• Telp : 0725-41507
  • Fax : 0725-47296
Diposting oleh Tgl 20-08-2017 & wkt 11:35:00 dibaca Sebanyak 105 Kali

"Nakal boleh, bodoh jangan" merupakan wejangan dari bapak pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Kata-kata ini menunjukan bahwa masyarakat Indonesia khususnya para pelajar haram hukumnya untuk tidak belajar sehingga menjadikan mereka bodoh. Dalam tulisan ini penulis akan memberikan segmentasi khusus terhadap mahasiswa yang tidak lain merupakan agen pembaharu.

Penafsiran terhadap dawuh tersebut berarti mendefinisikan bahwa nakal itu lebih baik daripada bodoh. Meskipun demikian, kata nakal dalam hal ini juga menjurus kepada suatu perbuatn yang masih dalam tataran koridor yang lumrah maksudnya jangan mengartikan bahwa nakal berarti senakal-nakalnya seperti membuat onar, sok hebat, membakar ban, dan teriak-teriak.

Seperti yang diketahui bahwasanya kekuatan terbesar dalam suatu instansi perguruan tinggi terletak pada diri mahasiswanya, bukan pada Rektor, Ketua Jurusan, Ketua Prodi, maupun dosen. Mahasiswalah yang menjadi refleksi dari akuntabilitas dan kredibilitas suatu perguruan tinggi.

Jadi, untuk menunjukan suatu refleksi yang baik dan turut mengaplikasikan wejangan Ki Hadjar maka mahasiswa itu tidak boleh bodoh. Loh kan kapasitas otak dan daya tangkap setiap mahasiswa berbeda ? pertanyaan pragmatis yang sebenarnya adalah bentuk dari dalih untuk tidak meningkatkan kinerja otak.

Perlu diketahui bahwa tidak ada manusia yang terlahir bodoh melainkan mereka hanya malas dan nyaman dengan kebodohanya. Seekor kambing yang menjilat kemaluan kambing lain setelah ia kencing lalu meringis adalah tamsil Orang bodoh yang tidak tahu bahwa dirinya bodoh. Apalagi mahasiswa yang notabenenya berada dalam kasta tertinggi penyerap pendidikan.

Eksistensi, pola pikir, mind set, dan responsibilitas mahasiswa jauh diatas mereka yang masih duduk dibangku sekolah menengah. Pengembangan potensi diri dengan cara mencari literasi sebanyak mungkin merupakan hal-hal yang wajib dilakukan oleh mahasiswa.

Mahasiswa yang berada dalam posisi nyaman akan sangat membahayakan, selain jelas melakukan dosa intelektual mereka juga tidak akan berkembang. Apalagi untuk menyentuh kata maju saja mereka akan sangat merasa berat. Akan tetapi, mahasiswa yang progresif adalah keniscayaan.

Mereka akan menjadi mahasiswa yang kredibel apabila mereka berani melawan rasa malas dan senantiasa Iqro' atau membaca. Maksudnya banyak membaca buku, membaca situsasi, membaca permasalahan, dan membaca segala sesuatu yang ada di lingkungan sekitar mereka.

Selain membaca seharusnya mahasiswa harus secara masif mengembangkan kemampuan beretorika. Hal tersebut bisa diawali dengan tidak membaca saat presentasi. Selain itu,  aktif mengikuti forum diskusi diluar kelas akan menambah kemampuan dialektika para mahasiswa. Daya nalar dan pemahaman terhadp suatu masalah akan membuat mereka lebih peka terhadap isu-isu yang terjadi.

Setelah membaca dan diskusi maka kebutuhan mahasiswa adalah menulis. Menulis menjadi suatu hal yang sangat penting karena dengan menulis mahasiswa akan mampu menyalurkan buah pemikiran, aspirasi, serta kritik yang bersifat membangun terhadap topik yang diangkat. Menulis akan membuat mereka senantiasa memaksimalkan kinerja otaknya sehingga dengan kata lain mereka telah turut berjihad memerangi kebodohan, setidaknya untuk mereka sendiri.

Bukankah lima tahun kedepan hidup kalian ditentukan dari tiga hal utama yaitu, buku apa yang telah dibaca, kepada siapa bergaul, dan apa yang telah dilakukan. Jadi dengan membaca, diskusi, dan menulis mahasiswa akan terhindar dari kebodohan dan mendiang Ki Hadjar akan sangat berbangga hati melihat keseriusan mahasiswa dalam belajar.

Apa mahasiswa dengan pemikiran akademisnya masih menharapkan Bejo ? apabila benar demikian maka folosofi jawa tentang Bejo yang benar adalah, Sak Bejo-Bejane Wong Bodo, Luwih Bejo Wong Eling lan Waspodo. Nakal boleh, bodoh jangan.

Penulis: Julianto Nugroho (Mahasiswa IAIN Metro)

Berita Lainnya

Masukkan Komentar

WAaoO

Total Komentar (0)


Halaman :