• Telp : 0725-41507
  • Fax : 0725-47296
Diposting oleh Prof. Dr. Enizar, M.Ag Tgl 04-11-2016 & wkt 05:14:46 dibaca Sebanyak 2022 Kali

PEMBERITAAN ANTARA FAKTA DAN NORMA 

(Oleh : Prof. Dr. Enizar, M.Ag.) 

 

A. Pendahuluan

Dengan perkembangan ilmu  pengetahuan dan teknologi sekarang ini, berbagai media dapat digunakan untuk menyampaikan informasi oleh siapa saja dan kapan saja. Namun pada saat yang sama sulit untuk dicek kebenaran informasi yang disajikan media.  Pada kenyataannya, berita yang disampaikan di media massa baik elektronik atau cetak, atau media sosial kadang tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya, kadang menyesatkan. Hal itu terlihat dari banyaknya komplain dari pihak yang merasa dirugikan oleh pemberitaan tersebut. Di satu sisi dengan berlindung di balik UU ITE ada pihak yang membawa kasusnya ke meja hijau, karena seseorang atau media yang menyajikan berita yang dianggap mencemarkan nama baik. 

Berita yang dikonsumsi  oleh masyarakat saat ini lebih banyak di posting oleh penulisnya tanpa ada peninjauan tentang kebenaran berita, kadang juga menyampaikan kembali berita hoax yang diterimanya dan berita yang dapat mendatangkan keresahan di tengah-tengah masyarakat.  Bahkan berita yang menyangkut SARA dapat memicu timbulnya disintegrasi di tengah-tengah masyarakat. Untuk itulah perlu diketahui ketentuan Islam dalam maasalah pemberitaan.

Berita (Arab: khabar) jika disebutkan secara vis a vis dengan insya' yang menjadi kajian bahasa, maka khabar sebenarnya mempunyai potensi untuk benar dan salah. Oleh sebab itu, untuk menghindari dari berita bohong, maka berita yang disampaikan kepada massa diharapkan berita yang sudah terseleksi.  

Selektifitas berita tersebut dapat dilakukan terhadap sumber berita, isi berita, dan kelayakan penyampaian berita.    Di samping itu, berita yang ada dapat diseleksi oleh penyampai dan atau penerima berita.  Meskipun seleksi berita pada umumnya, namun dapat diikuti proses penyeleksian berita yang bersumber dari pendengar hadis Rasul dalam menyampaikan  hadis.  Kegiatan seleksi hadis tersebut sudah dilakukan oleh para ulama dan dapat dijadikan acuan dalam upaya seleksi berita. 

B. Seleksi Sumber Berita dan atau Penyampai Berita

Setiap menerima berita, tidak boleh menerima saja secara mentah-mentah.  Bahkan sejarah telah membuktikan bahwa Hadis yang datang dari Rasul sejak Rasul wafat sampai hadis dibukukan pun mengalami seleksi yang luar biasa oleh para pemerhati hadis.  Hal itu dilakukan karena penyampaian hadis dari mulut ke mulut dan panjangnya rentang waktu antara pasca wafatnya Rasul dengan pembukuannya.  Realitas itu kemudian menyebabkan ulama hadis sepakat untuk melakukan seleksi terhadap berita yang dinyatakan sebagai hadis Rasul.   Namun untuk hadis Rasul,  kebenaran sumber tentu saja tidak diragukan kebenarannyan (Q.S. al-Najm/53: 3-4) 

Dalam pemberitaan biasa, seleksi terhadap sumber atau pembawa berita perlu dilakukan.  Dalam seleksi sumber atau penyampai berita harus diperhatikan dan dijadikan perhatian tentang kualitas pribadi.  Hal itu sudah diisyaratkan oleh Allah dalam Q.S. al-Hujurat/49: 6 berikut:

يا أيها الذين آمنوا إن جاءكم فاسق بنبأ فتبينوا أن تصيبوا قوما بجهالة فتصبحوا على ما فعلتم نادمين

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

Kata فاسق dalam ayat menunjukkan bahwa sumber berita mempunyai kualitas pribadi yang tidak baik (bohong)   Dengan demikian tidak  ada toleransi untuk menyampaikan berita bohong,   karena kebohongan merupakan salah satu indikator dari kemunafikan,   yang dapat menimbulkan fitnah dan meresahkan. Berita yang disampaikan bermanfaat bagi penerima berita dengan menyampaikan kebaikan dan diungkapkan sesuai denga kenyataan (jujur).

Dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw. menyuruh orang mukmin untuk mengatakan sesuatu kebaikan yang artinya : Abu Syuraih menyatakan bahwa ia mendengar Rasulullah saw bersabda "....   Siapa yang beriman kepada Allah danpercaya   adanya hari akhir, hendaklah ia bertutur kata yang baik atau diam.  

Realisasi dari ketentuan di atas, dalam hadis lain Rasulullah menjadikan kemampuan menjaga lisan agar tidak menyakiti orang lain sebagai indikator ke-Islaman seseorang.   Sehingga muslim tidak akan memfitnah, mengadu domba, memprovokasi, yang dapat memicu munculnya prilaku anarkhis. Ia tidak akan memfitnah yang dapat mencemarkan nama baik orang tersebut . Ia tidak akan mengadu domba antara orang-orang  yang berbeda inspirasi dan kepentingan untuk mencapai kepentingannya sendiri. Dia tidak akan mengambil keuntungan dari situasi yang tidak baik, seperti kata pepatah: "tidak menangguk di air keruh". 

Untuk mengantisipasi agar orang tidak melakukan kebohongan, Rasul juga melarang menyampaikan sesuatu yang tidak diketahui pasti kebenarannya, Rasulullah bersabda: 

عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ ... كَرِهَ لَكُمْ ثَلَاثًا قِيلَ وَقَالَ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةَ الْمَالِ  

Hadis diterima dari al-Mughirat bin Syu'bah, Rasulullah saw. bersabda: Allah SWT. ... mmbenci untukmu tiga hal, yaitu banyak membicarakan sesuatu yang tidak jelas sumbernya, banyak tanya dan boros (konsumtif)

Terkait dengan ketentuan di atas, dalam merespon pemberitaan yang ada di media sosial atau pun di media IT lainnya, hanya akan mempertimbangkan berita yang ditulis oleh orang yang jelas identitasnya. Misalnya ketika membaca tulisan tentang hukum Islam, hanya dipercaya ketika ditulis oleh penulis yang memiliki pengetahuan hukum Islam (pakar hukum Islam).

C. Seleksi Isi Berita

Berita yang disampaikan dalam media massa dapat membentuk citra seseorang atau membentuk opini publik. Oleh sebab itu, berita yang disampaikan harus berita yang benar.  Dalam hal ini penyampai berita dan semua penerima berita harus dapat menyeleksi berita yang disampaikan dan diterimanya. Allah dalam ayat yang lalu (Q.S.al-Hujurat/49:6) telah memerintahkan orang mukmin untuk dapat melakukan penilaian dan selektif terhadap isi berita secara lengkap.

Ayat ini turun disebabkan oleh peristiwa tentang Zaid bin Uqbah yang ditugasi untuk memungut zakat ke suatu daerah, karena merasa takut sebelum sampai ke tempat tujuan, ia sudah kembali lagi ke Madinah.  Ia melaporkan kepada Rasulullah Saw. bahwa umat Islam di sana tidak mau membayar zakat, bahkan mereka mengancam akan membunuhnya.  Akhirnya Rasulullah Saw. mengutus utusan lagi untuk mengingatkan mereka.  Akan tetapi, kenyataan yang sebenarnya ternyata Zaid bin Uqbah tidak datang untuk mengambil zakat yang sudah mereka kumpulkan untuk dibawa ke Medinah. 

Dalam menyeleksi kebenaran berita, di samping dilihat dari sumber beritanya, juga harus ada klarifikasi dengan sumber berita atau bukti pendukung, karena di akhir ayat tersebut mengisyaratkan agar penerima berita tidak langsung mempercayai berita yang ada sebelum ada hasil penyelidikan dan klarifikasi tentang masalah yang diberitakan dan sebelum ada bukti pendukung. Menkominfo menyampaikan bahwa sebelum posting di medsos harus tabayyun 3 kali karena terkai dengan UU ITE. 

Kehati-hatian dalam menerima dan menyampaikan sesuatu, bukan berarti  menutup kesempatan untuk menyampaikan sesuatu kebenaran.  Dalam sebuah hadis Rasul menjelaskan bahwa kebenaran harus diungkapkan meskipun pahit.    Bahkan dalam hadis lain, Rasulullah Saw. mendorong orang untuk menyampaikan kebenaran tanpa takut resiko yang muncul.   Berita yang disampaikan dapat mempengaruhi pembaca atau penerima berita. Oleh sebab itu, kebenaran isi berita merupakan keniscayaan. 

Terkait dengan kondisi hari ini, banyak berita yang dapat diperoleh, jangan cepat percaya dan terpengaruh dengan berita yang ada, abaikan saja berita yang belum tentu benar.  Sikap kritis dan  selektif  menerima berita yang dibatasi pada berita yang benar. 

D. Seleksi Kelayakan Penyampaian Berita

Dalam pemberitaan harus ada pertimbangan dari dampak berita yang disampaikan, meskipun berita tersebut benar. Ada pertimbangan alur dan patut dalam pemberitaan. Kebenaran isi berita saja tidak cukup apabila kemudian berita itu berdampak negatif. Seleksi kelayakan penyampaian berita pernah dilakukan oleh Umar bin Khatab tentang hadis yang sering disampaikan Mu'az bin Jabal (w.18 H ) yang artinya: 

Dari Anas bin Malik, ketika Mu'az bin Jabal melakukan perjalanan bersama Rasul, Rasulullah memanggilnya sampai 3 kali dan bersabda: "Siapa yang di akhir hayatnya mengucapkan kalimat la ilaha illallah, pasti masuk surga, lalu Mu'az menanyakan bolehkah aku beritakan hadis ini kepada orang banyak untuk memberikan kabar gembira, Rasul mejawab: jangan, saya khawatir mereka akan kurang beramal."  

Hadis di atas muncul ketika Umar menanyakan kepada Rasul tentang hadis dimaksud benar-benar dari Rasulullah, Rasul menjawab: "benar" Rasulullah pernah menyabdakannya. Ketika Rasulullah bertanya kepada ‘Umar bin Khatab tentang alasannya mempertanyakannya, lalu ‘Umar menyatakan bahwa dengan pemahaman hadis itu, masyarakat jadi berkurang gairah ibadahnya. Menanggapi konfirmasi tersibut lalu Rasul bersabda: kalau hadis tersebut membawa pengaruh tidak baik seperti itu, maka  jangan disampaikan. 

Ada keharusan untuk mempertimbangan bahwa berita tersebut bermanfaat bagi penerima / pembaca. Hal ini untuk mengantisipasi dampak negatif yang akan muncul ketika berita tersebut disampaikan. Ketika berita yang benar itu pun akan berdampak negatif bagi penerima berita, maka tidak boleh disampaikan. 

E. Kesimpulan

Berdasarkan ketentuan yang sudah diungkapkan ada tiga tabayyun yang harus dilakukan, tabayun sumber berita, tabayyun kebenaran isi berita dan tabayyun kemanfaatan berita yang disampaikan. Dalam pemberitaan selalu terkait dengan sumber berita, penyampai berita, dan penerima berita, maka :

  1. Sebagai sumber berita tabayyun dilaksanakan dengan hanya menyampaikan berita yang benar dan tidak berdampak negatif bagi penerima berita, bukan berita bohong apalagi berita provokasi yang memicu terhadinya perpecahan.
  2. Sebagai pembawa berita tabayyun dilakukan dengan hanya menyampaikan berita yang sudah jelas sumber dan kebenarannya dan layak untuk diberitakan.  Karena ada juga berita yang benardan tidak pantas untuk diberitakan dan menjadi konsumsi publik.
  3. Sebagai penerima berita tabayyun dilakukan dengan cara tidak gegabah menerima berita apa lagi kemudian mempercayainya. Harus melakukan seleksi  sumber dan kebenaran isi beritanya.

Author PROF. DR. ENIZAR, M.AG

Berita Lainnya

Oleh : Prof. Dr. Enizar, M.Ag
Oleh : Prof. Dr. Enizar, M.Ag
Oleh : Prof. Dr. Enizar, M.Ag
Oleh : Prof. Dr. Enizar, M.Ag
Oleh : Prof. Dr. Enizar, M.Ag

Masukkan Komentar

2LaiW

Total Komentar (0)


Halaman :