• Telp : 0725-47297, 41507
  • Fax : 0725-47296
  • Email : iainmetro@metrouniv.ac.id
Diposting oleh Tgl 26-05-2021 & wkt 03:20:54 dibaca Sebanyak 55 Kali

Dharma Setyawan, M.A. (Kaprodi Ekonomi Syariah IAIN Metro)

Mari mengulas kegelisahan para sarjana yang akan berniat pulang ke desa. Konkritnya begini, ada dua problem yang bisa dianalisis sementara. Pertama pengetahuan,  dimana para sarjana harus terus merawat budaya intelektual di tengah kerja-kerja praksis di masyarakat. Kedua jaringan, dimana para kaum sarjana sangat minim kawan pemberdayaan atau jejaring SDM yang membantunya dalam project-project pemberdayaan masyarakat desa.

Bagaimama ini bisa dijembatani oleh perguruan tinggi tempat para sarjana sebelumnya belajar? Bagaimana transformasi pengetahuan dan jaringan berlanjut agar para sarjana yang berikhtiar membangun desa tidak dibiarkan sendirian? Pertanyaan di atas levelnya ditujukkan bagi para aktivis. Perguruan Tinggi belum cukup membuat para sarjana menjadi aktivis penggerak, jamak diketahui level penggerak tumbuh dar basis ideologi organisasi atau komunitas.

Perlu dipetakan bahwa perguruan tinggi punya beberapa instrumen untuk berkomunikasi dengan masyarakat. Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) adalah dua instrumen untuk menjadi pintu masuk sekaligus estafet gerakan pemberdayaan desa. Apakah hanya itu? Tentu banyak, jika dosen memang terbiasa membawa mahasiswa ke ruang-ruang sosial dan mengurangi interaksi di ruang kelas. Prinsipnya ruang kelas tetap dibutuhkan sebagai bentuk refleksi bersama dan bertukar pengalaman.

Selain itu pengembangan teknogi menjadi penting agar database alumni dari tahun ke tahun dapat di update dan tentu penting mengetahui peta jumlah SDM yang bergerak. Upaya ini bisa juga ditopang oleh upaya pemerintah desa, pengusaha lokal dan aktivis penggerak desa. Kolaborasi selalu menjadi hal penting di era media digital. Tidak mungkin perguruan tinggi akan melakukan gerakan ini dengan mengandalkan SDM internal, apalagi di luar sana banyak lembaga-lembaga yang lebih berperan dan cukup signifikan jika melakukan sinergi.

Jejaring alumni yang terus memperbaharui gagasan juga harus difasilitasi melalui Focus Group Discussion (FGD), berjumlah maksimal 25 penggerak desa dan dilakukan periodik. Selama beberapa hari berdiskusi intensif dan bermusyawarah memetakan kembali langkah-langkah taktis di lapangan. Mereka akan bertukar pikiran, saling belajar dan tentu saling membantu dalam praktik-praktik di masyarakat. Dalam FGD ini, mereka semua adalah pemateri dan Perguruan Tinggi sebagai fasilitator dan hasilnya sebagai pembaharuan kurikulum pemberdayaan, sebagaimana kelas merdeka yang diharapkan menteri Nadiem Makarim.

Terakhir yang tentu saja penting adalah manajemen ekonomi para penggerak desa dan  sekaligus performance komunitas pemberdayaan. Pembahasan ini memang yang paling sulit, tidak mungkin pelaku pemberdayaan mau melakukan pemberdayaan jika dirinya sendiri belum berdaya. Tidak realistis seorang sarjana menganggur berbicara peningkatan ekonomi warga. Maka pulang ke desa bagi seorang sarjana bukanlah hal yang tabu, pulang harus dilakukan sebagai penggilan untuk kembali ke desa (tempat lahir). Disanalah dia belajar sejak kecil, terbiasa bekerja sebagaimana laku budaya setempat, dan mengenal pribadi-pribadi di desa tersebut. Refleksi pengetahuan dan gerakan yang harus ditanamkan. Mengapa demikian? karena penggerak tidak boleh larut dalam iklim konflik yang terjadi di dalam sebuah entitas masyarakat.

Jika seorang anak muda pergi merantau kuliah, tentu pulang berlibur adalah kesempatan dirinya untuk menyapa, menggerakkan, mengajarkan apa yang didapat di luar sana dan mengubah pola pikir generasi muda yang ada di desa tersebut. Perguruan Tinggi adalah tempat untuk menempa skill manajemen dan marketing potensi desa. Mengapa cara pandangnya ekonomi minded? Disitulah pokok inti masalah desa harus diselamatkan. Melalui budaya, ruang pendidikan alternatif, basis spiritual, pertanian dan peternakan yang ditinggalkan, destinasi desa yang harusnya terus digali, semuanya bermuara pada kesanggupan desa mempertahankan dan mencukupi kesejahteraan desa. Bohong kalau kita anti ekonomi. Maka yang harus kita tolak adalah penguasaan desa dikuasai oleh segelintir kelompok dan warga desa lain menjadi buruh di rumah desanya sendiri.

Saya juga baru menyadari selain materi sosial maping, trilogi pembangunan, community apparoach, ekonomi desa dan materi praktik , penting juga menambahkan geo-politik desa. Para generasi muda menguasai peta politik desa dengan harapan mengerti bagaimana penguasaan desa oleh anak-anak muda. Mereka yang peduli dengan pemberdayaan dapat memenangkan kontestasi politik desa. Jadi desa menjadi baromater mikro, bagaimana pembangunan ekonomi berbasis pemberdayaan masyarakat dapat diukur bersama-sama melalui pengetahuan dan perencanaan yang matang. Perguruan Tinggi melalui pusat studi, penggerak desa, pemerintah desa dan kelompok swasta membangun kolaborasi untuk kemajuann desa.

Berita Lainnya

Masukkan Komentar

dJmX2

Total Komentar (0)


Halaman :
Facebook Pages
 
Twitter
 
Jajak Pendapat
Polling Management
Apakah Web ini sudah memberiakan informasi yang anda butuhkan?
2607(68.0%)
TOTAL 3832
Statistik
Online : 4 Users
Hits : 3568629
Hari Ini : 1192
Bulan Ini : 29809
Tahun Ini : 272959
Total : 1500710