• Telp : 0725-41507
  • Fax : 0725-47296
Diposting oleh Tgl 16-09-2016 & wkt 01:36:59 dibaca Sebanyak 2748 Kali

TANAH DAN KEKAYAAN ALAM DALAM PERSPEKTIF
TEOLOGI ISLAM
 
Oleh : Abdul Mujib
Dosen STAIN Jurai Siwo Metro
Mahasiswa Doktoral IAIN Radin Intan Lampung

Secara definitif tanah bisa diartikan sebagai media tumbuh tanaman, secara kimiawi tanah didefinisikan sebagai gudang penyimpanan dan penyuplai unsur hara, secara biologis, tanah merupakan habitat biota (organisme) yang berpartisipasi aktif dalam penyediaan hara tersebut dan zat-zat aditif (pemacu tumbuh, proteksi) bagi tanaman, yang ketiganya secara integral mampu menunjang produktifitas tanah untuk menghasilkan biomass dan produksi baik tanaman pangan, tanaman obat-obatan, industri perkebunan, maupun kehutanan.
 
Di dalam al-Qur’an, tanah disebutkan sebagai mustaqar, tempat hunian di mana manusia menetap selama hidupnya di dunia. Tidak sekedar itu, tanah adalah tempat manusia berasal, tempat manusia berpijak, dan tempat manusia kembali dalam kematiannya. Dari tanah pula tumbuh-tumbuhan, pohon-pohonan, dan sejumlah hewan hidup dan berkembang biak. Dengan demikian, tanah sangat penting bagi kehidupan manusia, tidak saja karena sebagian makanan berasal, tetapi juga tanah bisa digunakan sebagai alat bersuci untuk kepentingan ibadah dan sumber air keluar.
 
Bumi juga dalam al-Qur’an disebut sebagai matâ’, tempat yang memberikan kenyamanan bagi manusia selama tidak diotak-atik oleh tangan jail manusia yang serakah. Disebut tempat kenyamanan (matâ’) karena bumi menyediakan segala kebutuhan hidup yang akan menjamin kelangsungan hidup manusia. Bumi dengan segala isinya semuanya diangkat menjadi pembicaraan al-Qur’an supaya mendapatkan perhatian yang serius dari manusia. Dari bumilah kebutuhan makan, minum, sandang, pangan, dan segala kehidupan yang lain, termasuk minyak bumi dan tambang-tambangnya, bisa digali dan diperoleh. Semua ini adalah nikmat Allah yang mendukung keberlangsungan hidup manusia dan kehidupan dimuka bumi.
 
Allah telah menjadikan bumi (tanah) untuk kepentingan bersama semua makhluk Allah. Tidak ada hak istimewa pada suatu pihak atau kelompok untuk memonopoli atau menguasai bumi (tanah) untuk kepentingan mereka sendiri (baca: privatisasi sumber daya alam), tetapi justru yang ditekankan adalah bagaimana bumi (tanah) itu dikelola secara adil untuk kemakmuran dan kesejahteraan bersama. Ketika yang menyeruak dalam pengelolaan bumi/tanah beserta seluruh kekayaan alamnya adalah monopoli sekelompok orang tertentu (para pemilik modal), maka yang terjadi adalah perilaku eksploitatif yang berakibat tidak saja akan merugikan masyarakat secara umum, tetapi keseimbangan alam menjadi terancam. Banyak contoh bencana terjadi selama ini akibat ulah manusia yang serakah, manipulatif dan eksploitatif itu. Lihat misalnya, bencana tanah longsor, banjir, dan global warming yang terjadi akhir-akhir ini. Hasil pengamatan menunjukkan, bahwa semua itu diakibatkan oleh penggunaan lahan yang tidak proporsional dan sewenang-wenang (overeksploitasi). Maka jangan salahkan Tuhan ketika menurunkan bencana itu kepada umat manusia, tetapi tengok dan cermati, bahwa itu adalah akibat perilaku manusia yang mementingkan dirinya sendiri.
 
Tanah atau lingkungan yang kini banyak dieksploitasi di luar batas, sesungguhnya telah membawa banyak bencana. Hal ini sebenarnya sudah diingatkan dalam kitab-kitab suci. Dalam Alquran misalnya, ada perspektif teologis tentang tanah. Manusia diciptakan dari tanah, hidup di atas tanah, dan nanti dikubur atau dikembalikan ke dalam tanah. Ini artinya tanah itu milik Allah (ardhu-Allah). Manusia hanyalah khalifah yang ditugasi merawat, dan menjaganya. “Janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi”, demikian firman Allah. Karenanya Hasan Hanafi, seorang intelektual Muslim dari Mesir, pernah mengungkapkan pandangannya tentang “teologi-tanah”. Baginya persoalan reforma agrarian (pertanahan) hendaknya diposisikan dalam rangkaian keyakinan pembebasan, teologi pembebasan (lâhût al-taharrur). Ia merujuk bahwa kehadiran ajaran monotheisme (Islam) adalah wujud dari pembebasan dari penghisapan manusia atas manusia (exploitation de I’homme par I’homme). Di mana kehadirannya diawali dengan proses kesaksian aktif, karena dimulai dengan bentuk negatif (nafy: lâ ilâha) sebagai negasi atas segala kekuatan penindas di sekitar kita; lantas dimantapkan keyakinan dengan bentuk al-istbât (illa Allâh). Dengan ungkapan lain, di sana terdapat pengakuan (prinsip pengiyaan) terhadap tidak adanya kekuatan (prinsip peniadaan) yang melampaui batas selain Allah SWT. Maka dari itu, setiap kekuatan yang melebihi batas kekuatan dan kekuasaan Allah SWT termasuk berwujud mengeksploitasi maupun menelantarkan, terlebih lagi memusatkan semua sumber agraria- adalah sebagai bentuk berhala modern.
 
Dalam al-Qur’an banyak ayat yang memperingatkan kepada manusia untuk tidak melakukan tindakan yang merusak harmoni alam. Penciptaan alam raya termasuk lingkungan kosmos manusia (tanah, air dan udara) adalah telah ditentukan qadar (ukuran, hukum) nya, sehingga merusaknya adalah berarti merusak qadar Allah. Dalam al-Qur’an surat al-A’raf ayat 56 dinyatakan:“Janganlah membuat kerusakan di muka bumi (dunia) sesudah direformasi, berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut dan rindu; rahmat Allah selalu dekat kepada orang yang berbuat baik” 
Ungkapan “janganlah berbuat kerusakan di muka bumi sesudah direformasi” –dalam surat al-A’raf ayat 56 di atas – mengandung makna ganda.
 
Pertama, larangan merusak bumi setelah perbaikan (ishlâh) yaitu saat penciptaan bumi oleh Allah sendiri. Makna ini menunjukkan tugas manusia untuk melindungi bumi itu yang sudah merupakan tempat yang baik bagi hidup manusia. Jadi tugas reformasi berkaitan dengan usaha pelestarian lingkungan hidup yang sehat dan alami.
 
Kedua, larangan membuat kerusakan di bumi setelah terjadi reformasi atau perbaikan oleh sesama manusia. Hal ini bersangkutan dengan tugas reformasi aktif manusia untuk berusaha menciptakan sesuatu yang baru, yang baik (shâlih) dan membawa kebaikan (mashlahah) untuk manusia. Tugas kedua ini, lebih berat dari tugas pertama, memerlukan pengertian yang tepat tentang hukum-hukum Allah s.w.t. yang menguasai alam ciptaan-Nya, diteruskan dengan kegiatan bertindak sesuai dengan hukum-hukum itu melalui rekayasa teknologi (technological engineering). Lebih dari tugas pertama, pemanfaatan alam ini harus dilakukan dengan daya cipta dan kreasi yang tinggi, dan dengan menggunakan prinsip-prinsip keseimbangan.
 
Reformasi dunia yang diajarkan oleh al-Qur’an berlandasakan pada prinsip keadilan dan kejujuran, khususnya dalam kegiatan sosial-ekonomi yang melibatkan proses pembagian kekayaan dan pemerataannya antara warga masyarakat. Sebab, dunia yang sudah direformasi itu tidak boleh mengenal terjadinya perolehan kekayaan secara tidak sah dan tidak adil. Bahkan juga tidak boleh terjadi penumpukan kekayaan begitu rupa (kapitalisasi) sehingga harta benda dan sumber hidup masyarakat beredar diantara orang-orang yang kaya saja (kaum borjuis) dalam masyarakat.
Ajaran tentang pemerataan sumber daya hidup masyarakat (sosialisme) itu jelas sekali disebutkan dalam al-Qur’an. Memang, Islam sangat concern dengan perhatiannya terhadap kaum tertindas, tertekan, dan teraniaya. Sampai-sampai Tuhan menjanjikan dalam al-Qur’an bahwa dengan perjuangannya, mereka akan dimenangkan untuk mewarisi bumi. Dalam ungkapan yang berbeda, karakter sosialistik dalam Islam dapat dinisbatkan pada upaya perwujudan nilai-nilai perjuangan pemusnahan penindasan bagi orang-orang miskin dan tertindas serta persamaan hak dan kewajiban di antara seluruh masyarakat. Dalam kaitannya dengan ini, Muhammad Hussain menandaskan bahwa al-Qur’an sebagai prinsip dasar ajaran Islam adalah perjuangan mewujudkan solidaritas kemanusiaan, melawan sistem kapitalisme, feodalisme, dan menciptakan persamaan manusia tanpa perbedaan kelas.
 
Memang, dalam kapasitasnya sebagai sebuah agama samawi, Islam bukan sekedar doktrin monolitik yang mengajarkan hubungan manusia dengan Tuhannya (hablum minallah) an sich sebagaimana agama-agama yang dilahirkan sebelum Islam. Lebih dari itu, Islam benar-benar hadir untuk memberi solusi atas kompleksitas permasalahan umat manusia secara integral (termasuk permasalahan tanah dan kekayaan alam lainnya) dan berusaha memasuki seluruh wilayah dalam sisi-sisi kehidupan masyarakatnya. Dalam konteks inilah, kita dapat memahami ajaran atau perintah umum terhadap pemerataan pembagian aset dan kekayaan nasional dalam Islam.

Di sadur dari berbagai sumber

Berita Lainnya

Masukkan Komentar

7xDUC

Total Komentar (0)


Halaman :