• Telp : 0725-47297, 41507
  • Fax : 0725-47296
  • Email : iainmetro@metrouniv.ac.id
Diposting oleh Tgl 05-06-2021 & wkt 09:47:00 dibaca Sebanyak 35 Kali

Buyung Syukron (Dosen pada Prodi PAI FTIK IAIN Metro)

email: buyung.syukron@metrouniv.ac.id

 

Setelah melalui proses birokrasi yang begitu panjang dan prosedural, akhirnya transformasi  (alih status) beberapa Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTKIN) yang sebelumnya berstatus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) menjadi Universitas Islam Negeri (UIN), berbuah manis. Proses perjuangan civitas akademika dan elemen masyarakat, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota berakhir dengan di tandatanganinya Peraturan Presiden (Perpres) terhadap 6 (enam) IAIN menjadi UIN. Transformasi ini tentu memunculkan berbagai harapan, kesempatan dan ekspektasi serta responsibiltas untuk terus bersama membangun kecerdasan anak Bangsa seiring dengan terwujudnya transformasi tersebut. Kesemua itu menurut Penulis tentu tidak hanya sekedar berganti grade, nama, dan logo semata, akan tetapi diiringi juga dengan peningkatan kualitas di berbagai lini dan sektor.  

Transformasi dilingkungan PTKIN tidak bisa dikonsepsikan dan dikonotasikan hanya pada perubahan pada sisi label Institusi semata, lebih dari itu menurut Penulis, perubahan status menjadi tersebut harus senantiasa mampu membangun ghirah baru sebagai sebuah institusi pendidikan berbasis Islam yang tidak saja berdimensi pengetahuan secara umum saja, tetapi benar-benar memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan pengetahuan dan kecerdasan spiritual manusia itu sendiri. Ini menjadi substansi dan essensi yang amat penting sehingga PTKIN tidak kehilangan orientasi yang pada akhirnya memperkuat justifikasi PTKIN yang kurang mampu bersaing dalam menjawab tantangan modernitas dan kemajuan zaman. Transformasi ini juga menjadi sebuah momentum indah di tengah  pergulatan  masyarakat  Islam  menghadapi  berbagai  persoalan yang berkembang yang diakibatkan oleh perbedaan  keyakinan  dan  pemahaman yang keliru atas kiprah dan eksistensi PTKIN di Negeri ini. Transformasi di lingkungan PTKIN harus mampu menjawab berbagai persoalan yang terjadi baik dalam eskalasi lokal, nasional bahkan internasional yang membutuhkan  sebuah restorasi  dan  rekonstruksi  pendidikan  Islam  yang berbasis  modernisme, sekaligus menurut Penulis  

 

EKSPEKTASI TRANSFORMASI PADA PTKIN

Menjadi keniscayaan bahwa sisi dan dinamika lain yang mengemuka dari perubahan atau transformasi yang terjadi di lingkungan PTKIN di Indonesia tahun 2016 ini adalah besarnya harapan publik untuk bisa melihat secara nyata perubahan yang terjadi. Implikasi terbesar atas terwujudnya transformasi tersebut adalah bagaimana PTKIN tersebut mampu berkiprah dalam konteks dan perspektif yang luas dalam membangun dan mengembangkan budaya akademik, budaya penelitian, dan budaya pengabdian terhadap masyarakat. Transliterasi atas perubahan tersebut secara komprehensif harus mampu dibuktikan oleh PTKIN untuk secepat dan sesegera mungkin men-construct  pemikiran  Islam  yang  memiliki kesigapan dan kesiapan untuk merespon  dan  mengembangkan  paham  ke-Islaman  yang  mendorong terwujudnya  kemaslahatan  publik.  Konstruktivisme yang dimunculkan atas terwujudnya proses Transformasi tersebut harus dikonsepsikan dalam bentuk terciptanya sebuah polarisasi dalam “frame “ aktualisasi pemikiran  ke-Islaman  yang lebih peka dalam merespons  berbagai persoalan kebangsaan,  kerakyatan,  dan ke-ummatan sehingga transformasi dimaksud tidak dipandang sebagai sebuah perubahan yang berakhir dan berada  di menara  gading semata atau dipandang sebagai “kemubaziran akademik”. Memang perlu diakui Kekuatan dan kebesaran dunia akademik, khsususnya PTKIN tidak bisa diukur dan ditentukan hanya dengan peningkatan status PTKIN tersebut. Akan tetapi lebih dari itu, kebesaran dan kekuatan itu terletak pada pembuktian terhadap eksistensi dan kiprah nyata secara kelembagaannya sendiri. PTKIN harus mampu membuktikan sekaligus membangun serta mengokohkan diri menjadi institusi yang memiliki budaya riset, meningkatkan frekuensi instrumen baru untuk menunjukkan reputasi PTKIN dalam mendapatkan apresiasi masyarakat dan stakeholders pendidikan lainnya.

Ada sebuah ekspektasi lain menurut Penulis yang juga memiliki urgensitas penting dibalik terjadinya transformasi tersebut, yaitu PTKIN harus menjadi trendsetter keilmuan. Memang tidak mudah untuk mewujudkan hal tersebut, akan tetapi bukan pula hal yang tidak mungkin mengimplementasikannya. Merumuskan paradigma trendsetter keilmuan memerlukan pemikiran yang mendalam, berkeringat, kolaboratif, dan sharing ideas. Pertanyaannya: mengapa ini diperlukan? Jawabannya adalah : bahwa paradigma trendsetter keilmuan dalam konteks PTKIN menjadi artikulasi gambaran yang komprehensif tentang kekuatan sumber daya, visi-misi kelembagaan, mandat, skala prioritas, distingsi, ekselensi sampai pada tataran ekspektasi itu sendiri. Dan ini sebuah keniscayaan yang harus menjadi pembuktian atas perubahan status tersebut.

 

TANTANGAN PTKIN: KINI dan MASA DEPAN

Dalam konteks komprehensif, ada sebuah pernyataan yang menggelitik sekaligus menarik: “apakah PTKIN kurang efektif dan tidak didesain untuk membangun sebuah peradaban dunia secara andal, bahkan sebagian besar mengasumsikan PTKIN masih berjalan dan berproses hanya atas dasar berfikir deduktif semata. PTKIN belum menunjukkan eksistensi sebagai sebuah lembaga pendidikan yang berpihak kepada sains dan teknologi, tidak mendorong bagaimana berfikir nalar kritis, bahkan PTKIN memiliki kecenderungan dianggap sebagai institusi yang kurang bahkan sama sekali tidak fokus terhadap skala prioritas berdasarkan kebutuhan-kebutuhan yang modern dan holistik. Bahkan resistensi pemikiran yang muncul adalah PTKIN hanya bersifat konservatif dan hanya memelihara “cagar budaya” ajaran-ajaran Islam yang mudah menyerah, mudah curiga, lebih mementingkan akhirat, protektif dan konservatif.

Tentu tidak bisa disalahkan struktur dan karakter semacam di atas, justru sebaliknya karakter dan struktur tersebut harus dijadikan sebagai sebuah challenge bagi PTKIN untuk memberikan jawaban yang argumentatif dan realistis atas sinyalemen dan statement tersebut. Tantangan tersebut menurut Penulis harus dijawab oleh PTKIN dan seluruh civitas akademika yang ada di dalamnya dengan mengembangkan pola pikir yang strategis dengan strategi-strategi baru yang lebih metodologis, canggih dan sustainability (berkelanjutan). Transformasi pada PTKIN harus dipahami secara komprehensif dan utuh, tidak hanya diartikulasikan sebagai sebuah repons-respons atas gejala-gejala yang didasarkan atas sebuah kebutuhan tanpa dasar dan penyebab, tetapi juga harus mampu menciptakan sebuah illustrasi nyata terhadap masa depan seorang manusia dengan spiritual, sains, dan teknologi. Jawaban ini sekaligus juga untuk membuktikan bahwa PTKIN tidak dan bukan hadir atas dasar yang reaktif, akan tetapi hadir atas dasar kebutuhan yang inspiratif atas dasar pilihan yang cerdas.

Kontribusi nyata atas proses transformasi pada PTKIN harus mampu memberikan kontribusi atas dasar keinginan menyumbangkan peran yang nyata dalam turut membangun produktivitas Bangsa ini kedepannya. PTKIN harus mampu “meruntuhkan” keraguan yang selama ini di stigmakan serta dimunculkan terhadap dunia pendidikan Islam. Besarnya kapasitas dan fungsi edukatif yang diberikan seiring transformasi yang terjadi menjadikan lembaga yang bertransformasi memiliki mandat yang lebih luas. Tesis ini menurut Penulis tidak berlebihan, karena dibalik kebesaran dan keluasan kapasitas, peran dan fungsi itu sendiri PTKIN harus mampu menatap dan “menjejakkan” kiprah dan kontribusinya untuk menunjukkan nalar kritis dalam menghadapi modernitas zaman. Sekali lagi, penyelenggaran pendidikan pada PTKIN bukan sekedar merawat “cagar budaya” ajaran-ajaran Islam semata, tetapi yang lebih penting menciptakan output yang memiliki daya saing tinggi dihadapan Bangsa nya sendiri dan dunia eksternal.

 

TRANSFORMASI PTKIN vs  TRANSFORMASI PEMIKIRAN PENDIDIKAN

PTKIN di tantang untuk mampu merubah bahkan bila perlu menghindari gaya pemikiran pendidikan yang berorientasi memproduksi tradisi dan dogmatisme dalam pengertian yang sempit (baca:pan-Islamisme). Tantangan nyata PTKIN kedepan adalah bagaimana mengkontekskan gaya pendidikan yang memiliki orientasi situasional, baik dalam skala lokalitas maupun skala yang lebih luas lagi. Sehingga pada akhirnya PTKIN mampu memiliki “arkeologi” pemikiran sendiri dengan modifikasi gaya pendidikan yang lebih konstruktif yang pada akhirnya mampu memberikan kesadaran dan kontribusi nyata atas problem riil masyarakat saat ini. Inilah jawaban atas tantangan perubahan pemikiran dibalik eksistensi sebuah PTKIN itu sendiri.

Dengan perubahan pemikiran pendidikan ini pula diharapkan PTKIN dapat disejajarkan dengan Perguruan Tinggi lainnya. Perubahan Paradigma pemikiran pendidikan harus dimaknai sebagai sebuah upaya yang mewakili cita-cita PTKIN di seluruh Indonesia untuk berfikir dan bertindak bersama seluruh komponen dan elemen Bangsa terkait dalam upaya membangun dan berkontribusi terhadap berbagai fakta dan problem yang dihadapi Bangsa saat ini. Paradigma perubahan ini bukan untuk menjadikan PTKIN yang “dikotomik” akan tetapi menjadi PTKIN yang “distingtif”. Perubahan Paradigma Pemikiran Pendidikan mengharapkan modernisasi ke depan harus lahir dari dunia pendidikan Islam, dalam hal ini PTKIN.

Dalam konteks dan frame yang sempit, pertanyaannya adalah: sudah siapkah IAIN Metro untuk bertransformasi dengan mempertimbangkan berbagai ekspektasi dan tantangan di atas? Semoga saja. Aamiin.

Berita Lainnya

Masukkan Komentar

c7shS

Total Komentar (0)


Halaman :
Facebook Pages
 
Twitter
 
Jajak Pendapat
Polling Management
Apakah Web ini sudah memberiakan informasi yang anda butuhkan?
2607(68.0%)
TOTAL 3832
Statistik
Online : 1 User
Hits : 3568508
Hari Ini : 1085
Bulan Ini : 29702
Tahun Ini : 272852
Total : 1500603