• Telp : 0725-47297, 41507
  • Fax : 0725-47296
  • Email : iainmetro@metrouniv.ac.id
Diposting oleh Tgl 03-02-2021 & wkt 11:33:12 dibaca Sebanyak 347 Kali

Muhamad Nasrudin, MH (Dosen dan  Gugus Kendali Mutu Fakultas Syariah IAIN Metro)

 

Pandemi Covid-19 mengubah hampir semua lanskap kehidupan, tak terkecuali dunia pendidikan. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam rangka mencegah dan memutus penyebaran virus Corona dilakukan salah satunya dengan mengubah pembelajaran di sekolah dan perguruan tinggi, dari luring ke daring.

Pergeseran dari luring ke daring ini membawa berbagai konsekuensi yang tentu saja tidak mudah. IAIN Metro termasuk salah satu kampus yang menerapkan pembelajaran daring, mulai dari pertengahan semester genap tahun 2019/2020 hingga semester gasal 2020/2021.

Pembelajaran daring adalah pembelajaran yang dilakukan tanpa ada tatap muka secara langsung antara tutor/dosen dengan peserta didik/mahasiswa. Komunikasi antara dosen dan mahasiswa dilakukan dengan dimediasi perangkat teknologi komunikasi melalui jaringan (internet, telepon, radio, televisi, dan semacamnya).

Problem mendasar pembelajaran daring sebagai pembelajaran yang berjarak adalah bahwa masing-masing dosen dan mahasiswa berada pada lingkungan yang tidak sama. Masing-masing hidup dan berada pada alam yang berbeda. Di saat yang sama, baik dosen dan mahasiswa, pada saat yang sama menjalani peran yang beraneka.

Pada pembelajaran luring, semua pihak menanggalkan berbagai peran mereka dan masuk ke dalam kelas dengan peran tunggal: sebagai dosen atau sebagai mahasiswa. Sementara itu, dalam pembelajaran daring, dosen berperan ganda di rumah, misalnya sebagai suami, ayah, kakak, atau anak. Demikian juga mahasiswa di saat belajar, pada saat yang sama ia berperan juga sebagai anak, kakak, atau adik.

Peran yang bertumpuk-tumpuk ini menjadi problem serius. Ketika asyik mengajar, misalnya, si istri minta tolong menyalakan pompa air karena karena air di tandon habis. Ketika asyik mengoreksi tugas mahasiswa, si kecil minta disuapi atau tiba-tiba rewel. Dan ketika gangguan itu sudah teratasi, eh, mood mengajar sudah ambyar atau waktunya sudah habis.

Demikian halnya bagi mahasiswa. Ketika asyik menyimak materi, eh, si adik minta dimandikan. Atau si Ibu meminta dibelikan bumbu di warung, atau ada ayam yang masuk ke dapur dan menghamburkan beras. Ketika gangguan sudah tuntas, eh, penjelasan dosen sudah selesai. Nah, perkara-perkara kecil tapi lazim ini tak jarang menjadi problem.

Pra-Syarat dan Fondasi

Oleh karena itu, pembelajaran daring, baik yang diselenggarakan secara sinkronis atau asinkronis membutuhkan beberapa pra-syarat yang bersifat mutlak sebagai fundamennya, yakni: komitmen penuh kedua belah pihak, manajemen diri, media komunikasi, media pembelajaran digital, dan media evaluasi digital.

Pertama, komitmen penuh. Dalam pembelajaran luring, baik dosen ataupun mahasiswa terkondisikan untuk hadir dan siap untuk belajar. Waktu dan tempat yang sama membantu dosen dan mahasiswa untuk on fire dalam pembelajaran. Suasana ruangan yang tenang membantu fokus dalam belajar-mengajar.

Dalam pembelajaran daring, tidak ada tempat yang sama. Tidak ada ruangan yang benar-benar nyaman dan single-purpose untuk belajar. Belajar di ruang tamu repot kalau ada tamu. Belajar di ruang keluarga rawan tergoda televisi atau diganggu anggota keluarga. Belajar di kamar rawan rebahan. Belajar di taman rawan terganggu.

Sebab itu, perlu komitmen dari dosen dan mahasiswa untuk serius dalam belajar, bagaimana pun kondisinya, apa pun rintangannya, sesulit apa pun tantangannya. Komitmen ini harus dibuat oleh kedua belah pihak. Karena komitmen yang diingkari salah satu pihak tidak memiliki signifikansi apa pun.

Kedua, manajemen diri. Pembelajaran daring memberikan kewenangan secara penuh kepada para dosen dan mahasiswa untuk mengatur jadwal kegiatan masing-masing dalam sehari-hari. Bagi mereka yang tidak terbiasa membuat jadwal kegiatan harian, pembelajaran daring berujung pada beban belajar yang terus menggunung sehingga kebingungan untuk menuntaskannya satu per satu.

Selain manajemen waktu, manajemen komunikasi juga tak kalah penting. Komunikasi ini tidak hanya antara dosen dan mahasiswa, melainkan juga komunikasi antara dosen atau mahasiswa dengan orang-orang di sekitarnya: anak, istri atau suami, orang tua, mertua, kakak, atau adik yang ada di rumah.

Komunikasi ini penting karena mereka yang tinggal serumah belum tentu memiliki pemahaman yang sama tentang masa pandemi dan mekanisme pembelajaran daring. Komunikasi yang macet bisa merusak suasana rumah dan tentu saja berimbas pada kesuksesan belajar daring.

Tempo hari, misalnya, ada mahasiswa yang mengeluh karena disalahpahami Ibunya. Seorang ibu tersebut berkomentar kepada mahasiswi, “Katanya belajar, Nduk. Kok malah main HP terus seharian? Kapan belajarnya?” Padahal memang pembelajaran dilakukan menggunakan peralatan komunikasi, salah satunya HP.

Ketiga, pembelajaran daring menuntut kesiapan perangkat komunikasi, baik hardware maupun software. Perangkat keras harus benar-benar fit dan kompatibel dengan berbagai aplikasi pembelajaran. Karena tidak jarang ada HP yang hank ketika digunakan untuk mengirimkan video, memori yang penuh, atau tidak bisa diinstal aplikasi pembelajaran.

Jaringan sinyal dan pulsa juga penting untuk diperhatikan. Secanggih apa pun perangkat yang kita miliki kalau kita tinggal di blank spot signal ya tidak ada artinya. Demikian halnya, perangkat yang canggih, jaringan internet 4G, tetapi tidak punya pulsa, ya tidak bisa dipakai.

Keempat, media pembelajaran dalam pembelajaran daring juga harus ditransformasikan ke dalam wujud digital. Proses transformasi ini tidak semata-mata mengalihkan dari print-out menjadi soft-file. Digitalisasi media pembelajaran adalah proses transformasi, bukan semata-mata alih-bentuk. Materi versi print-out perlu ditransformasi menjadi video tutorial atau audio podcast.

Kelima, media evaluasi juga perlu digital. Tidak hanya sebatas pindai soal atau kirim soft file soal, melainkan perlu menerapkan aplikasi kuis atau Google form yang bisa memberikan penilaian secara real time sehingga memudahkan dosen dan mahasiswa. Tentu saja tidak semua mata kuliah bisa digunakan, tetapi inovasi tetapi bisa dilakukan.

Semoga pandemi segera berakhir dan pembelajaran menemukan formulasi terbaiknya. Aamiin 

Berita Lainnya

Masukkan Komentar

quDBv

Total Komentar (0)


Halaman :
Facebook Pages
 
Twitter