumbuhnya kebudayaan hasil dari cipta, karsa dan karya. Sebelum terlambat menjadi kota kreatif, menyelamatkan kampung budaya ternyata lebih penting dan manusiawi. Dan ini semua bukan berarti menolak teknologi yang mempermudah kita dalam menjalani kehidupan.


 

Berita Lainnya

Masukkan Komentar

iMwn6

Total Komentar (0)


Halaman :
Facebook Pages
 
Twitter
 
Jajak Pendapat
Polling Management
Apakah Web ini sudah memberiakan informasi yang anda butuhkan?
2607(68.0%)
TOTAL 3832
Statistik
Online : 1 User
Hits : 3568621
Hari Ini : 1184
Bulan Ini : 29801
Tahun Ini : 272951
Total : 1500702