• Telp : 0725-47297, 41507
  • Fax : 0725-47296
  • Email : iainmetro@metrouniv.ac.id
Diposting oleh Tgl 25-09-2021 & wkt 10:39:29 dibaca Sebanyak 69 Kali

 

metrouniv.ac.id - Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum (Ketua Lembaga Penjaminan Mutu IAIN Metro)

 

Kevin Bankston, seorang pengacara senior AS, menandai perubahan dunia digital saat ini dengan sebuah kutipan unik: “Google mungkin lebih mengenal Anda daripada Ibu Anda.” Ini bukan tanpa dasar. Konon, manusia modern menghabiskan rata-rata 8 jam sehari untuk berinteraksi dengan internet, sebuah durasi waktu yang lebih panjang daripada yang dihabiskan manusia setiap harinya bersama sang ibu. Cukup beralasan bukan?

Bankston ternyata tidak sendiri, seorang kolumnis bernama Jon Evans bahkan berani berkata: "I think it's fair to say, Facebook almost certainly knows you best." Facebook lebih mengenal Anda dan saya. Mungkin karena Facebook, dan media sosial (medsos) lainnya, adalah pendengar setia dan penyimpan memori yang handal. Tidak hanya merekam, medsos itu juga mengolah informasi itu dengan sangat akurat. Mereka tahu, kota-kota mana saja yang Anda kunjungi satu tahun terakhir; di hotel mana saja Anda pernah menginap; dan bahkan apa saja yang Anda posting tahun lalu. Begitu setia dan handalnya medsos, sehingga banyak orang nyaman untuk curhat kepadanya (meski medsos sudah pasti tidak bisa menyimpan rahasia). Di titik inilah, medsos menjadi sangat dekat dan mengenal kita.

Medsos sejatinya bersifat netral. Ia bisa menjadi anugerah dan bisa mengundang bencana. Betapa banyak yang tenar karena cuitannya di Twitter. Sebanyak orang yang mendulang ‘cuan’ karena unggahannya di YouTube. Sebaliknya, ada yang reputasinya ambyar karena video konyol yang diunggahnya. Ada yang dimeja-hijaukan karena postingannya dianggap merugikan pihak lain. Medsos menjelma anugerah di tangan kreatif yang memahami etika digital dan memiliki kemampuan berkolaborasi (dan meyakini the survival of the most collaborative) . Dan menjadi bencana bagi yang menafikan etika berinteraksi di dunia digital. Sekali etika terdegradasi, tak nanti orang lain sudi berkolaborasi, baik di dunia digital maupun di dunia nyata.

Etika di medsos, dunia maya, dan di dunia nyata tidaklah jauh berbeda. Lihat saja, konfigurasi ‘etika’ yang dimiliki oleh salah satu inovator jenius dunia digital, Jack Dorsey si penemu Twitter. Dorsey menyusun sepuluh tips-nilai: (1) don’t be a jerk. Jangan belagu, sok sip, ngomong-komentar seenaknya, merasa paling hebat; (2) don’t take anyone for granted. Jangan perlakukan orang lain (baca: bawahan) seolah-olah mereka tidak memiliki privasi dan tidak memerlukan pengakuan dan apresiasi. Jika jadi ‘atasan’ mbok ya sering-sering berucap ‘maaf, tolong, dan terima kasih’; (3) enjoy the moment. Nikmati momen. Saat rapat bisnis, nikmati dinamika yang berkembang. Jangan malah sok sibuk masygul sendiri di depan laptop atau device; (4) be honest, always. Jujurlah; (5) be humble. Miliki sikap rendah hati, bukan rendah diri. Hati yang rendah membawa orang ke maqam yang tinggi;  (6) be kind. Bersikap baik dengan tidak mempermasalahkan afiliasi politik; (7) respect people’s wishes. Dengarkan pendapat, harapan, keinginan, atau mimpi orang lain. Mendengar berarti menghargai. Tidak mendengar, tidak mungkin mampu mengapresiasi; (8) Allow endings. Semua akan berakhir. Persiapkan sebuah akhir yang menginspirasi, sebuah ending yang menjadi ‘buah-tutur’ yang baik bagi generasi penerus; (9)  fail openly. Gagal menyadari bahwa manusia bisa gagal, adalah sebuah kegagalan. Jika kelak nanti kegagalan menghampiri, terimalah dengan lapang dada. Petik pelajaran (hikmah, wisdom) untuk melompat lebih tinggi; dan (10)  have an amazing haircut. Perhatikan penampilan Anda. Penampilan yang menarik adalah sebuah keuntungan. Jelas, kesepuluh serpihan etika itu akan sangat membantu tidak hanya di dunia digital, namun juga di dunia nyata.

  Memegang erat etika digital tidak berarti boleh menafikan etika dunia nyata. Dunia digital memanglah legit dan bisa membuat citra-diri melangit. Hingga tak jarang, keasyikan di dunia digital mengerdilkan aspek kemanusiaan. Fenomena phubbing adalah contoh betapa manusia modern kerap ‘sendiri’ saat bersama dan sering bersama dalam ‘kesendirian’ karena ‘larut-tenggelam’ dalam dunia mayanya masing-masing. Mereka yang masih main hape ketika rapat, melakukan phubbing. Yang terlihat bermain hape saat upacara sakral seperti wisuda, juga melakukan phubbing. Yang merespon percakapan dengan wajah dan mata menatap layar hape, alih-alih ke lawan bicaranya, juga mempraktikkan phubbing. Boleh jadi, phubbing itu adalah ‘hak’ setiap individu. Namun dalam banyak hal, phubbing  bisa merusak komunikasi sosial di dunia nyata.  

Tetapi, phubbing itu memang mengasyikkan. Membayangkan diri sedang menghadiri rapat disambi menikmati foto-diri saat bertugas di Raja Ampat itu menyenangkan; membayangkan diri sedang menghadiri ceramah keagamaan disambi chatting dengan group alumni SMA, itu mungkin multitasking; membayangkan diri sedang menguji skripsi seraya sesekali mengecek klasemen Liga Inggris, itu menghibur; membayangkan tiba-tiba Jack Dorsey si penemu Twitter itu tiba-tiba berdiri di depan saya, itu sesuatu yang lain.

Mungkin Jack Dorsey akan berkata: Don’t be a jerk! Enjoy the moment! Mungkin pimpinan rapat, ustad-penceramah, dan mahasiswa akan berucap: Stop phubbing please!

 

*Sebagian besar dari tulisan ini adalah materi yang disampaikan pada kegiatan Webinar Kominfo, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung pada 22 September 2021.


 

Berita Lainnya

Masukkan Komentar

F4YLA

Total Komentar (0)


Halaman :
Facebook Pages
 
Twitter