• Telp : 0725-47297, 41507
  • Fax : 0725-47296
  • Email : iainmetro@metrouniv.ac.id
Diposting oleh Tgl 03-09-2021 & wkt 07:47:52 dibaca Sebanyak 375 Kali

metrouniv.ac.id - Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur PascasarjanaIAIN Metro)

 

Ini soal pengalaman pribadi. Kebetulan penulis tinggal dekat sebuah musholla kecil. Tidak terlalu dekat  sebenarnya. Jangan dibayangkan dekatnya hanya berjarak satu lima meter dari rumah atau berbatasan dengan musholla. Kurang lebih seratus lima puluhan meter dari rumah. Dulu musholla ini kurang terawat atau lebih tepatnya belum ada yang mau mengurusi. Maklum mengurusi musholla tentu tidak mudah. Kalau hanya mengurusi kebersihannya semua kita bisa, tetapi jika mengurusi musholla itu sampai dengan menghidupkan musholla agar ada aktivitas keagamaan seperti shalat berjamaah, pengajian, shalat tarawih, dan lain sebagainya tidak semua orang bisa dan mau. Harus sedikit banyak punya ilmu agama dan yang lebih penting tanggungjawab moralnya besar, karena pengurus tempat ibadah juga harus jadi teladan dan contoh dalam perilaku dan moral.

Singkat cerita, karena melihat sebuah tempat ibadah kurang terurus, rasanya  sebagai muslim malu jika tinggal dekat musholla tetapi mushollanya tidak terurus. Jadilah kemudian penulis tergerak untuk mengurusinya. Sebuah musholla kecil minimal ada aktivitas shalat jamaah dan shalat Tarawih. Dua hal utama itu harus dilakukan. Bersyukur, dalam beberapa tahun ini, dua kegiatan ibadah itu berjalan. Kuncinya sederhana. Jika sebuah tempat ibadah mau ada aktivitas shalat jamaah, maka harus ada tukang adzan atau muadzin yang setiap masuk waktu shalat mengumandangkan adzan, memanggil orang untuk shalat jamaah. Jika adzan dikumandangkan di musholla maka dipastikan ada orang yang mau ke musholla, minimal satu atau dua orang. Namun jika tidak ada muadzin yang adzan maka jangan berharap ada jamaah yang datang.

Justru disitulah persoalannya, penulis tidak selalu ada di rumah pada jam-jam masuk waktu shalat sehingga tidak selalu bisa menjadi muadzin. Terkadang ada satu dua jamaah yang mau menjadi muadzin, namu sering tidak ajegnya. Musholla jadinya terkadang ada adzan dan terkadang tidak ada adzan. Tidak ada adzan artinya tidak ada shalat jamaah di musholla. Ada adzan pun, namun jika tidak ajeg dan kontinu ternyata membuat jamaah jadi enggan ke musholla.

Pelajaran yang dapat dipetik dari pengalaman ini adalah : Pertama, memiliki muadzin tetap di rumah ibadah seperti musholla, lebih-lebih masjid adalah kunci hidupnya tempat ibadah. Maka kita perlu berterimakasih kepada para marbot yang tinggal dan menunggui masjid dan senantiasa mengumandangkan adzan, memanggil orang untuk shalat pada setiap masuk waktu shalat lima waktu. Karena atas jasa merekalah, masjid dan musholla menjadi makmur. Masjid-masjid yang memiliki dana rutin dan tetap tidak ada salahnya menggaji seorang marbot untuk mengurusi kebersihan dan sarana masjid sekaligus mejaga aktivitas keagamaan tetap berjalan.

Pelajaran kedua, ternyata tidak mudah mencari orang yang mau dan bersedia berkhidmat khusus menjadi muadzin. Di masjid yang besar atau punya dana tetap mungkin tidak ada kendala muadzin, namun di musholla yang kecil dengan kesadaran keagamaan jamaah sekitar yang rendah serta keterbatasan ilmu agama, mencari seorang muadzin yang mau mengumandangkan adzan pada setiap waktu shalat ternyata tidaklah mudah. Tidak semua orang bisa dan yang lebih penting lagi tidak semua orang mau. Ada yang sedikit bisa dan mau seperti penulis ini, namun tidak bisa rutin dan ajeg, banyak tidak bisanya, juga tidak banyak membantu menghidupkan jamaah.

Pelajaran ketiga, setiap usaha untuk menghidupkan jamaah membutuhkan kesungguhan dan kontinuitas. Usaha yang terus menerus dan berkelanjutan. Tidak boleh anginan-anginan, kadang ada kadang tidak, kadang semangat kadang berhenti. Akhirnya seperti musholla dekat rumah saya, terkadang ada muadzin terkadang tidak ada, akibatnya jamaahnya juga angina-anginan. Rupanya jamaah itu membutuhkan kepastian dan keberlanjutan. Mereka, para jamaah itu butuh kepastian bahwa setiap waktu shalat ada panggilan adzan dan dengan panggilan adzan itu dipastikan ada shalat jamaah.

 

Adzan dalam  Sirah Nabi

 

Dahulu di zaman Nabi sallallahu alaihi wassallam, Rasulullah menunjuk sahabat Bilal bin Raba’ah sebagai muadzin tetap. Tugas Bilal  mengumandangkan adzan pada setiap masuk waktu shalat fardhu. Hal itu yang menyebabkan sampai sekarang seorang muadzin itu terkadang disebut juga dengan sebutan seorang Bilal. Sahabat Bilal bin Raba’ah dipilih karena dinilai memiliki suara yang bagus dan memiliki napas yang panjang.

Di zaman Nabi, sebelum ada ketentuan adzan, ketika umat Islam semakin banyak dan memiliki berbagai kesibukan muncul persoalan tentang bagaimana cara memberitahu kaum muslimin bahwa waktu shalat sudah masuk. Sekaligus memberitahu supaya mereka datang ke masjid untuk shalat berjamaah. Lalu muncul usul dari para sahabat agar pemberitahuan waktu shalat dilakukan dengan cara membunyikan terompet seperti kebiasaan kaum Yahudi. Ada yang mengusulkan dengan cara membunyikan lonceng sebagaimana kaum Kristen Nasrani. Sebagian lagi mengusulkan memberitahunya dengan cara naik di atas bukit yang tinggi agar bisa terdengar dan terlihat. Namun dari sekian banyak usul itu, belum ada yang sreg dan bisa diterima oleh Nabi SAW.

Hingga pada suatu saat Abdullah bin Zaid bin Abi Rabbih, sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Darda, Ibnu Majah, Ibnu Hizaimah dan Tirmidzi, menyampaikan perihal tata cara adzan. Riwayat ini sebagaimana dinukil oleh Sayid Sabiq dalam Kitab Fikih Sunnah (1973: 263-264). Dalam riwayat itu Abdullah bin Zaid bin Rabbih menyatakan bahwa tatkala Rasulullah menyuruh menyediakan lonceng untuk dipukul guna menghimpun orang-orang untuk shalat, sementara Beliu sebenarnya tidak suka karena sama dengan orang-orang Nasrani – tiba-tiba waktu tidur Abdullah bin Zaid bermimpi dikelilingi oleh seorang laki-laki yang membawa sebuah lonceng di tangannya.

Maka Abdullah bin Zaid berkata kepada laki-laki itu, apakah dia bersedia menjual lonceng itu kepadanya. Laki-laki itu menjawab apa gunanya lonceng itu buat anda. Buat memanggil orang untuk shalat kata Abdullah bin Zaid. Laki-laki itu kemudian berkata lagi, maukah aku tunjukkan cara memanggil orang shalat yang lebih baik dari memukul lonceng. Baiklah, kata Abdullah bin Zaid. Maka kemudin laki-laki itu mengucapkan kalimat-kalimat sebagaimana yang orang lantunkan ketika adzan hingga yang sekarang ini. Yaitu kalimat-kalimat yang berisi takbir, syahadat, seruan untuk shalat dan bacaan tahlil. Laki-laki itu juga mengajarkan tentang bacaan-bacaan iqomah sebagai tanda shalat hendak didirikan.

Tatkala hari telah pagi, Abdullah bin Zaid pun datang menemui Rasulullah dan menceritakan mimpi yang dialaminya. Maka Rasulullah saw menyatakan: “Insya Allah sesungguhnya itu adalah mimpi yang benar. Berdirilah dengan Bilal dan ajarkanlah kepadanya apa yang kau dengar itu supaya diserukannya, karena suaranya lebih baik dan lebih lantang daripada suaramu”.

Ketika Bilal mengumandangkan suara adzan dengan bacaan yang diajarkan Abdullah bin Zaid, suara itu kedengaran oleh Umar bin Khatab yang sedang berada di rumahnya. Ia pun keluar dan berkata: “Demi Allah yang telah mengutus Engkau dengan kebenaran, saya juga bermimpi sebagaimana yang Engkau impikan!”. Rasulullah bersabda: “Maka bagi Allah segala puji”.

Demikianlah riwayat awal mula adzan dan bacaannya dikumandangkan. Hingga saat ini kita senantiasa mendengarkan suara adzan itu dari masjid dan mushalla di saat-saat masuk waktu shalat. Suara adzan itu bersahut-sahutan dan berkumandang tidak pernah berhenti dan sambung menyambung terus menerus. Menurut para ahli ilmu alam, karena bumi kita berbentuk bulat dan mengakibatkan adanya perbedaan waktu antara satu wilayah dengan wilayah lainnya, maka masuknya waktu shalat bisa bergantian dan sambung menyambung tidak berhenti terus menerus. Jika satu wikayah mengumandangkan adzan, begitu selesai maka akan disambung oleh wilayah lainnya, begitu seterusnya hingga akhir zaman. Dengan syarat masih ada orang yang mendirikan shalat lima waktu dan masih ada muadzin yang mengumandangkan adzan. Semoga Allah senantiasa memberikan rahmat dan barokah kepada para Muadzin. Wallahu a’lam bishawab. (mh.03.09.21)

 

Berita Lainnya

Masukkan Komentar

AzyKw

Total Komentar (0)


Halaman :
Facebook Pages
 
Twitter