• Telp : 0725-47297, 41507
  • Fax : 0725-47296
  • Email : iainmetro@metrouniv.ac.id
Diposting oleh Tgl 02-09-2021 & wkt 08:02:15 dibaca Sebanyak 66 Kali

 

ORASI ILMIAH Oleh Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum (Ketua Lembaga Penjaminan Mutu IAIN Metro) Pada Kegiatan Dies Natalis Ke 54 dan Wisuda Program Pascasarjana Strata Dua (S2) dan Sarjana Strata Satu (S1) Periode I Tahun Akademik 2021/2022 

(Selasa, 31 Agustus 2021)

 

Bismillahirrohmanirrohiim,

Alhamdulillah, was sholaatu was salaamu ‘alaa Rasulillah

Wa ‘alaa aalihi wa ashhaabihi wa man waalah

A.     Hadratul Kirom para Alim Ulama

B.     Yang saya hormati:

1.  Rektor IAIN Metro

2.  Ketua dan Anggota Senat IAIN Metro

3.  Walikota Metro

4.  Para Rektor, Wakil Rektor, dan Delegasi  PTN/PTS se-Kota Metro

5.  Para Pejabat Struktural di lingkungan IAIN Metro

6.  Para kolega sejawat

7.  Para wisudawan dan wisudawati beserta keluarga besar, serta seluruh hadirin tamu undangan yang berbahagia

 

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh

 

Seorang sarjana menulis, “If you need to make an argument about an issue about which you feel very strongly, don’t use rhetoric. Tell a story instead…’  Jika Anda ingin meyakinkan seseorang tentang apa yang Anda yakini baik dan benar, gunakanlah cerita, dan jangan gunakan retorika  (Baldoni2011). Kutipan ini mengisyaratkan bahwa sebuah cerita memiliki dampak yang lebih kuat dibandingkan dengan retorika atau seni membujuk orang lain. Cerita tidak hanya lebih berdampak daripada retorika, melainkan juga lebih popular dengan kehidupan manusia sehingga cenderung lebih mudah dilakukan. Bukankah manusia menghabiskan banyak waktunya untuk bercerita (storytelling)? Bukankankah manusia menggunakan banyak waktu untuk mendengar cerita dan untuk merespon cerita? Bukankah manusia menikmati  dari kisah Ashabul KahfiSleeping Beautyhingga drama Korea (drakor) bertajuk Welcome to Waikiki? Bukankah manusia kerap membincangkan   pilunya kisah Karbala, romantisnya dongeng  Cinderella, hingga serunya drakor berjudul Hotel del Luna. Yang jelas diketahui adalah bahwa  ragam cerita yang telah disebut di atas cukup mudah diakses. Namun, yang kerap luput dari pengetahuan banyak orang adalah bahwa dengan wawasan dan keterampilan yang tepat, sebuah cerita memiliki pengaruh yang lebih dalam dibandingkan dengan kemampuan menyusun retorika dan kemampuan menyajikan data dan fakta. Lebih dari itu,  sebuah cerita dapat mempengaruhi sikap dan prilaku manusia.

 

Hadirin dan hadirat yang berbahagia,

Manusia kerap menyandarkan sikap dan prilakunya pada serangkaian prinsip yang dihasilkan dari pegalaman pribadi maupun pengalaman orang lain, atau yang dihasilkan dari pengetahuan yang disajikan orang lain maupun yang dieksplorasi sendiri melalui pembacaan dan studi mendalam. Adalah kumpulan prinsip-prinsip tersebut yang kemudian menjadi faktor utama di balik keputusan-keputusan yang dibuat oleh manusia. Ambil contoh, prinsip the right person in the right place, yang merujuk pada  pentingnya menempatkan orang yang tepat pada posisi yang tepat. Manusia yang merapkan prinsip the right person in the right place pastinya menyadari bahwa menempatkan the wrong person in the right place berarti menabur angin menuai badai.

Hari ini, ada sebuah prinsip yang semakin diminati dalam urusan penyebaran ilmu pengetahuan, bimbingan konseling, pembinaan spiritual, dan penanaman nilai. Prinsip itu adalah the right story in the right time yang bermakna bahwa sebuah cerita yang tepat yang dituturkan di waktu tepat dan kepada orang yang tepat, akan mampu memberi efek mencerdaskan, menenangkan, mencerahkan, hingga menyembuhkan bagi para pendengarnya.

Orasi ilmiah pagi ini hendak menyegarkan kembali gagasan tentang pentingnya cerita dan kegiatan bercerita (storytelling) dalam mengembangkan ragam potensi manusia dari potensi akademik, potensi spiritual, potensi kesehatan, hingga potensi kepemimpinan (leadership).

 

A.     Pendahuluan

Hadirin dan hadirat yang berbahagia,

Perkenankan penulis memulai orasi ini dengan sebuah cerita berjudul The Greek and the Chinese Artists (Kritzeck, 1964)Seniman Yunani dan Seniman Cinasebuah cerita yang membahas aspek spiritualitas yang abstrak, namun menjadi mudah dicerna karena disajikan melalui percakapan dan analogi yang konkrit.

 

Suatu hari, seorang Sultan kedatangan sekelompok seniman dari Cina dan sekelompok seniman dari Yunani. Pada satu momen, seniman Cina berkata, “Kami adalah seniman terbaik di dunia.”

Mendengar itu, seniman Yunani menimpali dalam nada datar nan santun, “Boleh saja kalian para seniman Cina mengaku sebagai yang terbaik. Tetapi kami seniman Yunani memiliki sesuatu yang tidak kalian miliki.”

Sang Sultan melihat isyarat persaingan antara seniman Cina dan seniman Yunani. Sang Sultan kemudian menengahi kedua kelompok seniman itu seraya berkata“Begini saja. Izinkan saya menguji kalian. Masing-masing kalian akan mendapat satu kamar yang pintunya saling berhadapan. Silakan berkreasi. Saya akan mempersiapkan semua kebutuhan kalian dalam berkreasi.

Para seniman Cina lalu meminta bahan pewarna yang beraneka ragam. Sementara para seniman Yunani hanya meminta kain lap dan cairan penghilang karat.

Selama beberapa hari, seniman Cina menghabiskan ratusan warna. Dari luar kamar, seniman Cina tampak begitu sibuk bekerja. Sementara itu, seniman Yunani memilih menutup pintu, bekerja dalam diam dan membersihkan setiap inci dinding kamar.

Di hari penentuan, sang Sultan takjub bukan kepalang demi melihat lukisan dinding yang dikerjakan oleh para seniman Cina. Lukisan itu penuh warna dan dikerjakan dengan sangat cermat.

Sang Sultan lalu mengetuk pintu kamar seniman Yunani. Setelah pintu dibuka, sang Sultan juga takjub melihat diding-dinding kamar yang begitu bersih dan cemerlang. Tidak sampai di situ, Sang Sultan melihat dinding-dinding kamar itu memantulkan semua keindahan gambar yang ada di kamar seniman Cina. Bahkan, pantulan gambar yang berbalur cahaya matahari pagi saat itu, tampak jauh lebih indah dan lebih hidup daripada gambar aslinya.

 

Cerita seniman Cina dan seniman Yunani menyajikan kembali beberapa nilai dan prinsip penting dalam tradisi Islam. Pertama, klaim diri sebagai yang terbaik yang dilakukan seniman Cina, tidak selalu baik.Ucapan ana khoirun minhuaku lebih baik darinya, yang diucapkan pertama kali oleh Iblis, adalah anak tangga pertama menuju arogansi atau sikap takabbur.

 Kedua, respon santun seniman Yunani terhadap klaim seniman Cina menyegarkan kembali ingatan tentang adagium Laa tahtaqir man dunaka wa likulli sain maziyah janganlah memandang sebelah mata kepada orang lain, karena orang lain itu pasti bisa melakukan sesuatu yang tidak  dapat engkau samai.

Ketiga, dalam tradisi Islam, pengetahuan sejati adalah cahaya yang dianugerahkan Allah kepada hamba-Nya yang melakukan penyucian diri (tadzkiyatun nafs, self-purification). Kain lap dan cairan pembersih karat pada seniman Yunani adalah simbol dari riyadoh atau serangkaian latihan spiritual untuk membersihkan dinding-dinding jiwa. Jiwa yang bersih dari karat hasad, rakus, tamak, iri hati, dan dengki akan mampu menerima dan memantulkan cahaya pengetahuan sejati yang berasal dari Allah. Kecuali itu, yang dilakukan oleh seniman Yunani itu adalah cerminan dari sebuah prinsip lain dalam tradisi Islam, yaitu bahwa ilmu sejati itu didapatkan melalui cara-cara spritual karena knowledge is a light and the light of Allah is not bestowed upon a sinner (Irwansyah, 2015)atau al ‘ilmu nuurun wa nuurullah la yuhdaa lil’asyi. Ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidak dianugerahkan kepada individu yang bergelimang dosa dan maksiat. Untuk mendapatkan ilmu sejati, seorang Muslim harus melatih diri untuk menjauhi dosa (Irwansyah, 2018), atau harus menggunakan kain lap riyadoh untuk membersihkan diding-dinding jiawa agar dapat memantulkan cahaya ilmu Ilahi.

 Keempat, apa yang dilakukan oleh seniman Yunani adalah pesan bahwa dalam tradisi Islam, wahyu, hadist, dan pengalaman spiritual merupakan sumber pengetahuan, sebuah jenis sumber pengetahuan yang kurang popular, untuk tidak mengatakan diabaikan, oleh tradisi pendidikan Barat.

 

B.     Selayang Pandang Storytelling

Hadirin dan hadirat yang berbahagia,

Sebuah cerita menghadirkan ragam spektrum makna, pesan, dan ibrah. Karena itu, kemampuan bercerita (storytelling) layak mendapat perhatian dan tempat tidak hanya di dalam dunia pendidikan, namun juga di dalam dunia bisnis, dunia kesehatan, dan lain sebagainya.

Storytelling adalah istilah yang merujuk pada penuturan cerita secara lisan berdasarkan  ingatan penuturnya (Agosto, 2016). Seorang ibu yang menceritakan kisah Malin Kundang, dalam bahasa yang sederhana, sebagai pengantar tidur anak-anaknya, sedang melakukan storytelling. Begitu juga dengan seorang ustad yang bercerita, dengan intonasi suara yang meninggi, tentang betapa baju gamis Nabi Yusuf a.s. dapat menyembuhkan kebutaan ayahnya, Nabi Yakub a.s. Dan betapa kisah ini menjadi inspirasi untuk melakukan tabarruk kepada individu yang dipandang suci. Pun demikian dengan  seorang dosen yang menuturkan cerita The Prayer of the Frog (lihat YouTube: shorturl.at/iCPT1) untuk memperkaya kosakata bahasa Inggris mahasiswanya. Selain bahwa storytelling mengandalkan ingatan dan kemampuan verbal penuturnya, storytelling juga dapat digunakan oleh beragam lapisan struktur sosial.

Meski storytelling tampak mudah, seorang penutur cerita perlu meningkatkan efektivitas strorytelling melalui pemilihan cerita yang tepat dan melalui teknik penyampaian yang berterima. Terkait dengan pemilihan cerita, Mcwilliams (1998) mengajukan tujuh ciri cerita yang baik: (1) memuat satu tema, (2) memiliki plot yang jelas, (3) memuat aspek stilistika yang kaya yang ditandai dengan diksi dan ritme yang menarik, (4) menyajikan penokohan yang kuat, (5) tidak jauh berbeda dari sumber asli cerita, (6) dramatis, dan (7) sesuai dengan kondisi pendengar. Irwansyah (2020) menegaskan bahwa kesesuaian cerita dengan pendengar merujuk pada kesesuain sebuah cerita dengan umur, kondisi kejiwaan, tingkat kedewasaan, kemampuan berpikir, dan kemampuan kebahasaan pendengar. Terkait dengan teknik penyampaian, Baldoni (2011) mengajukan beberapa saran: (1) menentukan pesan yang hendak disampaikan, (2) menemukan cerita yang mengandung pesan yang dimaksud, (3) menyampaikan cerita dengan alur yang jelas (strong story structure), (4) menggunakan diksi yang tepat dan menggunakan intonasi suara yang meninggi pada bagian penting cerita, dan (5) mengaitkan pesan cerita dengan fakta yang relevan.

Ada banyak ragam cerita yang dapat digunakan dalam storytelling dari sastra Islami, cerita dalam Qur’an (Qur’anic stories), dongeng, hingga pengalaman pribadi penutur ceritaPatut dicatat bahwa memang storytelling lebih mudah ditemui pada dunia pendidikan. Hamilton & Weiss (2005) menegaskan bahwa storytelling adalah teknik tertua dalam dunia pendidikan manusia. Manusia di seluruh dunia selalu menuturkan cerita untuk mentransmisikan tradisi, kebudayaan, dan sejarah kepada generasi penerus. Namun demikian, dewasa ini storytelling diyakini sebagai elemen dasar  yang turut membentuk perkembangan manuasia secara holistik. Keyakinan semacam ini menjadi penghela untuk mengeksplorasi potensi storytelling bagi dunia lain di luar dunia pendidikan.

 

C.     Ragam Manfaat  Storytelling

hadirin dan hadirat yang kami muliakan,

Meski storytelling lebih dikenal karena fungsi pendidikan yang dimilikinya, studi dan penelitian yang dilakukan pada satu dekade terakhir telah menegaskan bahwa storytelling juga memiliki ragam fungsi lain sehingga bermanfaat tidak hanya bagi guru, namun juga bagi profesi lainnya seperti psikolog dan pelaku bisnis.

Pertama, Vitz (1990) mengobservasi hubungan antara cerita dan perkembangan moral pada anak-anak. Dilaporkan bahwa cerita membantu anak-anak memahami moralitas melalui pengalaman orang lain. Namun, patut dicatat bahwa pemahaman moralitas yang demikian masih belum mapan sehingga diperlukan panduan dari seorang guru untuk merefleksikan aspek moral sebuah cerita. Dengan kata lain, seringkali dibutuhkan bantuan seorang mentor untuk memahami dimensi moralitas yang terdapat di dalam sebuah cerita. Lebih jauh tentang penggunaan cerita pada anak-anak, Howell (2010) melaporkan bahwa kegiatan storytelling membuat anak-anak menjadi lebih kreatif dan kritis. Storytelling terbukti meningkatkan literasi identitas dan literasi budaya anak-anak. Peningkatan literasi terjadi karena dalam storytelling, anak-anak bereksperimentasi dan terlibat dalam eksplorasi kebahasaan.

Kedua, jika pada penelitian pertama Vitz membahas peran cerita pada anak-anak, Scott & DeBrew (2009) menegaskan pentingnya storytelling pada pasien lanjut usia. Dilaporkan bahwa sekelompok perawat menemukan perkembangan positif  pada pasien lanjut usia setelah para pasien tersebut mengikuti program storytelling. Pada program storytelling tersebut, para pasien dikondisikan untuk bercerita tentang pengalaman masa lalu mereka. Mereka kemudian diarahkan untuk memberi makna pada pengalaman yang telah diceritakan. Hasil studi menunjukkan bahwa storytelling membantu pasien lanjut usia menemukan makna dan tujuan hidup. Penemuan makna dan tujuan hidup pada gilirannya memberikan pengaruh positif terhadap kesehatan.

Ketiga, Stock, Mares, & Robinson (2012) melakukan penelitian tentang cerita pada orang tua dan anak suku Aborigin, Australia. Melalui program bertajuk ‘The Let’s Start Parent-Child Program’ dua kelompok orang tua suku Aborigin melakukan storytelling terkait pengalaman mereka menjadi orang tua dan terkait pola pengasuhan anak. Informasi yang didapatkan melalui kegiatan storytelling lalu dijadikan basis untuk meningkatkan aspek pendidikan, sosial, dan emosional suku Aborigin. Informasi dari kegiatan storytelling itu juga membantu para kepala suku Aborigin untuk lebih memahami pengalaman anggota suku. Namun hal yang paling menarik dicatat dari penelitian ini adalah bahwa storytelling merupakan cara yang baik bagi orangtua dan anak untuk mengeksplorasi apa yang riil dan apa yang penting dalam kehidupan mereka.

Keempat, Boris & Peterson (2018) meneliti peran storytelling bagi para pemimpin. Dilaporkan bahwa para pemimpin membutuhkan kerampilan storytelling paling tidak karena tiga alasan. Pertama, sebuah cerita mampu menumbuhkan motivasi dan memberi inspirasi, dua hal yang tidak dapat dilakukan oleh fakta dan data statistik. Dengan kata lain, untuk dapat memotivasi dan menginspirasi bawahannya, para pemimpin membutuhkan tidak hanya fakta dan data statistik, melainkan juga cerita dan kemampuan storytelling. Kedua, para pemimpin perlu menyadari potensi sebuah cerita. Sebuah cerita yang tepat yang dituturkan pada audiens yang tepat, akan mampu menggerakkan hati dan pikiran pendengarnya. Ketiga, para pemimpin patut mengetahui bahwa kemampuan storytelling dapat digunakan untuk mendidik, meyakinkan, dan menginspirasi orang-orang yang mereka pimpin.

Kelima, Denning (2006) secara spesifik melakukan observasi tentang manfaat storytelling  bagi para pimpinan dan direktur utama perusahaan. Dilaporkan bahwa dalam satu dekade terakhir, semakin banyak  pimpinan dan direktur utama perusahaan yang menyadari peran storytelling dalam merespon berbagai kegiatan perusahaan seperti dalam mengomunikasikan rencana strategis, analisis skenario, dan resolusi dilema. Para pemimpin dan direktur utama tersebut telah mempelajari teknik-teknik bercerita untuk beragam tujuan di antaranya untuk berbagi pengetahuan, branding perusahaan, mempercepat kesepakatan kerjasama, menanamkan nilai-nilai perusahaan, menegaskan orientasi masa depan perusahaan. Tampak jelas bahwa storytelling memiliki banyak fungsi yang dapat digunakan untuk ragam tujuan dalam dunia bisnis.

Keenam, Pennebaker (2000) melakukan kajian eksperimental tentang storytelling dari sudut pandang ilmu psikologi. Dilaporkan bahwa manusia berpotensi mengalami pengalaman-pengalaman buruk dalam hidupnya. Pengalaman traumatis akan cenderung mengganggu kesehatan. Terdapat dua teknik yang efektif untuk menanggulangi dampak pengalaman traumatis, yaitu: (1) menuangkan pergolakan emosional atau pengalaman traumatis tersebut ke dalam tulisan. Teknik ini telah terbukti meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani; dan (2) menuangkan pengalaman traumatis ke dalam cerita dan menuturkannya kepada orang yang tepat. Teknik ini disebut dengan storytelling dan terbukti mampu menjaga stabilitas sosial dan emosional manusia.

Ketujuh, dari dunia pendikan Myers, Tollerud, & Jeon (2012) melaporkan bahwa storytelling adalah faktor esensial dalam pengajaran. Teknik storytelling telah lama digunakan untuk berbagi informasi, untuk mendidik, dan bahkan untuk mempersiapkan generasi penerus bangsa. Melalui teknik storytelling, seorang guru tidak hanya membantu peserta didik mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata, tetapi juga membantu peserta didik untuk terlibat aktif secara kognitif dan afektif. Peneliti lain, Dahlstrom (2014) menambahkan bahwa pada masa lalu, bidang sains (science) cenderung tidak mampu melihat potensi storytelling. Hari ini, bidang sains mulai memperhatikan pentingnya penggunaan cerita atau anekdot untuk menyampaikan temuan-temuan di bidang sains kepada audiens  yang tidak menguasai atau tidak mendalami sains. Artinya, para ilmuan memerlukan kemampuan storytelling agar mereka dapat mengomunikasikan temuannya kepada masyarakat awam.

Terakhir, terkait dengan penggunaan cerita pada pengajaran bahasa Inggris di institusi pendidikan Islam, para peneliti menyarankan pemanfaatan teks sastra atau cerita-cerita yang bersumber dari tradisi Islam dengan tetap mempelajari cerita-cerita dari tradisi Indonesia dan tradisi Barat. Praktisi di institusi pendidikan Islam perlu mengakomodir teks yang bersumber dari tiga tradisi tersebut ke dalam konsep teoritis bernama model pembelajaran (Irwansyah, Nurgiyantoro, & Sugirin, 2019a),  dan ke dalam tataran praktis seperti materi pembelajaran (Irwansyah, Nurgiyantoro, & Sugirin, 2019b). Terkait dengan cerita dari tradisi Islam, secara spesifik Irwansyah (2019) melaporkan urgensi pemanfaatan sastra Islami (Islamic literature) yang secara defintif menyakup semua jenis karya sastra, ditulis dalam bahasa apa saja dan oleh siapa saja, yang memuat pesan atau nilai yang sejalan dengan ajaran Islam. Irwansyah & Yuniarti (2021) juga menyarankan pentingnya memanfaatkan cerita yang bersumber dari Qur’an (Qur’anic stories) dalam pembelajaran bahasa Inggris. Dilaporkan bahwa cerita-cerita tentang Ashabul Kahfi, Nabi Ibrahim a.s., Nabi Musa dan Nabi Khidir, Nabi Yusuf dan Zulaikha, termasuk ke dalam cerita popular yang diminati. Qur’anic stories yang disajikan dalam bahasa Inggris yang baik tidak hanya menjadi sumber input kebahasaan namun juga sumber input keagamaan bagi peserta didik.

Bertolak dari beberapa hasil studi  dan penelitian tersebut di atas, cukup aman untuk disimpulkan bahwa kegiatan storytelling yang efektif dapat digunakan untuk mendidik, mempengaruhi, menstimulus, menginspirasi, dan menyembuhkan. Ragam fungsi tersebut sekaligus menandaskan bahwa manfaat storytelling dapat dipetik oleh beragam profesi dan struktur sosial dalam masyarakat.

 

D.     Ragam Struktur Sosial Pemanfaat Storytelling

Beberapa hasil penelitian yang disebut sebelumnya menegaskan bahwa storytelling dapat dimanfaatkan oleh ragam pengguna dari guru, pendakwah, hingga orang tua. Gambar 1 berikut memerikan potensi pengguna storytelling.

Gambar 1. Ragam Pengguna Storytelling 

(dapat diunduh pada pdf yang telah diupload https://metrouniv.ac.id/uploaddata/file/10Orasi%20Ilmiah-Dedi%20Irwansyah_29082021-FINAL.pdf )

Gambar 1 di atas meneguhkan bahwa storytelling perlu memanfaatkan ragam jenis cerita dari sastra Islami, Qur’anic stories, legenda, mitos, dongeng, anekdot, epik,  hingga pengalaman pribadi. Setiap jenis cerita berpotensi digunakan untuk mendidik, mempengaruhi, menstimulus, menginspirasi, menyembuhkan, dan memotivasi. Pengguna cerita dapat menyesuaikan isi cerita dengan fungsi yang dicapainya. Secara umum, guru, pendakwah, dan orang tua cenderung menggunakan storytelling untuk mendidikmenstimulus, menyembuhkan, dan memotivasi pendengarnya. Para pemimpin dan pelaku bisnis dapat menggunakan storytelling untuk mempengaruhi dan memotivasi bawahannya. Para motivator sangat mungkin menggunakan storytelling untuk menginspirasi dan memotivasi para audiens. Sedang para dokter, terapis, dan psikolog berpotensi menggunakan storytelling untuk mempercepat proses penyembuhan pasiennya. Para ilmuan tampak cenderung menggunakan storytelling untuk mendidik audiens yang awam tentang sains. Orang tua (parents) berpotensi menggunakan storytelling untuk fungsi mendidik, mempengaruhi, menstimulus, menyembuhkan, dan memotivasi anaknya.

 

E.     Implikasi Storytelling di PTKI

Premis bahwa storytelling adalah metode pengajaran  paling tua dalam sejarah pendidikan, meneguhkan kesimpulan bahwa storytelling telah dipraktikkan di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI). Konklusi ini begitu kuat karena pada dasarnya manusia suka bercerita dan gemar mendengar serta merespon cerita. Namun demikian, praktik storytelling oleh pengajar, pendakwah, konselor, dan pemimpin di PTKI adalah satu hal. Sedangkan kesadaran terhadap ragam cerita, fungsi cerita, dan teknik penyampaian cerita dalam storytelling adalah hal yang lain. Adalah penting kemudian untuk memperluas pengetahuan tentang storytelling dan tetap menggunakan teknik storytelling dengan landasan wawasan kuat.

 

Pengguna strorytelling di PTKI patut melakukan dua hal guna memaksimalkan ragam fungsi dari storytelling, Pertama, para pengguna perlu mencoba menyajikan ragam teks yang berasal dari ragam tradisi. Apa pun teks yang dipilih, pengguna storytelling mesti selalu dapat mengaitkannnya dengan nilai-nilai dan tradisi ke-Islaman seperti yang telah didemonstrasikan melalui cerita Seniman Cina dan Seniman Yunani. Kedua, para pengguna strorytelling di PTKI hendaknya segera merespon peralihan paradigm (paradigm shift) terkait kanal penyampaian storytelling yang dikenal dengan digital storytelling. Fenomena digital storytelling hari ini mensyaratkan kemampuan lain di luar kemampuan memilih cerita, mentetukan fungsi cerita, dan menyampaikan cerita secara verbal. Robin (2016) menandaskan "Digital storytelling combines the art of telling stories with a mixture of digital media, including text, pictures, recorded audio narration, music and video. These multimedia elements are blended together using computer software…” Artinya, kemampuan storytelling saja belum cukup tanpa kemampuan untuk memadukannya dengan media digital.

Penulis sendiri, dengan segala keterbatasan, telah berupaya secara otodidak merambah digital storytelling dan menyesuaikan fungsi storytelling dengan peran dan fungsi penulis di PTKI. Penulis menggunakan media digital storytelling untuk:

1. mempromosikan Program Studi dan Institusi tempatnya mengajar melalui cerita berjudul Narcissus (lihat YouTube: shorturl.at/dmD14);

2.  mempromosikan Islamic literature melalu cerita When 3 Men Trapped in a Cave (lihat YouTube: shorturl.at/cwPRY);

3.  mempromosikan nilai-nilai moderasi dan multikultur melalui cerita Merchant and Christian Dervish (lihat Spotify: shorturl.at/jIKNO);

4. mepromosikan nilai-nilai kepemimpinan bertanggung jawab melalui cerita Sayyidina Umar & the Hungry Woman (lihat Spotify: shorturl.at/txSVX); dan

5.  mepromosikan isu kesetaraan gender melalu cerita Sayyidah Nafisah (lihat Spotify: shorturl.at/kpwE4)

 

Penulis sangat menyadari bahwa tema-tema dan kualitas media yang disajikannya melalui digital storytelling, serta tentang pembahasan storytelling itu sendiri melalui publikasi akademik, adalah ibarat setitik debu di tengah jagad raya akademik dan di tengah diskursus pengajaran bahasa Inggris. Pernah terbersit pikiran untuk menghentikan semua kerja akademik ini karena tidak mendatangkan kemaslahatan yang masif bagi fakultas, institusi, negara, dan kemanusiaan. Hingga sebuah, Islamic story berhasil menenangkan dan memenangkan hati penulis untuk terus berkarya dan berkiprah meskipun timbangan karya dan kiprah tersebut tidak lebih besar dari biji zarrah. Izinkan saya mengakhiri orasi Ilmiah ini dengan cerita yang telah berhasil membesarkan hati  penulis secara pribadi.

 

Malam itu, Nabiyullah Ibrahim a.s. berada di dalam kobaran api yang dirancang oleh Raja Namrudz dan para pengikutnya. Api itu  menggunung dengan sangat besarnya. Lidah api membumbung, tinggi, hingga tampak seperti mampu menyentuh bintang gemintang.

Nabi Ibrahim tampak hilang dalam lautan api. Ia berdiri sendirian menghadapi kekejaman Raja Namrudz. Di saat para makhluk hanya mampu melihat dan berdoa untuk kebaikan sang Nabi, tiba-tiba seekor burung pipit terlihat terbang dan memuntahkan beberapa tetes air ke tengah kobaran api. Burung pipit itu terbang kembali menukik ke sumber air,  membumbung tinggi, lalu  lagi menuangkan tetesan air ke untuk meredakan panas api yang membara.

Tak berapa lama kemudian, burung-burung yang lain bertanya kepada si Pipit kecil: mengapa Engkau melakukan itu wahai burung kecil? Apakah engkau mengira bahwa tetesan air yang kau bawa itu akan mampu memadamkan kobaran api? Adakah engkau berpikir bahwa yang kau lakukan itu akan mampu menyelamatkan Nabi Ibrahim a.s.? Sadarlah! Air yang kau bawa itu terlalu kecil untuk dapat memadamkan api yang sangat besar.

Burung pipit kecil terdiam. Ia sadar yang dikatakan oleh para burung itu adalah benar. Ia tidak menampik jika yang apa yang telah dilakukannya itu adalah mungkin sebuah kesia-siaan belaka. Namun ia meyakini satu hal. Dalam nada lirih, ia sampaikan keyakinan itu kepada rekan-rekannya.  “Kawanku para burung, aku tahu, aku tak akan pernah mampu memadamkan api yang membakar sang Nabi. Paruhku terlalu kecil untuk itu. Yang aku lakukan sesungguhnya adalah mempersiapkan sebuah jawaban. Yaitu, jika kelak Allah bertanya padaku: apa yang engkau lakukan ketika Nabi Ibrahim berjuang melawan api Raja Namrudz? Setidaknya aku akan bisa menjawab bahwa aku tidak tinggal diam begitu saja. Aku telah melakukan sesuatu.

 

Sebagai catatan terakhir, fakta bahwa sepertiga  al-qur’an adalah cerita dan bahwa  al-qur’an memiliki surat bernama al-qashash, kiranya dapat menjadi inspirasi bahwa storytelling dengan segala landasan dan dinamika perkembanganna, patut mendapat perhatian serius di PTKI.

  

Selamat wisuda,

Selamat mencari cerita yang bermakna untuk pendengar yang tepat.

Assalamu’alaikum wr wb.

 

 

Acknowledgement: Penulis menghaturkan terima kasih kepada Rektor IAIN Metro, Dr. Hj. Siti Nurjannah, M.Ag. yang telah menganugerahkan kesempatan kepada penulis untuk menyampaiakn orasi ilmiah. Penulis juga bererima kasih kepada Ahmad Madkur, mahasiswa doktoral Deakin University Australia yang telah menjadi teman diskusi dan proofreader naskah orasi ilmiah ini.

 

Referensi Utama

 

Agosto, D. E. (2016). Why Storytelling Matters: Unveiling the Literacy Benefits of Storytelling. Children and Libraries14(2), 21. https://doi.org/10.5860/cal.14n2.21

Baldoni, J. (2011). Using stories to persuade. Harvard Business Review.

Boris, V., & Peterson, L. (2018). Telling Stories: How leaders can influence, teach, and inspire (pp. 1–4). pp. 1–4. Retrieved from https://www.harvardbusiness.org/what-makes-storytelling-so-effective-for-learning/

Dahlstrom, M. F. (2014). Using narratives and storytelling to communicate science with nonexpert audiences. Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America111, 13614–13620. https://doi.org/10.1073/pnas.1320645111

Denning, S. (2006). Effective storytelling: strategic business narrative techniques. Strategy and Leadership34(1), 42–48. https://doi.org/10.1108/10878570610637885

Hamilton, M., & Weiss, M. (2005). The Power of Storytelling in the Classroom. In Children Tell Stories: Teaching and Using Storytelling in the Classroom. New York: Richard C. Owen Publishers, Inc.

Howell, B. (2010). Telling stories: enhancing cultural literacy in the primary classroom. International Journal for Cross-Disciplinary Subjects in Education1(3), 139–146. https://doi.org/10.20533/ijcdse.2042.6364.2010.0019

Irwansyah, D. (2015). English for Muslim Learners. Yogyakarta: Penerbit Kalarana Press.

Irwansyah, D. (2018). Teaching English at Indonesian Islamic Higher Education: An Epistemological Perspective. Dinamika Ilmu18(1), 1–13. https://doi.org/10.21093/di.v18i1.1120

Irwansyah, D. (2019). Islamic Literature : Instructional Strategies in Contemporary Indonesia. Heritage of Nusantara: International Journal of Religious Literature and Heritage8(1), 1–17.

Irwansyah, D. (2020). Pengajaran bahasa melalui sastra: tujuan dan pemilihan teks. In Sudaryanto, N. Fatimah, & Z. Okta (Eds.), Bulir-Bulir Kajian Linguistik Terapan (1st ed., pp. 24–41). Yogyakarta: CV Markumi & Program Studi S-2 Linguistik Terapan Universitas Negeri Yogyakarta.

Irwansyah, D., Nurgiyantoro, B., & Sugirin. (2019a). A literature-based reading instructional model for Islam-affiliated university in Indonesia. International Journal of Instruction12(3), 577–594. https://doi.org/10.29333/iji.2019.12335a

Irwansyah, D., Nurgiyantoro, B., & Sugirin. (2019b). Literature-based reading material for EFL students: a case of indonesian islamic university. XLinguae13(3), 22–44. https://doi.org/10.18355/XL.2019.11.03.03

Irwansyah, D., & Yuniarti, Y. (2021). Integrating qur’anic stories into English language teaching: voices from Indonesia. Global Journal Al-Thaqafah11(1), 13–23.

Kritzeck, J. (1964). Anthology of Islamic Literature. Canada: Holt, Rinehart and Winston of Canada Limited.

Mcwilliams, B. (1998). Effective storytelling: a manual for beginners (pp. 1–4). pp. 1–4. Retrieved from https://videa.ca/wp-content/uploads/2015/08/Effective-storytelling-manual-for-beginners1.pdf

Myers, C. E., Tollerud, T. R., & Jeon, M.-H. (2012). The power of personal storytelling in counsellor education. Ideas and Research You Can Use: VISTAS 20121(Article 19), 1–6.

Pennebaker, J. W. (2000). Telling stories: the health benefits of narrative. Literature and Medicine19(1), 3–18. https://doi.org/10.1353/lm.2000.0011

Robin, B. R. (2016). The power of digital storytelling to support teaching and learning. Digital Education Review, (30), 17–29. https://doi.org/10.1344/der.2016.30.17-29

Scott, K., & DeBrew, J. K. (2009). Helping older adults find meaning and purpose through: Storytelling. Journal of Gerontological Nursing35(12), 38–43. https://doi.org/10.3928/00989134-20091103-03

Stock, C., Mares, S., & Robinson, G. (2012). Telling and re-telling stories: The use of narrative and drawing in a group intervention with parents and children in a remote aboriginal community. Australian and New Zealand Journal of Family Therapy33(2), 157–170. https://doi.org/10.1017/aft.2012.17

Vitz, P. C. (1990). The use of stories in moral development: new psychological reasons for an old education method. American Psychologist45(6), 709–720. https://doi.org/10.1037/0003-066X.45.6.709

 

Referensi Pendukung

 

Irwansyah, D. (15 March 2021). Materi 1: Sorogan The Prayer of the Frog [Video]. Retrieved August 27, 2021, from https://www.youtube.com/watch?v=d62YquZqN5A&t=523s

Irwansyah, D. (17 July 2021). Narcissus: a reflection [Video]. Retrieved August 26, 2021, from https://www.youtube.com/watch?v=6sjc_eQJOdQ

Irwansyah, D. (17 July 2021). When 3 Men Trapped in a Cave [Video]. Retrieved August 26, 2021, from https://www.youtube.com/watch?v=PcUCJt1Dpoo&t=16s

Irwansyah, D. “Merchant and Christian Dervish”, 2021. Spotify, https://open.spotify.com/episode/6bVyHRdSJPJ1laqqJxFJbo

Irwansyah, D. “Sayyidina Umar & the Hungry Woman”, 2021. Spotify, https://open.spotify.com/episode/0oB9l2GTEUVGCTn4lYbYBS

Irwansyah, D. “Sayyidah Nafisah”, 2021. Spotify, https://open.spotify.com/episode/2TKaKQtqShAEQp0D7z4Xy9

 

 

Berita Lainnya

Masukkan Komentar

zNA91

Total Komentar (0)


Halaman :
Facebook Pages
 
Twitter