• Telp : 0725-41507
  • Fax : 0725-47296
Diposting oleh Prof. Dr. Enizar, M.Ag Tgl 10-12-2016 & wkt 08:22:44 dibaca Sebanyak 4245 Kali

JIHAD  INTELEKTUAL : Antara Peluang dan Tantangan

(Oleh : Prof. Dr. Enizar, M.Ag.)

 

Pendahuluan 

Permasalahan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia akhir-akhir ini sangat kompleks. Maraknya kasus korupsi di berbagai lini, kualitas pendidikan yang dinilai masih rendah, etos kerja rendah, kemiskinan semakin meningkat akibat dari berbagai faktor, dan krisis multidimensi, serta ditambah dengan permasalahan internasional yang berimplikasi terhadap masalah nasional. Semua itu memerlukan penanganan yang serius dari semua elemen bangsa sesuai dengan fungsi dan kemampuannya.

Begitu juga dalam aliran keagamaan, bermunculan tokoh dengan pengikut masing-masing yang bernaung di bawah panji Islam, dengan semua atributnya. Akan tetapi ajaran yang dikembangkan menyimpang dari Islam.  Kondisi seperti ini tentu menimbulkan keresahan dan ketidaknyamanan masyarakat. Lebih berbahaya lagi, dari segi ajaran, adanya penyimpangan dan penodaan terhadap Islam. Tidak heran jika kenyataan ini mendapatkan reaksi  keras dari umat Islam yang tidak ingin agama Islam dinodai. Namun, yang disayangkan kadang reaksi yang muncul memberikan kesan yang bahkan dinilai ikut menodai Islam.  

Di sisi lain, realitas di tengah-tengah pergulatan politik global, akhir-akhir ini umat Islam menjadi resah, seperti ada klaim bahwa segala macam bentuk terror dan kekerasan identik dengan umat Islam yang memahami dan meyakini ajaran jihad. Banyak analisis yang sudah dilakukan terkait dengan aksi teror tersebut. Mulai dari mengangkat tema radikalisme dan terorime dalam kajian ilmiah baik seminar nasional maupun seminar internasional. Radikalisme (pemahaman keagamaan secara radikal) dimungkinkan dari banyaknya buku-buku fiqh jihad yang dibaca, yang  membahas jihad lebih focus pada bahasan jihad dalam konteks perang. Akan tetapi terorisme tidak selalu berhubungan langsung dengan radikalisme, karena dari hasil analisis yang dilakukan di berbagai seminar internasional atau nasional ternyata banyak faktor yang menyebabkannya. Ada rasa ketidakpuasan, rasa ketidakadilan dan keputusasan dalam  menghadapi kondisi yang ada sehingga menjadi pemicu terjadinya yang dianggap teroris tersebut. Dari fenomena yang ada, ada ruang  yang dapat diisi oleh para intelektual untuk menyampaikan sikap kritis konstruktif kepada pengambil kebijakan dan menyampaikan  pemahaman yang benar terhadap situasi dan kondisi yang ada.   

Oleh sebab itu, sebagai salah satu elemen masyarakat, para intelektual harusnya  mengambil peran untuk melakukan sesuatu untuk mengendalikan sesuai dengan keahlian dan dimanapun mereka berada.  

Jihad Intelektual

Jihad intelektual dalam bentuk sikap kritis konstruktif terhadap pengambil kebijakan baik pemimpin, penguasa atau pejabat yang melakukan kekeliruan dan ketidak-adilan dalam menjalankan tugas yang dimanahkan kepadanya. Begitu juga terhadap penguasa/pemimpin yang memiliki karakter otoriter, dan anarkhis. Bahkan menurut Rasul, jihad ini dinilai sebagai jihad yang paling besar, dalam salah satu sabdanya beikut:

 

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ  

Jihad yang paling utama ialah mengatakan kebenaran (berkata yang baik) di hadapan penguasa yang zalim.

Jihad dalam hadis di atas dilakukan dengan cara  memberikan pemahaman dan penjelasan argumentatif kepada pemimpin tentang kondisi yang ada. Jihad ini dianggap sebagai jihad paling besar karena kekeliruan/ketidakadilan seorang pemimpin dapat menimbulkan gejolak dan menyangkut kepentingan orang banyak. Frase "kalimatu ‘adlin" dalam hadis meenunjukkan bahwa ada beberapa langkah yang harus dilakukan sebelum menyampaikan sikap kritis konstruktif tersebut. Pertama, pelaku jihad ini harus memiliki sikap objektif tidak subjektif apalagi anarkhis. Kedua, pernyataan sikap atau yang disampaikan merupakan hasil analisis dan kajian mendalam terhadap esesnsi,  dan kondisi yang ikut mempengaruhi.  Ketiga, kata yang digunakan bukan penghakiman, penghujatan dan sejenisnya.

Dapat dimengerti bahwa jihad dalam bentuk ini dianggap lebih besar karena kekacauan yang disebabkan oleh karakteristik pemimpin dapat memancing berbagai macam reaksi, baik dari dalam maupun dari luar. Pada prinsipnya, pemimpinlah yang harus memulai mengatasi dan mengantisipasi terjadinya penyelewengan, dan kesemena-menaan. Jika ternyata pemimpin yang melakukannya, reaksi yang dimunculkan masyarakat dapat membawa kerusuhan di tengah  masyarakat dan mungkin dapat mengorbankan masyarakat banyak. Di samping dampak kezalimannya pada rakyat juga akan mengandung resiko yang besar bagi pelakunya.

Di dalam jiwa setiap muslim mungkin saja terdapat penolakan terhadap kezaliman dan keinginan untuk memberontak terhadap orang yang zalim.  Namun, untuk menyampaikan kepada penguasa atau pemimpin yang zalim, hanya orang yang memiliki semangat jihad tinggi  yang siap menanggung berbagai kemungkinan yang akan muncul.  Di sisi lain, seorang penguasa mempunyai kekuasaan untuk menjatuhkan sanksi atau hukuman terhadap orang yang tidak disukainya.

Orang yang dapat menyampaikan kebenaran kepada kekuasaan hanya para intelektual. Dalam sejarah Islam dikenal peran beberapa intelektual, seperti imam Malik   (w. 179 H) yang mendapatkan siksaan dari penguasa di zamannya, yang mengingatkan khalifah Abbasiyah yang sudah keluar dari koridor kekhalifahan. Begitu juga dengan imam Abu Hanifah (w. 241 H) yang mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari penguasa karena tidak mengikuti kemauan khalifah yang tidak benar.  Meskipun mereka harus menjadikan kebebasan dan hidupnya sebagai taruhan, mereka tetap menyatakan kebenaran sebagai koreksian  kekeliruan penguasa. 

Kemampuan para intelektual dalam menangani permasalahan yang dihadapi dengan berbagai dalil dan argumen sangat membantu dalam pelaksanaan koreksian tersebut.  Oleh sebab itu,  jihad yang bersifat korektif terhadap penguasa tersebut bertujuan untuk mengantisipasi bermacam keresahan yang membuat masyarakat tidak aman dan tidak nyaman berada di tempat tinggalnya.

Pernyataan Rasul Saw. dalam Hadis di atas memberikan pembatasan kepada intelektual untuk berani memberikan koreksian dan kritikan, dan tidak diperintahkan untuk meninggalkan penguasa yang seperti itu, juga  tidak diperintahkan untuk mengangkat senjata untuk melawan mereka.  Memberikan kritikan membangun dan koreksian tidak akan menimbulkan keresahan dan malapetaka bagi masyarakat.

Pada saat ini, di Indonesia kebanyakan masyarakat, yang tidak puas dengan kinerja pemimpin/penguasa melakukannya dengan demo, kadang anarchis sehingga menimbulkan kerusakan dan menelan korban sia-sia,   bahkan dengan pengorbanan yang luar biasa, pesan yang disampaikan tidak sampai sasaran.   Lebih miris lagi peserta demo, kadang tidak paham apa sebenarnya yang sedang mereka perjuangkan. 

Kesimpulan  

Agar koreksi terhadap penguasa/pemimpin yang tidak amanah dan merugikan   bernilai jihad, bahkan jihad yang paling besar, koreksi dilakukan bukan hanya dengan mencari kekurangan dan ketidakpuasan semata. Tetapi dilengkapi datanya dengan fakta yang menunjukkan kekeliruan yang dilakukan pemimpin; disertai dengan dasar dan argumen yang jelas  serta dapat dipertanggung jawabkan. Tidak kalah penting harus menawarkan solusinya dan disampaikan dengan santun, hati boleh panas tetapi kepala harus tetap dingin.

 

Footnote

1 Di Negara kita Indonesia juga ada Dansus 88 anti teror yang selalu ditayangkan di media TV nasional, dengan tugas memgamankan orang-orang yang dicurigai sebagai teroris. Salah satu yang dijadikan bukti adalah buku-buku jihad yang mereka miliki. Tidak sedikit mereka yang berakhir dengan kematian.  

2 Di perguruan tinggi di Indonesia bukan hanya dilaksanakan  oleh PT Keagamaan tetapi juga oleh PTU. Tema ini kemudian menjadi tema seminar tingkat nasional dan bahkan internasional.  Ada beberapa perguruan Tinggi Kegamaan yang mengusung tema tersebut misalnya STAIN Jurai Siwo Metro pada tahun 2015 dan STAIN Pekalongan pada tahun 2016 

3 Hal itu terlihat dalam beberapa kitab fiqh yang memuat keterangan yang rinci tentang jihad yang isinya lebih difokuskan pada perang.  Begitu juga dalam kitab karya dan al-Mawardi (w. 450 H.) Hal itu mungkin karena jihad yang berkaitan dengan masalah hukum  dan kenegaraan adalah jihad dalam artian perang tersebut.Namun  al-Maududi (w.1979 ) yang menulis tentang jihad dalam karyanya al-Jihad fi al-Islam dan Jihad fi Sabililah lebih luas menjelaskan tentang jihad baik dari segi bentuk, dan objeknya.

4 Al-Turmuzi, op.cit., juz 3, h. 318, Ibn Majah, op.cit., juz 2, h. 1329,  dan Ahmad bin Hanbal op.cit., juz 3, h. 19, juz 4, h. 314, juz 5, h. 251 dan 256. Kualitas Hadis ini minimal hasan sahih

5 Tercatat dalam sejarah bahwa imam mazhab Fiqh harus mengalami  hukuman penjara karena menyampaaikan kebenaran kepada penguasa, atau tidak mau mengikuti kemauan penguasa. Siksaan yang diterima sangat pedih. Lihat Abu al-Fllah al-Hanbali, op.cit., h. 290

6 Ibid., h. 310

7 Ibid. h. 228.

8 Demo yang terjadi lebih banyak dengan modal besar, karena kerusakan yang ditimbulkan oleh pendemo yang kadang tidak tau apa yang mereka perjuangkan. 

9 Jika caranya tidak tepat tidak sedikit penuntut hak atau penggugat akhirnya menjadi pihak yang digugat dan diancam dengan hukuman.

Author PROF. DR. ENIZAR, M.AG

Berita Lainnya

Oleh : Prof. Dr. Enizar, M.Ag
Oleh : Prof. Dr. Enizar, M.Ag
Oleh : Prof. Dr. Enizar, M.Ag
Oleh : Prof. Dr. Enizar, M.Ag
Oleh : Prof. Dr. Enizar, M.Ag

Masukkan Komentar

G4zdU

Total Komentar (0)


Halaman :