• Telp : 0725-47297, 41507
  • Fax : 0725-47296
  • Email : iainmetro@metrouniv.ac.id
Diposting oleh Tgl 17-05-2021 & wkt 06:58:49 dibaca Sebanyak 216 Kali

Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Program Pascasarjana IAIN Metro) 

Mumpung masih dalam suasana Idul Fitri atau bulan Syawal 1442 H, rasanya perlu menulis soal kupat dan lepat. Kupat adalah sejenis makanan dari beras yang dipadatkan di dalam sebuah wadah berbentuk segi empat yang terbuat dari janur (janur = daun kelapa muda). Cara membuatnya : ambil janur lalu dianyam segi empat kemudian diisi beras yang sudah dibasahi lalu dimasak dengan cara direbus atau dikukus. Perlu waktu agak lama untuk memasaknya supaya matang dengan sempurna dan bertekstur kenyal padat. Kupat dimakan sebagai pengganti nasi. Semetara lepat atau lebih tepatnya sering disebut lepet (jawa) atau leupeut (sunda)  adalah makanan yang berbahan dasar beras ketan dan dimasak dalam santan, kemudian dibungkus dengan daun janur dengan cara seperti diulir melingkar sehingga bentuknya lonjong memanjang. Kita perlu bangga karena kupat dan lepat adalah bagian khazanah genuine kuliner nusantara.

Pada saat idul fitri seperti sekarang ini kupat boleh dikatakan makanan paling populer di hampir semua meja makan muslim Indonesia. Kupat mengalahkan khong guan dan kue-kue lain selama idul fitri. Kupat sebagai pengganti nasi dimakan dengan cara dicampur kuah opor dan bisa juga  dicampur dengan rebusan daun dan sambal pecel. Rasanya maknyuss.. Disamping disediakan sebagai hidangan idul fitri, kupat juga digunakan sebagai penanda berakhirnya perayaan idul fitri yaitu setelah tujuh hari di bulan syawal, Hari ketujuh bulan syawal itu sering disebut lebaran ketupat, yaitu lebaran untuk merayakan berakhirnya puasa Sunnah enam hari di bulan syawal. Pada Lebaran ketupat itu, ketupat dan didampingi sayur kuah saling dipertukarkan dengan tetangga kanan kiri. Intinya saling memberi dengan barter ketupat. Dengan lebaran ketupat, maka berakhir pula perayaan idul fitri dan tiba masanya semua orang mulai beraktivitas kembali seperti sediakala. Yang ke sawah kembali ke sawah, yang berkebun kembali berkebun, yang nelayan kembali berlayar, dan yang pekerja kantoran kembali ke kantor, serta yang menganggur kembali berfikir bagaimana caranya mendapat pekerjaan.

Cerita di atas pengalaman penulis di masa kecil hingga remaja. Setelah itu tradisi ini semakin lama semakin pudar kalah dengan hingar bingar sosial media, simulakra dan budaya instan. Eits..jangan salah, masih ada yang mempertahankannya. Akan tetapi jumlahnya tidak seberapa dan kurvanya semakin menurun. Penulis sendiri yang diwarisi budaya ini, sudah lama tidak melakukannya, walaupun kupatnya masih selalu ada di meja. Kupatnya masih ada di meja waktu idul fitri, tetapi lebaran kupatnya sudah tidak ada.

Lalu kue lepatnya? Lepat umumnya tidak dibuat di awal idul fitri tetapi dihidangkan sebagai pendamping kupat pada hari ketujuh idul fitri pada saat lebaran ketupat. Kupat dan lepat disandingkan pada hari ketujuh setelah puasa sunnah enam hari di bulan syawal.

 

 

Sejarah Ketupat

 

Sejak kapan ketupat menjadi  budaya kuliner masyarakat Indonesia? Agak sukar mencari dan menelusuri referensi tentang sejarah ketupat. Namun menurut  Riza Miftah Muharam (ruangguru,com, 12/5/2021), ketupat disebut-sebut oleh seorang Sejarawan Belanda yang bernama Hermanus Johanes de Graaf. Ia memang sejarawan yang mengkhususkan diri menulis  tentang sejarah Jawa dalam tulisannya. Malay Annual.   Menurut Hermanus, ketupat yang terbuat dari beras dan dibungkus anyaman daun kelapa muda itu pertama kali muncul di tanah jawa sejak abad ke-15 pada masa pemerintahan kerajaan Demak.

Kala itu, adalah Sunan Kalijaga yang memperkenalkan ketupat pertama kali dalam rangka untuk berdakwah menyebarkan agama Islam ke tanah Jawa yang “ sulit di-Islamkan” karena masyarakat jawa sudah mempunyai sistem kepercayaan sendiri yang dikenal dengan Kejawen. Dalam menyebarkan agama Islam, Sunan Kalijaga menggunakan pendekatan budaya. Ketupat merupakan salah satu yang dipilih karena dianggap bisa dekat dengan kebudayaan masyarakat jawa saat itu. Berkat ketupat, penyebaran agama Islam akhirnya bisa diterima luas, banyak yang pada akhirnya memeluk agama Islam.

Sunan Kalijaga sebagai salah satu dari Wali Sembilan (Walisongo) yang menyebarkan agama Islam memang dikenal sebagai pendakwah yang menggunakan pendekatan budaya dalam usahanya mengenalkan agama Islam. Penetrasi damai melalui akulturasi budaya adalah pendekatan yang digunakan walisongo untuk menyebarkan agama Islam  di Indonesia, khususnya di pulau Jawa.  Pendekatan bil hikmah wal mauidhatul hasanah wajadilhum billati hiya ahsan, inilah cikal bakal penyebaran Islam. Salah satu medianya adalah kekayaan kuliner  nusantara yang bernama ketupat.

 

Makna Ketupat

 

Banyak penjelasan tentang makna tersirat dari ketupat di luar makna tersuratnya sebagai makanan pengganti nasi. Secara umum makna-makna itu dikaitkan dengan ajaran agama Islam mengenai puasa ramadhan, idul fitri dan kehidupan baru setelah menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Makna filosofis ketupas itu beredar secara turun temurun melalui budaya lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Terkadang terkesan otak atik gathuk (dicari dan dicocok-cocokan). Yang penting yang dicocokkan dan dihubung-hubungkan mengenai kebaikan-kebaikan.

Ketupat secara bahasa adalah singkatan dari mengaku lepat (mengaku salah). Adalah kesadaran diri pada semua orang bahwa dirinya penuh dengan dosa, kesalahan dan kekhilafan, Sebab itu sudah sepantasnya mengakuinya dan meminta maaf atas dosa dan kesalahan itu. Ketupat yang selalu hadir di saat idul fitri itu secara simbolik bermakna kesadaran pada semua orang yang beriman yang telah sekesai melaksanakan ibadah puasa untuk menyadari kesalahan dan dimanifestasikan dalam bentuk meminta ampunan kepada Allah SWT dan meminta maaf kepada semua orang.

Pada saat idul fitri hampir semua orang membuka diri dan hatinya untuk menyampaikan permohonan maaf lahir dan batin atas semua kesalahan yang telah dilakukan. Permintaan maaf itu dilakukan dari yang muda ke yang tua, dari yang tua ke yang muda atau juga kepada yang sebaya. Tidak ada lagi sekat tua muda dan strata sosial , semua lebur dalam saling memaafkan. Kosong-kosong katanya. Sikap saling mengaku salah ini penting dalam membangun hubungan dan relasi sosial. Betapa banyak suami istri yang bercerai karena masing-masing merasa benar dan tidak ada yang mengaku salah. Ada yang pecah kongsi setelah bersekutu dan berkoalisi karena semua merasa benar dan tidak ada yang merasa salah. Hubungan antara masyarakat dan pemerintah terkadang mengalami ketegangan karena semua merasa benar memperjuangkan masyarakat, namun tidak ada yang kesatria mengakui kesalahannya. Ketupat dan idul fitri memberikan pesan kepada kita semua agar dalam hidup ini harus berani mengakui kesalahan dan dengan rela hati meminta maaf dan memberi maaf.

Sikap tidak mau mengakui kesalahan dan membela diri atau membenarkan terhadap kesalahan yang dilakukan hanya akan menimbulkan kehinaan bagi diri. Ibnu Taimiyyah mengatakan hendaklah seseorang  mengetahui bahwa tidaklah seseorang membalas untuk membela jiwanya kecuali hal itu akan menimbulkan kehinaan pada dirinya. Rasulullah SAW bersabda “ Tidaklah seseorang memaafkan kecuali Allah akan menambah kemuliannya” (HR.Muslim). Tagarnya #Berani salah dan memberi maaf.hebat#.

Bentuk persegi empat dari ketupat digambarkan sebagai empat penjuru yang melambangkan empat tindakan yaitu Lebaran, Luberan, Leburan dan Laburan.

Pertama, Lebaran dari kata lebar (dibaca dengan e pepet) berarti suatu tindakan yang berarti telah selesai. Maksudnya adalah telah selesai menjalankan ibadah puasa dan ibadah-iabadah lainnya selama satu bulan penuh di bulan ramadhan dan sudah saatnya diperbolehkan berbuka  untuk menikmati makanan dan hal-hal lainnya yang selama puasa dilarang untuk dilakukan.

Kedua, Luberan berarti meluber, yang menggambarkan sikap senantiasa suka bersedekah dengan ikhlas bagaikan air yang melimpah dan meluber dari wadahnya. Madrasah Ramadhan yang mengajarkan untuk banyak bersedekah dan berinfak hendaknya senantiasa terpatri dan menjadi kebiasaan di bulan-bulan berikutnya di luar Ramadhan. Karena itu tradisi membagikan sedekah dan makanan di hari raya idul fitri menjadi kebiasaan masyarakat Islam Indonesia. Rezeki kita adalah rezeki yang meluber kepada yang lain yang membutuhkan.

Ketiga, Leburan yang berarti lebur atau habis. Maksudnya adalah agar saling memaafkan dosa-dosa yang telah dilakukan, sehingga segala kesalahan yang telah dilakukan bisa dimaafkan sehingga bersih tidak tersisa. Tidak ada lagi permusuhan dan dendam karena semua sudah dilebur dan dikubur dalam-dalam.  Itulah mengapa masyarakat kita memiliki tradisi silaturahmi ke tetangga dan kerabat dari rumah ke rumah untuk bermaaf-maafan. Tujuanya melebur kesalahan dan dosa.

Keempat, Laburan yang berarti bersih putih. Ini dari kata labur atau kapur. Makna simboliknya berharap setelah leburan akan senantiasa terjaga kebersihan hati dan akhirnya menjadi suci seperti bayi yang baru dilahirkan. Manusia dituntut agar senantiasa menjaga perilaku (taat lahir) dan hatinya  (taat batin) dan jangan sekali-kali mengotori hati yang telah suci bersih.

Ketupat yang terbuat dari daun kelapa muda yang disebut dengan janur. Janur berasal dari kata Jaa-a Nur yang berarti telah datang cahaya. Maknanya adalah bahwa orang-orang beriman setelah melaksanakan ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan penuh maka dirinya akan bersih dan suci serta siap mengarungi kehidupan baru dengan penuh kebaikan dan keikhlasan atas petunjuk Allah SWT. Inilah cahaya baru bagi orang-orang yang beriman. Hidupnya diliputi cahaya dan petunjuk Allah (nur) dengan harapan dapat mengarungi kehidupan yang lebih baik lagi di masa-masa mendatang di sisa-sisa umurnya. Wallahu a’lam bishawab. 

Berita Lainnya

Masukkan Komentar

2cGsn

Total Komentar (0)


Halaman :
Facebook Pages
 
Twitter
 
Jajak Pendapat
Polling Management
Apakah Web ini sudah memberiakan informasi yang anda butuhkan?
2607(68.0%)
TOTAL 3832
Statistik
Online : 3 Users
Hits : 3568745
Hari Ini : 1299
Bulan Ini : 29916
Tahun Ini : 273066
Total : 1500817