• Telp : 0725-41507
  • Fax : 0725-47296
Diposting oleh Tgl 16-02-2017 & wkt 02:27:18 dibaca Sebanyak 811 Kali

BERHARAP REVOLUSI MENTAL PENDIDIKAN

Oleh: Buyung Syukron

Dosen IAIN Metro

 

Revolusi Mental dimaknai sebagai sebuah perubahan mindset (pola pikir) didalam kehidupan berbangsa. Revolusi mental tidak cukup mengandalkan niat baik, namun harus memperhitungkan perubahan struktural dalam interaksi masyarakat. Diranah pendidikan, revolusi mental harus mempertimbangkan struktur pemaknaan, dominasi, dan legitimasi. Ketiga hal ini mengkondisikan pola pikir pelaku pendidikan, Sistem Pendidikan, dan struktur lembaga pendidikan itu sendiri. Orientasi perubahan sebagai dampak dari implementasi revolusi mental harus ditunjukkan dengan wujud berupa peningkatan pelayanan pendidikan demi kesejahteraan masyarakat. Lembaga Pendidikan diharapkan mampu mengurai tentang ketidakadilan, kesewenangan dan membuat manusia dalam memandang, merasa, berfikir, dan bertindak secara lebih rasional dan bijaksana.

Kesadaran akan pentingnya mencari format baru paradigma pendidikan semakin mewarnai wacana dunia pendidikan saat ini. Kekerasan demi kekerasan yang terjadi dan kerap mewarnai dunia pendidikan kita semakin menunjukkan kepada kita bahwa dunia pendidikan kita saat ini mulai terancam integritasnya. Integritas yang diharapkan mampu melahirkan manusia berkarakter yang lahir atas sistem, struktur dan prosedur pendidikan yang arif dan bijaksana. Kasus meninggalnya Mahasiswa STIP Jakarta, semakin membukakan mata kita bahwa kentalnya nuansa kekerasan dalam dunia pendidikan semakin "membabi buta". Pertanyaannya, dimana karakter dan jati diri Pendidikan kita saat ini?". "Masih bisakah kita berharap dengan dunia pendidikan kita untuk memberlakukan sistem pendidikan yang lebih berkarakter?". Dalam konteks pertanyaan ini, tentu masih muncul segumpal keinginan dalam sebuah perspektif harapan pada diri penulis, tentang pentingnya pandangan-pandangan yang menuntut perubahan mendasar dari pola pendidikan di Indonesia selama ini. Pandangan yang saat ini menjadi fokus perhatian menurut Penulis adalah perlunya pengembangan konstruksi revolusi mental dalam pendidikan kita. Revolusi mental perlu diawali dari dunia pendidikan, maka dari itu, jatah untuk pendidikan karakter harus dinaikkan persentasenya. (Kompas, 10 Mei 2014)

Dalam pengertian sederhana dan umum, Penulis melihat makna revolusi mental dalam perspektif pendidikan tidak hanya sekedar diorientasikan pada aspek normatif saja. Pendidikan bertujuan tidak sekedar dikonsepsikan dan diimplementasikan sebagai sebuah proses alih budaya atau alih ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), tetapi juga sekaligus sebagai proses alih nilai (transfer of value). Artinya bahwa Pendidikan, di samping proses pertalian dan transmisi pengetahuan, juga berkenaan dengan proses perkembangan dan pembentukan kepribadian atau karakter masyarakat. Dalam rangka internalisasi nilai-nilai budi pekerti kepada peserta didik, maka perlu adanya optimalisasi pendidikan. Perlu kita sadari bahwa fungsi pendidikan Nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembanganya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlakul karimah, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

URGENSITAS REVOLUSI MENTAL DALAM PENDIDIKAN

Dalam konteks pendidikan, revolusi mental atau building education harus dilihat sebagai sebuah keniscayaan. Dengan kata lain lembaga pendidikan harus mampu menjadi lembaga yang mampu memberikan konsep nyata sekaligus menjadi pilot project dalam upaya menumbuhkan karakter pendidikan yang berkualitas. Tidak saja terbatas pada konsep sistem semata, tetapi juga konsep revolusi mental dalam seluruh aspek dan dimensi.  Revolusi mental atau building education harus dimulai dan diawali dengan pembangunan karakter terlebih dahulu. Pembangunan karakter sebagai basis dari revolusi mental pada lembaga pendidikan harus dilihat sebagai sebuah usaha penting dalam menciptakan lembaga pendidikan yang kompetitif dan berkontribusi pada semua aspek. Dalam term ini, revolusi mental harus mampu menunjukkan hasil yang nyata dan dapat dijadikan sebagai sebagai alat ukur untuk menentukan sampai di mana lembaga pendidikan mampu berikiprah dalam pembangun bangsa ini. Sehingga memunculkan image, revolusi mental atau building education membentuk  Positive character seluruh komponen dan elemen yang ada di dalamnya. Agar Positive character terbentuk maka bangunan revolusi mental atau building education perlu dilakukan melalui sebuah mekanisme dan proses pembiasaan, mandiri, santun, tangkas, kreatif, rajin bekerja, dan punya tanggung jawab.

Hakekat dari revolusi mental dalam pendidikan harus mampu menghapus budaya atau tradisi "jahiliyah" yang tidak mendidik, mulai dari korupsi, kolusi, etos kerja yang rendah, intoleransi terhadap perbedaan, ingin menang sendiri, sampai pada kemungkinan munculnya sifat oportunis.  Mengingat urgensitas revolusi mental, maka sekali lagi sudah selayaknya Program tersebut mendapatkan apresiasi positif untuk di sustain oleh seluruh lembaga pendidikan (mulai dari pendidikan dasar sampai pada Perguruan Tinggi) dalam upaya pembangunan karakter sekaligus penguatan sistem kelembagaan secara komprehensif. Disinilah diperlukan sinergitas yang berkelanjutan inter dan intra elemen lembaga pendidikan yang betul-betul memahami revolusi mental sebagai alat dan media perubahan secara nyata, bukan hanya sekedar wacana, agar wajah dan potret pendidikan kita benar-benar bermakna dan bernilai.

IMPLEMENTASI REVOLUSI MENTAL DI LEMBAGA PENDIDIKAN

Dalam konteks implementasi revolusi mental dalam lembaga pendidikan, maka menurut Penulis, tidak akan bisa terlepas dari tugas pokok dan fungsi penyelenggaraan lembaga pendidikan itu sendiri. Bahwa lembaga pendidikan memiliki tugas pokok dan fungsi memberikan pelayanan dan peningkatan kualitas dalam bidang pendidikan secara equal, merata, berkeadilan dan menyeluruh pada seluruh sendi kehidupan bangsa.

Terkait dengan hal di atas, maka implementasi revolusi mental dalam perspektif dan prospektif lembaga pendidikan adalah bagaimana membangun sebuah kesadaran yang tinggi dalam menyelenggarakan sistem, proses, prosedur, dan struktur yang berbasis pada implementasi nilai-nilai, norma, dan semangat spiritual yang terkandung dalam ghirah kependidikan itu sendiri. Menurut analisis penulis paling tidak ada dua Grand design kesadaran yang harus terwujud dalam implementasi revolusi mental dalam lembaga pendidikan, yaitu : Pertama, perlunya membangun kesadaran yang sangat mendasar kepada seluruh sumber daya manusia dilingkungan lembaga pendidikan serta seluruh stakeholdernya. Kedua, munculnya pemahaman bahwa pengabdian dilingkungan pendidikan sangat berbeda jika dibandingkan dengan pengabdian dilingkungan lainnya. Postur kerja dan target capaian di lingkungan pendidikan memiliki banyak tugas yang uncountable (tak terukur) atau setidaknya sulit untuk diukur, khususnya menyangkut pada pembinaan penyelenggaraan kependidikan, peningkatan pemahaman stakeholder akan eksistensi lembaga pendidikan, dan lain-lain.

Melihat realitas tersebut, maka implementasi revolusi mental pada lembaga pendidikan juga menyangkut tentang adanya pemahaman yang "radikal" bahwa pengabdian pada lembaga pendidikan tidak saja berhenti pada konsep-konsep keterukuran kinerja sebagaimana yang dituntut kesesuaian antara renstra dan indikator kinerja utama yang telah dirumuskan oleh lembaga pendidikan tersebut, namun perlunya membangun kompleksitas pemahaman yang memiliki nilai-nilai transendental juga. Inilah filosofis revolusi mental dalam lembaga pendidikan, harus terkesan dan berkesan sebagai sebuah ekspresi akan kerinduan jiwa dan mental seluruh elemen dan komponen yang ada di dalamnya untuk membangun sebuah sistem dan pranata kerja dan kinerja yang berelasi dengan ekpresi akan kecintaan terhadap tugas yang disandangnya, berelasi secara utuh dalam kepribadian yang total dalam entitas kerja dan kinerja yang otentik dan faktual. Otentitas revolusi mental dalam bingkai lembaga pendidikan tidak hanya berbicara bagaimana idealisme dalam bentuk-bentuk hasrat pribadi terpenuhi dengan cara yang benar dan sesuai, melainkan dari sebuah gerak idealisme yang mampu membawa kebaikan bagi orang lain. Dengan kata lain, implementasi revolusi mental dalam lembaga pendidikan adalah transformasi menyangkut keutuhan tiga aspek, yaitu lembaga pendidikan yang terpercaya, lembaga pendidikan yang berfikir, dan lembaga pendidikan yang bergerak, yang mencakup skala luas, seluas bangsa ini. Secara aplikatif revolusi mental dalam lembaga pendidikan mengandung makna pendidikan yang berbasis pada proses membangun jati diri bangsa. Pendidikan yang dilaksanakan berlandaskan dan/atau untuk mewujudkan "karakter jati diri".

 

KESIMPULAN

Catatan akhir (simpulan) dari tulisan tentang revolusi mental dalam lembaga pendidikan ini adalah bahwa ketika revolusi mental menghendaki (membidik) transformasi karakter, hendaknya tidak diartikan sebagai pengurangan porsi pendidikan kognitif. Yang patut kita cermati dalam paradigma implementasi revolusi mental ini adalah sifatnya yang selalu membangun keseimbangan atau harmoni atau ekuilibrium. Dengan kata lain, komponen-komponen tertentu yang bertindak menyimpang, atau tidak menjalankan peranan yang seharusnya, akan disingkirkan atau diredam, dan digantikan oleh komponen yang lain.

Dalam konteks ekspektasi ini, kita terlebih dahulu harus menyepakati bahwa paradigma implemnetasi revolusi mental dalam lembaga pendidikan harus kita mulai dari filosofi pendidikan terlebih dahulu, sebelum memasuki ranah yang lebih teknis. Apa sesungguhnya filosofi pendidikan kita? Dari mana sejumlah karakter positif seperti tidak korupsi, tidak nepotisme, tidak kolusi, mandiri, berinisiatif, inovatif, toleran, dan sebagainya kita mulai bangun? Penulis kira hanya proses pendidikan yang mampu menjawab dan menggarap hal itu. Pendidikan bukan sekadar teknis seperti susunan kurikulum, menambah atau mengurangi jumlah mata pelajaran, nilai kredit setiap mata pelajaran, atau membangun gedung dan fasilitas lainnya, melainkan membangun suatu pemahaman filosofis mengenai membangun manusia Indonesia baru dengan karakter-karakter positif yang sudah dibicarakan di atas. Menurut saya, inilah esensi dari Paradigma implementasi Revolusi Mental tersebut. Dengan kata lain, Revolusi Mental tak lain adalah revolusi pendidikan itu sendiri.

Berita Lainnya

Masukkan Komentar

7iW3b

Total Komentar (0)


Halaman :
Jajak Pendapat
Polling Management
Apakah Web ini sudah memberiakan informasi yang anda butuhkan?
601(45.5%)
TOTAL 1322
Statistik
Online : 1 User
Hits : 1345765
Hari Ini : 801
Bulan Ini : 25287
Tahun Ini : 303733
Total : 304125