• Telp : 0725-41507
  • Fax : 0725-47296
Diposting oleh Tgl 24-10-2017 & wkt 07:55:21 dibaca Sebanyak 79 Kali

Di era masyarakat post-modern, iklan mampu mengeksploitasi nilai guna dengan nilai tukar yang semu, dengan rangkaian image untuk menyebarkan benda-benda kepada konsumen. Lewat iklan, produsen tidak hanya menyebarkan informasi tentang produk yang bisa dikonsumsi masyarakat, melainkan secara terus-menerus mempengaruhi, membujuk, merangsang, dan menciptakan kebutuhan baru secara seragam dan universal (Kasiyan, 2008).

Idiom, slogan, nada, dan kata-kata yang ditampilkan dalam iklan ketika terus menerus diulang, maka tidak lagi penting konteks situasinya, karena di benak masyarakat telah terkonstruksi sedemikian rupa atas seluruh makna simbolis yang ditawarkan iklan. Baik pada saat menonton iklan tertentu di berbagai macam media, maka yang otomatis yang menjadi referensi adalah pengetahuan tentang produk sebagaimana diiklankan secara berulang-ulang di media massa. Bahasa dalam iklan adalah bahasa sugestif dan manipulatif. Ketika bahasa iklan terus menerus diperdengarkan atau diperlihatkan kepada khalayak, maka pelan namun pasti bahasa itu akan menjadi ideologi yang diyakini layaknya sebuah kebenaran.

Di tengah persaingan produsen yang semakin sengit, tidak mudah bagi produsen untuk terus-menerus menghasilkan ide iklan yang kreatif, brilian, kreatif, dan terus dikenang konsumen. Iklan yang efektif bukanlah iklan yang "main tembak langsung," tetapi justru iklan yang efektif adalah iklan yang penuh makna simbolis namun mudah dicerna masyarakat. Ibarat penulis saat akan berkenalan dengan gadis pujaan, makan iklan harus memberi kesan yang menggoda dan mengakar di hati. Oleh karena itu, produsen harus melakukan riset yang mendalam tentang karakteristik sosial, psikologis, dan kultur masyarakat yang menjadi sasaran komoditasnya. Iklan yang efektif adalah iklan yang mampu "membetot" hasrat konsumen dan menggairahkan hidup masyarakat dengan imajinasi-imajinasi yang kontekstual.

Makna dan pesan dalam iklan

Menurut Suyanto (2013), iklan pada umumya memilki dua makna yang inhern/melekat di dalamnya, yakni: pertama, makna visual. Artinya, priduk apapun yang ditawarkan dalam iklan dengan cepat harus dapat dilihat oleh konsumen secara visual, paling tidak efek atau manfaat apa yang dijanjikan dalam iklan atas produk yang ditawarkan dalam iklan. Tampilan visual produk yang diiklankan tidak harus sama persis seperti  produk aslinya, melainkan bisa berupa grafis, sketsa, gambar, cerita atau apapun yang dengan cepat akan mengasosiasikan pikrian konsumen pada produk yang ditawarkan. Iklan mie instan, misalnya seringkali menampilkan adegan seseorang atau sekelompok orang tengah makan dan asyik menikmati mie instan, entah yang menawarkan rasa "kriuk" atau rasa lainnya.

Kedua, makna simbolis, yaitu berkaitan dengan kemampuan konsumen untuk menafsirkan tujuan yang hendak dicapai ketika produsen melalui iklan yang dikemas. Sekadar contoh: sebuah iklan yang menawarkan air mineral yang menyegarkan, tidak selalu harus diperlihatkan adegan orang yang sedang minum melepas dahaganya, tetapi cukup memperlihatkan seorang remaja putri bertubuh langsing melompat lincah, sementara disampingnya tampak galon air mineral merek tertentu, maka yang penting di sini pada akhirnya adalah penafsiran konsumen masing-masing. Seseorang bisa saja menafsirkan iklan itu bermaksud memberitahu, "Jika ingin langsing, minumlah air mineral merek ini!" dan orang lain bisa menafsirkan, "Jika kita usai berolahraga atau senam, maka minuman yang sehat adalah air mineral merek ini."

Sebuah iklan bisa juga menampilkan hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan produk yang dijual. Di indonesia misalnya, pemerintah memberikan batasan kepada produk tertentu -rokok misalnya- untuk tidak diperlihatkan secara langsung kepada konsumen dalam iklannya. Untuk menyiasati hal ini, maka seorang kreator pembuat iklan harus mampu mencari jalan lain agar tetap dapat mempromosikan produk rokok.

Sebuah iklan menggambarkan sekelompok pemuda menaiki mobil jeep menyeberangi sungai dan menembus hutan, kemudian tiba di sebuah padang rumput yang di ujungnya terdapat tebing batu, lantas mereka mendaki tebing dan melakukan olahraga ektrim lainnya di situ. Di ujung iklan ini, ditampilkan sebuah merek rokok tertentu. Sama sekali tidak ditampilkan adegan orang merokok atau bentuk fisik rokok yang ditawarkan, tetapi adegan-adegan dalam iklan memberikan kesan pemuda "macho", "pemberani", dan "menyukai tantangan.".Tidak dipungkiri, sebagian pemirsa yang menyaksikan akan mempercayai rokok merek itu mampu memberi kesan "macho" dan "pemberani" bagi perokoknya, meskipun sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali.

Produksi mitos dalam iklan

Dalam iklan, konten yang terpenting adalah mitos dan ikon-ikon industri budaya. Mitos adalah sesuatu yang diyakini sebagai sebuah kebenaran, namun sebenarnya tidak benar. mitos tentang perempuan, misalnya adalah sesuatu yang seringkali dimanfaatkan kekuatan industri budaya untuk memasarkan produk-produk yang mereka hasilkan. Iklan-iklan yang menghasilkan produk kecantikan seperti sabun mandi, minyak wangi, lipstik, krim pemutih kulit, dan perawatan tubuh, semua pada dasarnya mengontruksikan pikiran tentang bagaimana perempuan dapat tampil cantik layaknya peragawati atau artis yang mempesona. Para produsen seolah paham dengan apa yang diinginkan oleh perempuan, dan melalui iklan yang mereka tayangkan, mereka seolah hendak membantu kaum perempuan untuk mewujudkan mimpi-mimpinya -tampil cantik sesuai dengan skenario yang dikontruksikan oleh industri budaya-. Cantik adalah identik dengan langsing tinggi, cantik adalah berkulit putih, cantik adalah wangi, cantik adalah rambut panjang yang menjuntai. Mitos-mitos seperti ini pada akhirnya yang mampu membuat kekuatan iklan menjadi berlipat-lipat ketika ditawarkan pada kaum perempuan.

Untuk meningkatkan daya tarik sebuah iklan, produsen menggandeng selebritis, atlet terkenal, atau tokoh masyarakat sebagai bintang iklan. Konsumen akan menjadi mudah terperangkap dalam pengaruh iklan, terutama fans atau penggemar fanatik dari bintang iklan yang dipilih perusahaan sebagai ikon produk mereka. Dalam dunia periklanan, peran idola atau selebritas umumnya bukan hanya sebagai simbol ekspresi diri dan pembangkit aspirasi konsumen, tetapi sekaligus sebagai acuan untuk membentuk identitas yang diilhami selebritis, dan acuan untuk mengembangkan perilaku yang imitatif layaknya para fandom yang selalu berburu apapun yang dikenakan idolanya.

Di Indonesia bukan hanya artis, penyanyi atau sosok yang lumrah dijadikan ikon produk, namun bahkan da'i terkenal, ustadz atau ustadzah yang kemudian merangkap peran menjadi selebritis. Pemirsa kadang merasa bingung, saat ustadz/ustadzah mempromosikan produk yang dibintangi, karena tak ada bedanya dengan gaya mereka saat ceramah melontarkan firman Tuhan dan berbicara tentang kebajikan. Sebagaimana penulis saat ini, mulai bingung kehabisan ide dan kehilangan konsentrasi. Ada Aqua?

 

Penulis: Tomi Nurrohman

Berita Lainnya

Masukkan Komentar

xV6wT

Total Komentar (0)


Halaman :