• Telp : 0725-41507
  • Fax : 0725-47296
Diposting oleh Dharma Setyawan Tgl 12-08-2017 & wkt 02:55:09 dibaca Sebanyak 232 Kali

Metro, Pascasarjana IAIN Metro, Sesi pertama acara 7th Metro International Conference On Islamic Studies(MICIS) yang diadakan oleh Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro di Gedung Serba Guna IAIN Metro pada Sabtu (12/8). Pada sesi ini acara di isi oleh Dr. K.H. Marsudi Syuhud, MA yang merupakan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA, CBE dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Dalam kesempatan ini Dr. K.H. Marsudi Syuhud, MA berbicara tentang Religions and the Value of Life in Indonesia dan Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA, CBE menyampaikan materi tentang Wasathiyyah Islam for Harmony and Peace The Indonesian Experience.

Dr. K.H. Marsudi Syuhud, MA mengatakan bahwa sejarah berdirinya Indonesia tidak lepas dari peran para kyai dan para santri.

“Misalnya saja Nahdlatul Ulama mengutus KH. Wahid Hasyim sebagai panitia BPUPKI dalam rangka menyiapkan kemerdekaan Indonesia”, ujarnya.

Sebelum merdeka pada 17 Agustus 1945, lanjut K.H. Marsudi Syuhud, nusantara masih mencari format dasar negara yang sesuai. Pada tahun 1930 dan 1940an negara-negara di sekitar Indonesia juga melakukan hal yang sama yaitu mencari format dasar negara.

“Pada tahun 30 dan 40an, Malaysia, Brunnei, Thailand dan negara di sekitar Indonesia masih mencari format negaranya. Begitu juga dengan negara kita”, jelasnya.

Pada akhirnya seluruh rakyat Indonesia menyepakati bahwa Pancasila adalah format dasar negara terbaik bangsa ini. Pancasila dapat mengakomodir seluruh kepentingan rakyat Indonesia yang di terangkan lewat sila-silanya.

Sebagai negara dengan mayoritas muslim terbesar, islam di Indonesia terkenal dengan budaya persatuan. Indonesia memilki struktur sosial yang tidak di miliki oleh negara lain. Islam Indonesia mengambil nilai-nilai budaya yang ada di masyarakat yang sesuai dengan ajaran Islam.

Islam Indonesia merupakan islam yang mengakomodir local wisdom, budaya dan adat istiadat masyarakat setempat. Islam yang menerima budaya yang tidak bertentangan, tapi juga tidak menolak dengan kekerasan budaya masyarakat yang belum sesuai .

“Islam Indonesia memandang bahwa budaya yang sesuai harus diimplementasikan, sedangkan budaya yang tidak sesuai harus di modifikasi”, ujarnya.

Tidak ada keributan soal perbedaan di Indonesia, lanjut K.H. Marsudi Syuhud, yang ada adalah ribut soal perbedaan pendapatan. “Biasanya kalo ribut bukan soal perbedaan pendapat, tapi karena perbedaan pendapatan”, lanjut K.H. Marsudi Syuhud.

Budaya kumpul-kumpul di Indonesia merupakan salah satu karakter yang membangun karakter bangsa. Secara tidak sadar orang Indonesia telah membangun karakter bangsa dengan budaya kumpul-kumpul.

“Salah satu keistimewaan Indonesia adalah budaya kumpul-kumpul. Jika di hitung lebih dari 15 kali kumpul-kumpul dalam tradisi orang NU. Dari lahir sampai meninggal. Kumpul-kumpul ini maksudnya adalah genduren, syukuran atau berkatan. Itulah yang saya sebut sebagai Islam Nusantara”,  jelas KH. Marsudi Syuhud.

Sedangkan  Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA, CBE dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengatakan bahwa Islam Indonesia adalah Islam Nusantara berkemajuan.

“Saya katakan demikian karena islam di Indonesia merupakan islam yang khas yang memilki karakter istimewa”, ujar Prof. Azyumardi Azra.

Keistimewaan itu, seperti yang dikatakan oleh Kyai Marsudi terdapat tradisi islam yang kaya.

“Slametan, berkatan dan tasyakuran merupakan bagian dari tradisi islam yang memperkuat persatuan masyarakat di Indonesia”, jelasnya.

Islam di Indonesia, lanjut Prof. Azyumardi, merupakan islam yang sempurna yang sudah teruji oleh sejarah. Bagimana islam masuk ke Indonesia dengan jalan damai mengantikan agama besar sebelumnya yaitu hindu dan budha.

“Candi Borobudur sebagai prasasti peninggalan agama hindu budha, dimana pada waktu itu belum ada teknologi yang canggih untuk membangunnya. Candi Borobudur merupakan prasasti kebanggaan aama hindu budha. Tapi perlahan ajaran hindu budha bisa digantikan oleh agama islam secara damai tanpa menghancurkan prasasti peninggalan umat sebelumnya”, jelas Prof. Azyumardi.

Red

 

 

 

Berita Lainnya

Masukkan Komentar

Sb4Yv

Total Komentar (0)


Halaman :
Jajak Pendapat
Polling Management
Apakah Web ini sudah memberiakan informasi yang anda butuhkan?
601(45.5%)
TOTAL 1322
Statistik
Online : 1 User
Hits : 1345787
Hari Ini : 823
Bulan Ini : 25309
Tahun Ini : 303755
Total : 304147