• Telp : 0725-47297, 41507
  • Fax : 0725-47296
  • Email : iainmetro@metrouniv.ac.id
Diposting oleh Tgl 06-08-2021 & wkt 03:05:00 dibaca Sebanyak 116 Kali

metrouniv.ac.id - Dharma Setyawan, M.A. (Kaprodi Ekonomi Syariah IAIN Metro)

"Non schole, sed vitae discimus", kita belajar bukan untuk sekolah melainkan untuk hidup (Seneca).

Selama ini kita salah memahami literasi yaitu segala sesuatu yang berhubungan dengan buku atau kepenulisan. Padahal literasi berasal dari kata literatus (orang yang belajar). Jadi literasi pada dasarnya tidak hanya terkait dengan buku dan menulis,  tapi sebuah upaya orang untuk terus belajar tentang apapun. Belajar seni gitar, biola, olahraga sepakbola, basket dan lainnya itu adalah literatus.

Pun dengan kata Sekolah berasal dari kata skhole,  scola, scolae atau skhola artinya waktu luang atau waktu senggang. Orang Yunani kuno melakukan skhole saat istirahat bekerja, berkumpul dan berbincang pengetahuan satu sama lain. Namun kini mereka yang di strukturkan oleh negara untuk sekolah malah tidak punya waktu luang.

Konon hikayat belajar sudah 2000 tahun lamanya, sedangkan orang yang sekolah di bawah standarisasi negara baru 400 tahun. Kita bisa lihat hasil yang jauh antara orang yang belajar dan sekolah. Mereka yang belajar, contoh nenek moyang kita sanggup membuat Borobudur jadi satu dari tujuh keajaiban dunia, dan mereka tak mengenal sekolah tapi mereka belajar.

Sedangkan kita yang sekolah, makin dikotomi, makin memilah ahli ini dan itu seolah otoritas keilmuan menjadi milik satu institusi. Beruntung ada yang sadar dan mencoba berjuang mengembalikan kekayaan ilmu dengan gagasan integrasi interkoneksi, multidisiplin keilmuan, dan istilah yang mengarah pada keilmuan saling menyapa.

Mimpi sekolah ke tempat mahal silahkan saja baik di dalam negeri atau luar negeri. Tapi hakikat belajar bukan untuk sekolah tapi untuk hidup kata Seneca filsuf pada abad ke 3 Masehi. Meskipun sekolah tanpa gelar, tanpa ijazah bahkan tanpa SPP, tapi jika hakikat belajar bisa untuk hidup itu adalah inti dari semua fungsi pengetahuan.

Mereka yang sekolah di tempat favorit banyak yang belum sadar membantu masyarakat, bahkan hari ini S2 dan S3 sudah banyak antri menunggu kerja atau punya karya hebat di luar negeri tapi belum diapresiasi negara di dalam negeri. Sekolah bisa dimana saja, yang penting orang belajar untuk mencintai kehidupan. Ki Hajar Dewantara mengatakan,"Semua orang adalah guru, semua tempat adalah sekolah."


 

Berita Lainnya

Masukkan Komentar

VUvLI

Total Komentar (0)


Halaman :
Facebook Pages
 
Twitter