• Telp : 0725-41507
  • Fax : 0725-47296
Diposting oleh Administrator Tgl 22-05-2014 & wkt 09:11:47 dibaca Sebanyak 1987 Kali

Kamis, Tanggal 27 Maret 2014 untuk kesekian kalinya Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Jurai siwo Metro, melaksanakan kegiatan wisuda mahasiswa. Acara ini di rangkaikan dengan perayaan Dies Natalis XVII STAIN Jurai Siwo Metro.

         Menurut ketua panitia pelaksana, Hemlan Elhany, M.Ag, STAIN Jurai Siwo Metro saat ini mewisuda sebanyak 411 orang mahasiswa yang meliputi : Jurusan Tarbiyah terdiri dari Program studi PAI sebanyak 94 orang, program Studi PBA sebanyak 25 orang, program studi PBI sebanyak 118, program Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) sebanyak 75 orang, dan Jurusan Syari'ah terdiri dari program studi Ekonomi Islam sebanyak 41 orang, Program Studi Ahwalus Syahksiyah sebanyak 16 orang dan Diploma III Perbankan Syari'ah sebanyak 20 orang, serta wisudawan Program Pascasarjana sebanyak 22 orang.

        Wisudawan terbaik pada Jurusan Tarbiyah, diraih oleh Rosya Gusnaida dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) dengan IPK 3,62 dengan predikat sangat memuaskan, wisudawan terbaik pada Jurusan Syari'ah, diraih oleh Yana Astria dari Program Studi Ekonomi Islam dengan IPK 3,70 dengan predikat sangat memuaskan, Wisudawan Terbaik Program Diploma III diraih oleh Devi Fattar Sari dari Program Studi D3 Perbankan Syari'ah dengan IPK 3,68 predikat Sangat memuaskan, wisudawan terbaik program pascasarjana (S2) diraih oleh Em Sapri dari Program Studi Hukum Keluarga dengan IPK 3,54 predikat Sangat memuaskan. Sementara Wisudawan Tercepat program Strata 1 (S1) diraih oleh Siti Rodiyatun dari Program Studi  Pendidikan Agama Islam (PAI) IPK 3,09 dengan masa studi 4 tahun 1 bulan, serta Lulusan Termuda program Strata 1 (S1)  diraih oleh Hanifudin dari Program Studi Ekonomi Islam (EI)  dalam usia 21 tahun 10 bulan 2 hari.

          Kepada para wisudawan yang telah menyelesaikan pendidikannya Ketua STAIN berpesan agar dapat mengamalkan ilmu yang telah diperoleh untuk kepentingan umat, agama dan bangsa.Setelah melalui fase pendidikan di Perguruan Tinggi diharapkan mahasiswa dapat berintegrasi, bersosialisasi dan mengabdikan dirinya untuk umat. Sebagaimana dalam sebuah adagium dinyatakan bahwa sebaik baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. 

Kesarjanaan bukan menjadi titik akhir dalam belajar dan menuntut ilmu karenanya justru terus memacu kita untuk terus menggali ilmu karena dalam Islam sangat dianjurkan untuk belajar sampai akhir hayatnya. Sehingga diharapkan para wisudawan jangan merasa puas dan cukup dengan ilmu pengetahuan yang telah diperolehnya selama di bangku kuliah, tetapi bagaimana senantiasa mengembang?kan wawasannya baik melalui jalur pendidikan formal dan non formal.
Sementara itu Dr. Yudiyanto, S.Si, M.Si.  dalam orasi ilmiyahnya yang berjudul "Islam, Sumber Daya Alam dan Lingkungan" menyampaikan Faktor utama terjadinya berbagai kerusakan sumberdaya alam dan lingkungan oleh manusia adalah cara pandang dan pemikiran yang kurang tepat dalam pemanfaatan SDA dan lingkungan. Paradigma tersebut menimbulkan pendekatan pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan yang parsial, antara lain:
a) Konsep pembangunan ekonomi yang lebih mengutamakan pertumbuhan kuantitatif dan belum menselaraskan dengan pertumbuhan kualitatif. Pengelolaan lingkungan hidup dan sumber daya alam cenderung diarahkan kepada kepentingan investasi dan selalu dipahami sebagai economic sense dan tidak dipahami sebagai ecological and sustainable sense. Dengan paradigma tersebut maka dapat dipahami bahwa kualitas lingkungan hidup akan terus menurun dari waktu ke waktu. 
b) Konsep pembangunan yang tidak memasukkan biaya sosial dan lingkungan (eksternalitas) kedalam perencanaan dan pengambilan keputusan. 
c) Kecepatan memproduksi atau eksploitasi sumberdaya alam lebih besar dari upaya memperbaiki lingkungan.  
d) Ketidakmampuan pemerintah dan lembaga terkait (stakeholders) dalam menyelesaikan masalah koordinasi. 
e) Masalah lingkungan hidup masih dinilai sebagai isu yang kurang penting, karena sering kali setelah ada pengambilan keputusan justru tidak ada tindak lanjutnya atau ditinggalkan. 
f) Terjebak pada logika upaya mudah dan murah tanpa mempertimbangkan dampak, hasrat membuat produk baru sebanyak-banyaknya meskipun diketahui dapat merusak lingkungan.

Berita Lainnya

Masukkan Komentar

xaT9o

Total Komentar (0)


Halaman :