• Telp : 0725-47297, 41507
  • Fax : 0725-47296
  • Email : iainmetro@metrouniv.ac.id
Diposting oleh Tgl 08-05-2021 & wkt 01:13:27 dibaca Sebanyak 264 Kali

Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Program Pascasarjana IAIN Metro) 

Mudik untuk pulang kampung atau pulang di tanah kelahiran adalah “ritual” yang selalu kita temui setiap tahun menjelang hari raya idul fitri. Di saat mudik seperti inilah masyarakat kita disibukkan dengan segala persiapan pulang kampung tersebut. Pemerintah sibuk menyiapkan infrastruktur jalan dan transportasi untuk memperlancar perjalanan para pemudik dan aparat keamanan disibukkan pula untuk melaksanakan operasi ketupat dan pengamanan lalu lintas. Semua dilakukan agar “ritual” pulang kampung masyarakat berjalan lancar, aman sentosa sampai  tujuan dengan selamat.

Lebaran tahun ini agak berbeda dengan lebaran-lebaran sebelumnya. Pasalnya pemerintah melarang masyarakat untuk mudik demi pencegahan penularan covid-19. Sejak tanggal 6 Mei hingga 17 Mei 2020 semua aktivitas mudik dilarang. Jalur-jalur mudik diberikan sekat dan dicegat, kalau tidak memenuhi persyaratan yang diperbolehkan, aparat akan menyuruh putar balik. Tentu hal ini harus dipahami oleh semua pihak karena pandemic covid-19 belum berakhir dan berdasar pengalaman yang sudah, kegiatan-kegiatan kerumunan yang disebabkan oleh kegiatan keagamaan berpotensi menyumbang penularan covid-19. Pemerintah belajar dari negara India yang mengalami Tsunami gelombang kedua covid-19 pasca pelonggaran kegiatan keagamaan di sana.

Walhasil, intinya mudik tahun ini dilarang. Namun demikian masih ada saja yang berusaha kucing-kucingan dengan aparat dan satgas covid-19. Beberapa hal dilakukan, diantaranya dilakukan dengan cara mencuri start mudik terlebih dahulu sebelum masa pelarangan. Ada yang memaksa mudik dengan melewati jalan tikus. Belakangan ada yang demi bisa mudik berusaha mengelabui aparat yaitu mudik dengan menggunakan mobil box sayuran, ada yang masuk  dalam container, memakai mobil ambulans, naik bajai, dan macam-macam cara dilakukan supaya tetap bisa mudik.

Fenomena mudik menjelang lebaran ini selalu menarik untuk dicermati. Bayangkan, jutaan orang secara bersama-sama dan bergelombang dengan berbagai macam alat transportasi meninggalkan kota-kota besar tempat mereka tinggal dan mencari nafkah untuk bisa berkumpul bersama keluarga. Demi untuk perjuangan ini tidak jarang ada diantara mereka yang tidak sampai ke kampung halamannya karena mengalami kecelakaan dan meninggal di jalan. Namun itu tidak menyurutkan yang lain, perjuangan menuju kampung halaman tetap dilaksanakan, tidak bisa tidak, karena ini hanya setahun sekali. Begitu kata mereka.

 

Mengumpulkan “Balung Pisah”

 

Dalam masyarakat Indonesia nilai-nilai kekerabatan dan kekeluargaan memang sangat dipegang teguh. Kohesi sosial dan rasa persatuan dibangun dari nilai kekerabatan dan kekeluargaan ini. Karena itu rasa persaudaraan itu harus tetap dipupuk dan diuri-uri (bahasa jawa) agar tetap lestari dan diwariskan kepada generasi anak cucu di kemudian hari. Masing-masing suku bangsa mengenalkan silsilah keluarga mereka kepada anak cucunya  agar supaya anak cucu itu mengetahui dari mana mereka  berasal dan mengenal siapa-siapa saudara dekat baik dari jalur ibu maupun dari jalur ayah.

Dalam falsafah Jawa usaha tersebut disebut dengan istilah ngumpulke balung pisah yang makna harfiahnya kurang lebih mengumpulkan tulang yang berserakan. Sementara makna terminologinya adalah mengumpulkan kembali kerabat yang sudah saling terpencar agar bisa saling mengenal dan saling mengetahui sebagai bagian dari keluarga besar. Bagi generasi yang sudah tua dan dewasa mungkin mereka sudah saling tahu dan mengenal kerabat mereka, namun tidak bagi anak-anak dan cucu meraka yang lahir kemudian. Anak-anak ini belum tentu mengenal keluarga besar mereka, maka para orang tua merasa punya tanggungjawab untuk mengenalkan anak cucunya itu kepada sanak kerabat atau keluarga besarnya. Hal ini dilakukan supaya sebagai bagian dari keluarga besar yang sudah beranak pinak  setiap anggota keluarga baru bisa mengenal silsilah keluarga  besarnya. Hanya pada moment lebaran, sanak saudara yang sudah terpencar dimana-mana itu bisa berkumpul dan bertemu. Ini adalah moment reuni keluarga yang harus dirayakan dan dimanfaatkan. Karena setelah itu semua akan kembali lagi terpencar ke habitat tempat tinggalnya masing-masing. Dengan semangat ngumpulke balung pisah itu, maka mudik pada saat hari raya bisa tidak bisa harus diusahakan, kecuali ada alasan-alasan tertentu.

 

Kontestasi Status Sosial

 

Mudik tentu hanya dialami bagi mereka yang tinggal di rantau, terutama mereka yang mengalami proses urbanisasi. Ketika kampung tidak bisa menyediakan dan menjanjikan peluang kerja dan kesejahteraan secara ekonomi, maka banyak orang kampung yang merantau ke kota-kota besar sebagai pusat ekonomi. Tujuannya sama yaitu mencari pekerjaan dan memperbaiki kesejahteraan keluarga yang ditinggal di kampung. Kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Makasar tentu menjadi tujuan bagi orang-orang kampung ini. Mereka bekerja apa saja sesuai dengan pendidikan dan keterampilannya. Setelah tinggal dan menetap di pusat-pusat ekonomi selama beberapa tahun, diantara mereka ada yang berhasil menaikkan taraf ekonomi,  namun ada juga yang gagal. Namun baik yang gagal, lebih-lebih yang berhasil di kota, kerinduan akan kampung halaman setiap saat memanggil-manggil. Hari raya adalah saat yang tepat untuk memenuhi panggilan itu. Kali ini bukan sekedar untuk mengobati kerinduan akan kampung halaman, tetapi juga untuk menunjukkan keberhasilan yang diperoleh di kota kepada sanak keluarga dan tetangga kanan kiri.

Bagi kita yang tidak mudik, tentu tidak pernah mengalami sensasi mudik ini baik saat mempersiapkan maupun pada saat di perjalanan. Namun bagi para pemudik, jauh-jauh hari harus mempersiapkan segala sesuatunya baik dari sisi anggaran, barang yang harus di bawa, konsumsi dan akomodasi, serta moda transportasi yang akan digunakan. Apapun barang yang akan di bawa ke kampung waktu mudik sesungguhnya bukan sekedar kebutuhan tetapi juga bermakna simbolik yang menunjukkan status dan ukuran keberhasilan sebagai perantau. Jangan heran jika pada saat musim mudik lebaran terjadi peningkatan penjualan kendaraan roda empat baik yang baru maupun yang bekas. Rental-rental mobil juga mengalami peningkatan transaksi. Mobil dalam kaitan ini menjadi simbol yang mudah dikenali untuk menunjukkan status pemiliknya atau pengendaranya dan tentu saja barang-barang lainnya seperti Hand Phone, pakaian, dan lain-lain. Di kampung barang-barang yang menjadi simbol ini diparkir, dipajang dan dipakai sebagai pembuktian kerberhasilan sebagai perantau. Sebab itu, di kampung saat hari raya terjadi fenomena kontenstasi status sosial.

 

Mudik Spritual

 

Memahami fenomena mudik lebaran  sebagaimana yang terjadi setiap tahun dalam masyarakat kita sebagaimana di atas, sesungguhnya dapat direfleksikan secara spiritual. Pada dasarnya setiap manusia memiliki kesadaran dan orientasi tentang asal usul darimana ia lahir dan akan kemana pada akhirnya. Secara duniawai  kerinduan akan kampung halaman dan asal usul tanah kelahiran serta keinginan untuk napak tilas perjalan hidup adalah kesadaran tersembunyi yang dimiliki oleh semua manusia.

Sebagai orang yang beragama, secara ukhrawi manusia juga memiliki kesadaran bahwa kehidupan ini termasuk dirinya sendiri tidak akan pernah langgeng. Semua mengalami kefanaan dan akan mengalami akhir. Keimanan kita mengajarkan bahwa semua manusia pada akhirnya akan juga “mudik” ke kampung yang abadi yaitu kampung akhirat. Alqur’an menggambarkan hal ini:

 

وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا لَعِبٞ وَلَهۡوٞۖ وَلَلدَّارُ ٱلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ 

 “Dunia ini hanya main-main dan senda gurau belaka, dan kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, maka tidaklah kamu memahaminya”. (QS.Al-An’am: 32). “

 

وَمَا هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا لَهۡوٞ وَلَعِبٞۚ وَإِنَّ ٱلدَّارَ ٱلۡأٓخِرَةَ لَهِيَ ٱلۡحَيَوَانُۚ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ 

Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui” (QS.Al-Ankabut:64).

 

وَٱلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ وَأَبۡقَىٰٓ 

Dan kampung akhirat itu lebih baik dan kekal selamanya” (QS. Al’la : 17).

 

Pelajaran mudik lebaran mengajarkan kepada kita bahwa bagi kita yang memiliki tradisi mudik pulang kampung maupun yang tidak pada akhirnya semua akan mudik juga ke kampung yang sesungguhnya. Mau tidak mau, suka atau tidak kita pasti akan menuju kampung tersebut, kampung itu adalah kampung akhirat. Itulah kampung akhir dari perjalanan manusia. Untuk “mudik” ke kampung akhirat itu tentu banyak bekal yang harus kita siapkan. Jika mudik lebaran, pemudik membawa bekal barang-barang yang akan dibutuhkan selama di kampung, maka kalau kita mudik ke kampung akhirat bekal kita adalah segala amal shaleh yang pernah kita lakukan di dunia. Di sana tidak ada kontenstasi status sosial dan status ekonomi, tetapi yang ada adalah konstenstasi amal kebaikan. Siapa yang banyak membawa amal baik maka akan dimuliakan di kampung akhirat dan siapa yang minim bekal kebaikan, maka akan dihinakan di kampung akhirat. 

Berita Lainnya

Masukkan Komentar

dKYoX

Total Komentar (0)


Halaman :
Facebook Pages
 
Twitter
 
Jajak Pendapat
Polling Management
Apakah Web ini sudah memberiakan informasi yang anda butuhkan?
2607(68.0%)
TOTAL 3832
Statistik
Online : 3 Users
Hits : 3568669
Hari Ini : 1232
Bulan Ini : 29849
Tahun Ini : 272999
Total : 1500750