• Telp : 0725-41507
  • Fax : 0725-47296
Diposting oleh Administrator Tgl 28-12-2017 & wkt 03:30:32 dibaca Sebanyak 76 Kali

Metro, metrouniv.ac.id - Dalam acara Diseminasi Paradigma Transformatif Penelitian, Pengabdian dan Publikasi yang di laksanakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro bekerjasama dengan Ditjen Pendis Kemenag RI salah satu pembicara yaitu Dr. Rumadi, MA dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta.

Pada Kamis (28/12/17) di Gedung Serba Guna IAIN Metro, Dr. Rumadi berbicara tentang penelitian transformatif. Menurutnya penelitian transformatif bukan hanya melihat bagaimana perubahan itu sendiri. Tapi bagaimana ikut dalam perubahan.

"Menurut saya peneliti juga boleh melakukan perubahan. Ada seorang teman dosen filsafat di UI  Donny Gahral Hadian, menulis bahwa  dia mempertanyakan peneliti harus mengambil jarak dari yang diteliti. Di Indonesia kita punya tradisi kelompok LSM yaitu mereka melakukan riset biasanya mereka punya pemihakan. Apakah akan diarahkan dalam paradigma objektif atau paradigma transformatif. Bahwa penelitian yang dilakukan selain meneliti juga melakukan gerakan perubahan. Selain itu, peneliti juga harus memiliki kemampuan untuk melakukan perubahan. Kemampuan melakukan problematisasi ini yang penting untuk dilakukan. Peneliti-peneliti luar negeri bisa melakukan problematisasi ini sehingga sesuatu yang kecil menjadi sesuatu yang besar," terang Rumadi.

Chares Hoffman menemukan pertanyaan misalnya, kenapa orang Islam yang menjadi teroris sedikit. Kenapa dunia internasional meresponnya luar biasa. Itu salah satu contoh kemampuan melakukan problematisasi persoalan. Orang mati karena bom, berbeda menyikapi dengan korban pesawat, atau karena kereta api. Peneliti mencari data sebab kematian. Kematian per hari dari 2000-2010 akibat terorisme tidak sampai 10 orang. Sedangkan korban dari kecelakaan pesawat dan kereta itu lebih dari 500 orang. Pertanyaannya kenapa dunia merespon kematian dari terorisme melebihi yang lainnya.

"Jangan pernah merasa penelitian anda paling baru. Kemampuan untuk memproblematisasi persoalan itu menjadi penting. Penelitian yang masalahnya nggak jelas, tidak bisa melakukan problematisasi, persoalannya kurang, menurut saya tidak menarik," tambahnya.

Jika mendiskusikan Islam Nusantara misalnya, kemampuan untuk beradaptasi dengan perkembangan politik, rumusan Pancasila tidak mempertentangkan antara Islam dan Pancasila. Tradisi hukumnya yang digunakan yaitu menerima nasionalisme dan Pancasila adalah sikap adaptasi Islam Nusantara yang menarik untuk di pelajari. Tradisi manhaj politiknya, bagaimana menyebarkan dakwahnya. Sulit menemukan kondisi di Indonesia dengan muslim 87% tapi keberislaman tanpa pertumpahan darah. Ini susah ditemukan ditempat lain. Ini menjadi tema menarik.

"Kalau kita meneliti jangan hanya melihat konfliknya. Akibat dari wilayah yang tidak ada konflik seolah bukan menjadi persoalan riset. Padahal banyak tempat yang bisa menjadi konflik namun bisa bertahan menjadi tempat harmoni. Misalnya kabupaten Pahuwatu di Gorontalo yang berbatasan dengan Poso. Secara teoretik daerah ini sudah pecah konflik, tapi nyatanya tetap damai," jelasnya.

Upaya untuk membangun perdamaian menjadi tema penting untuk para peneliti. "Kadang-kadang yang diteliti itu peace building-nya itu juga menarik. Ada persoalan-persoalan ini menarik mengangkat peace building-nya. Kalau riset Indonesia yang ditampilkan konfliknya maka orang luar yang membaca akan melihat banyak terorisnya. Padahal kalau kita mau membangun Indonesia kita juga harus memperlihatkan harmoni terutama peace building-nya," Pengurus Pusat Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Nahdlatul Ulama (PP Lakpesdam NU).

Berita Lainnya

Masukkan Komentar

OR3n0

Total Komentar (0)


Halaman :