• Telp : 0725-47297, 41507
  • Fax : 0725-47296
  • Email : iainmetro@metrouniv.ac.id
Diposting oleh Tgl 17-07-2021 & wkt 04:51:19 dibaca Sebanyak 194 Kali

metrouniv.ac.id - Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro)

Pendemi Covid-19 sudah berjalan kurang satu setengah  tahun dan belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir dalam waktu dekat ini. Berdasarkan pengalaman sejarah pandemi di dunia dan berdasarakan perkiraan para ahli epidemologi, pandemi memang tidak bisa diselesaikan dengan waktu singkat, perlu waktu antara tiga hingga empat tahun untuk menuntaskan peristiwa pagebluk ini.  Tentu kita tidak berhenti berdoa semoga pandemi covid-19 ini akan berakhir lebih cepat dari perkiraan para epidemolog. Dalam waktu dekat atau setidaknya tahun depan harapannya sudah berakhir.

Sebagai orang yang beriman, maka peristiwa apapun yang kita alami di dunia harus selalu direfleksikan secara spiritual sebagai ketentuan dari Allah SWT. Tidak ada satupun peristiwa di dunia ini baik berupa peristiwa yang menggembirakan maupun peristiwa yang tidak mengenakkan yang tidak berada dalam rencana dan ketentuan Allah SWT. Lebih-lebih peristiwa bencana, seperti covid-19 ini,  banyak pesan, hikmah dan nasehat yang bisa dipetik bagi kehidupan kita selaku individu maupun sebagai bagian dari masyarakat.  Agama Islam mengajarkan bahwa semua yang dialami manusia merupakan cobaan dari Allah SWT untuk menguji tingkat kesabaran manusia. Dalam Alqur’an surat Al-Baqarah (2) ayat 155 Allah SWT berfirman :

 

وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَيۡءٖ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ 

 

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (QS.Al-Baqarah (2) : 155).

 

Persis seperti yang diingatkan Allah kepada kita bahwa cobaan yang berupa wabah pandemi covid-19  ini membuat manusia mengalami ketakutan dan kekhawatiran kalau-kalau dapat menulari diri dan keluarga serta orang-orang terdekat. Pandemi juga telah menimbulkan kekurangan bahan makanan bagi sebagian besar orang karena banyak diantara mereka kehilangan pekerjaan, kehilangan penghasilan dan tumbangnya sistem produksi dan sumber-sumber ekonomi. Diantara kita yang memiliki penghasilan tetap dan sumber pemasukan yang banyak mungkin tidak begitu berpengaruh, namun bagi yang selama ini mengandalkan dari usaha dan jasa harian  boleh jadi sekarang mereka mengalami himpitan eknomi yang luar biasa dan sebagian lagi mungkin sudah pada tingkat kelaparan. Pandemi ini juga telah menghilangkan banyak nyawa saudara kita, teman-teman dekat, orang-orang hebat dan terkenal, para umara, ulama, artis dan banyak lagi yang lainnya. Dalam beberapa hari ini isi berita di televisi dan sosial media berseliweran berita tentang kematian saudara-saudara kita itu tanpa berhenti.

Semua itu  dinyatakan oleh Allah SWT sebagai cobaan hidup bagi manusia. Diantara segala cobaan itu, maka Allah berikan apresiasi, penghormatan dan kegembiraan bagi siapapun yang bisa  bersabar. Bencana, dengan demikian dimaksudkan oleh Allah SWT untuk menguji kesabaran manusia. Siapa yang diuji kesabarannya? Jawabnya, mereka orang-orang yang beriman. Allah berfirman dalam kalam-Nya yang mulia bahwa jika seseorang mengaku beriman, ia tidak akan lepas dari ujian, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an surat Al-Ankabut (29) ayat 2 :

 

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ 

 Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (saja) mengatakan “Kami telah beriman,” sementara mereka tidak diuji lagi? (QS. Al-Ankabut (29) : 2).

 

Sebagai ujian keimanan, maka lazimnya ujian ada yang lulus dan ada yang tidak lulus. Hanya Allah yang Maha Agung yang tahu siapa yang lulus ujian keimanan dan siapa yang tidak lulus ujian keimanan. Namun dari isyarat dan ajaran-ajaran-Nya parameternya bisa diketahui. Orang-orang yang sabar dan penuh keikhlasan dalam menghadapi bencana seraya ikut membantu siapapun yang kesusahan karena akibat-akibat yang ditimbulkan dari bencana serta berusaha terus ikut mengatasi bencana sesuai dengan kemampuannya, mareka itulah orang-orang yang lulus dari ujian Allah SWT. Sebaliknya mereka yang ketika tertimpa bencana malah berkeluh kesah, menyesali ketentuan Allah, mengingkari bahwa wabah adalah konspirasi bahkan memprovokasi dan melemahkan upaya-upaya menolong dan menyelesaikan bencana, boleh jadi mereka itu adalah orang-orang yang tidak lulus dalam ujian.   Wallahu a’lam bishawab, hanya Allah sebaik-baik hakim yang menilai dan memutuskan.

 

Mengikis Sikap Takabur

 

Semua bencana dan untuk ujian yang terjadi di muka bumi ini merupakan ketentuan Allah SWT untuk menunjukkan kepada kita kebesaran-Nya dan supaya manusia tidak merasa angkuh dan sombong karena dengan musibah itu manusia menjadi tidak ada artinya dihadapan Allah SWT. Dalam Surat Al-Hadid (57) ayat 22 Allah SWT berfirman :

 

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِيٓ أَنفُسِكُمۡ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مِّن قَبۡلِ أَن نَّبۡرَأَهَآۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ 

Tiada suatu bencanapun yang menimpa  di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis di dalam kitab (Lauhul Mahfudz)  sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah (QS. Al-Hadid : 22).

 

Bukan sebagai sesuatu yang kebetulan jika bencana non alam seperti wabah covid-19 ini terjadi di saat manusia membanggakan beberapa temuannya yang dinilai spektakuler. Kebanggan tentang era digital, era industri 4,0, serta perkembangan teknologi Artificial Intteligent (AI) yang dinilai bisa mengubah dan menyelesaikan semua persoalan manusia. Temuan di bidang robotik yang dimasa depan bisa menggantikan kerja manusia, kendaraan autonom, teknologi ruang angkasa, perekonomian digital, dan lain sebagainya, telah menjadikan manusia seolah-olah bisa menggantikan posisi Tuhan. Manusia seolah merasa menjadi Tuhan itu sendiri. Lalu Allah uji dengan menurunkan pasukan yang tidak kelihatan karena sangking kecilnya berupa pasukanvirus yang kemudian disebut dengan virus corona. Apakah semua teknologi yang dibanggakan itu bisa mencegah kehadiran pasukan virus? Atau setidaknya menghambatnya sajalah, supaya tidak menyebar? Ternyata, tidak. Virus tetaplah virus buatan Allah SWT yang kemudian merangsek dan membunuh jutaan manusia, merepotkan milyaran manusia yang katanya hebat itu.

Ternyata manusia itu lemah, sebagaimana kodratnya. Manusia itu dari tadinya tidak ada dan suatu saat akan tiada kembali keharibaan Allah SWT. Tidak selayaknya ia menyombongkan diri atau bersikap takabur. Keagungan dan kebesaran adalah hanya milik Allah Sang Pencipta, karena itu manusia tidak selayaknya menggunakan “jubah dan pakaian” Allah SWT. Bencana berupa wabah pandemi covid-19 ini sudah cukup menjadi pelajaran bahwa dalam kehidupan ini tidak boleh ada kesombongan dalam diri kita manusia, baik kesombongan yang diakibatkan, karena harta yang dimiliki, pangkat kedudukan yang diperoleh, kemolekan dan ketampanan tubuh jasmani, ilmu pengetahuan yang didapatkan, teknologi yang ditemukan, bahkan karena ibadah yang dilakukan. Karena semua itu tidak ada artinya dihadapan Allah SWT, Yang Maha Kuasa dan Maha Agung.

 

Manusia Diuji dengan manusia lainnya

 

Sesungguhnya manusia itu diuji dengan manusia lainnya. Ujian orang tua adalah anak-anaknya demikian sebaliknya ujian anak-anak adalah orang tuanya. Ujian suami adalah istri dan ujian istri adalah suami. Ujin guru adalah murid-muridnya dan ujian murid adalah para gurunya. Ujian pemimpin adalah rakyatnya dan ujian rakyat adalah para pemimpinnya. Demikianlah kehidupan manusia itu sebenarnya saling menguji antara yang satu dengan yang lainnya. Dan lagi-lagi Allah mengingatkan bahwa segala ujian itu dalam rangka menguji kesabaran. Allah SWT berfirman :

 

وَمَآ أَرۡسَلۡنَا قَبۡلَكَ مِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ إِلَّآ إِنَّهُمۡ لَيَأۡكُلُونَ ٱلطَّعَامَ وَيَمۡشُونَ فِي ٱلۡأَسۡوَاقِۗ وَجَعَلۡنَا بَعۡضَكُمۡ لِبَعۡضٖ فِتۡنَةً أَتَصۡبِرُونَۗ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرٗا  

Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu (Muhammad) melainkan mereka pasti memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan Kami jadikan sebagian kamu dengan sebagian lainnya sebagai ujian, Maukah kamu bersabar? Dan adalah Tuhanmu maha Melihat. (QS. Al-Furqan (25) : 20).

 

Para guru yang menghadapi murid dengan berbagai latar belakang kemampuan sehingga tidak semuanya  mudah dididik dan diajar, maka bersabarlah karena itu ujian. Para orang tua yang kewalahan mendidik anak-anaknya, maka besabarlah karena itu ujian bagi orang tua. Para pemimpin yang sibuk dan letih melayani masyarakat, itupun terkadang masih dicaci dan dibully,  oleh orang-orang yang dipimpinya, ketahuilah itu adalah bagian dari ujian. Begitu sebaliknya, karena manusia itu berada dalam pusaran menguji dan diuji, diuji dan menguji.

Hatta, meskipun demikian, kesabaran karena ujian itu bukanlah kesabaran sebagaimana pandangan faham kaum jabbariah yaitu sabar dengan menerima secara ikhlas tanpa usaha untuk memperbaikinya. Ini bukan kesabaran seperti mayat yang diam saja meskipun dibolak balikkan. Kasabaran dalam Islam adalah kesabaran yang dinamis dan progresif. Sabar dengan senantiasa terus berusaha dengan sekuat tenaga untuk menyelesaikan segala persoalan yang dihadapi. Sebagaimana ajaran Rasulullah tentang tawakkal. Suatu saat ada seseorang meninggalkan begitu saja unta yang baru saja dikendarainya, lalu ditanya Rasulullah mengapa tidak ditambatkan, ia menjawab karena sudah ia serahkan nasib untanya kepada Allah SWT. Rasulullah kemudian mengingatkan agar unta itu diikat dulu baru kemudian  bertawakkalah kepada Allah.

Di masa pandemi covid-19 ini, ujian kita yang dalam sehat wal afiat adalah saudara-sudara kita yang terpapar dan terdampak pandemi covid-19. Tidak cukup kita bersabar tanpa melakukan apapun bagi mereka. Maka wujud kesabaran kita dalam menghadapi ujian ini adalah membantu dan menolong mereka sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Bagi kita yang memiliki kelebihan rezeki, sisihkan sebagiannya untuk mereka, yang kuat dan punya kemampuan mitigasi bencana, jadilah volunteer untuk membantu mereka. Termasuk bentuk kesabaran kita adalah menerapkan protokol kesehatan  5 M : Mencuci tangan dengan air yang mengalir, memakai masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan dan mengurangi mobilitas. Termasuk juga bentuk kesabaran kita menghadapi pandemi adalah tidak menyebarkan dan mempercayai berita-berita yang tidak benar seputar covid-19 kecuali dari para pengambil kebijakan dan pihak yang otoratatif. Ikutlah vaksin karena vaksinasi adalah usaha untuk mencegah kebinasaan jiwa yang lebih parah sebagai salah satu bentuk perwujudan dari maqasidus syari’ah yaitu melindungi jiwa manusia. (mh.15.07.21)

 

Berita Lainnya

Masukkan Komentar

6lYkC

Total Komentar (0)


Halaman :
Facebook Pages
 
Twitter
 
Jajak Pendapat
Polling Management
Apakah Web ini sudah memberiakan informasi yang anda butuhkan?
2616(67.9%)
TOTAL 3853
Statistik
Online : 1 User
Hits : 3667750
Hari Ini : 287
Bulan Ini : 3826
Tahun Ini : 339486
Total : 1567237