• Telp : 0725-41507
  • Fax : 0725-47296
Diposting oleh Tgl 15-11-2017 & wkt 01:47:28 dibaca Sebanyak 424 Kali

Konon, cendikiawan muslim Muhammad Abduh begitu terpukau dengan Paris-Perancis. Berbanding terbalik saat Muhammad  Abduh tiba di Mesir dan mendapati negeri ini semrawut, kumuh dan tidak aman. Ketika sampai di mesir seketika Muhammad  Abduh menyaksikan aski pencurian. Muhammad  Abduh rindu dengan suasana Paris yang asri, bersih dan nyaman. Beliau juga menyaksikan bagaimana di paris orang membeli koran dipinggir jalan tanpa ditunggui penjualnya.

Tahun 2015 lalu, Maarif institute merilis riset tentang Indeks Kota Islami (IKI). Ada tiga tolak ukur yang dijadikan indikator dalam riset ini, yaitu: aman, sejahtera, dan bahagia. Walaupun akhirnya riset ini banyak menuai kontroversi terkait indikator yang digunakan, tetapi setidaknya kita tahu kota mana yang tergolong paling aman, sejahtera, dan bahagia.

Kota aman diukur dari indikator kebebasan beragama dan berkeyakinan, perlindungan hukum, kepemimpinan, pemenuhan hak politik perempuan, hak anak, dan hak difabel. indikator sejahtera diukur dari pendidikan, pekerjaan, pendapatan, dan kesehatan. Sedangkan tolak ukur bahagia diukur dari indikator berbagi dan kesetia kawanan serta harmoni dengan alam. Hasilnya mengejutkan, tiga kota yang memiliki indeks islami paling tinggi adalah  Yogyakarta, Bandung dan Denpasar yang mayoritas bergama Hindu. 

Fakta-fakta riset ini sebenarnya merefleksikan kenyataan beragama kita. Ajaran  tentang kebersihan, keasrian dan kenyamanan lingkungan juga tidak sedikit jumlahnya. Semisal hadits Nabi “kebersihan adalah sebagian dari iman” yang kemudian direplikasi menjadi slogan yang ditempelkan di tempat-tempat bersuci, kiranya hanya menjadi patronase tanpa implementasi yang ril. Masih ada tempat ibadah yang jauh dari kata bersih dan nyaman. Bahkan kampus-kampus islam sekalipun yang notabene banyak dihuni oleh para ahli agama.

Penulis berspekulasi. Jangan-jangan ini karena sistem pendidikan agama kita yang hanya mengajarkan orang untuk sholat dan melaksanakan ritual-ritual lainnya. Dalam hal muamalah pun, hanya berkisar pada kontak-kontrak bisnis, pernikahan, dan politik. Belum menyentuh elemen-elemen yang bermuatan kearifan lingkungan hidup (ekologi). Tetapi alhamdulillah, akhir-akhir ini ada sinyalemen yang mengindikasikan adanya geliat untuk mengkaji lingkungan dalam perspektif agama, munculnya term “ekoreligi” misal.  

Kalau kita sedikit peka saja, sebenarnya ajaran islam banyak mengandung muatan pendidikan ekologi. Dalam masalah etika bersuci (wudlu) misalnya, orang tidak diperbolehkan untuk membasuh lebih dari tiga kali, karena termasuk perbuatan isrof (berlebihan). Larangan isrof ini tidak memandang apakah dalam kondisi air krisis atau berlimpah. Walaupun misalnya orang bersuci di tempat yang banyak air seperti di sungai yang mengalir, isrof tetap tidak dibolehkan, karena air adalah sumberdaya yang harus tetap dijaga kelestariannya (sustainable).

Dalam kondisi air yang krisis sekalipun, muatan pendidikan ekologis tetap tidak hengkang. Jika seseorang memiliki sedikit air di musim kemarau, tetapi di satu sisi dia masih memiliki hewan piaraan yang membutuhkan minum, maka hewan piaraan inilah yang lebih berhak atas air tersebut, sedangkan orang tersebut diperbolehkan untuk tayamum (bersuci degan debu). Dengan demikian, populasi hewan akan tetap terjaga kelestariannya.

Ajaran dalam qurban juga sangat menarik. Hewan yang dianjurkan untuk dijadikan qurban adalah hewan jantan. Sehingga populasi hewan terebut tidak cepat lenyap karena hewan betina dibiarkan hidup dan berkembang biak.

Sebuah pesan mulia yang pernah disampaikan oleh Sayyidina Abu Bakar RA, setidaknya juga memberikan gambaran pendidikan ekologi. Pesan yang disampaikan saat akan mengirim pasukan dalam sebuah ekspedisi peperangan, pesan beliau adalah (1) janganlah kalian membunuh wanita, anak-anak dan orang renta, (2) janganlah kalian menebangi pohon-pohon yang berbuah, (3) janganlah kalian merobohkan bangunan, (4) janganlah menyembelih hewan ternak kecuali untuk dimakan, (5) janganlah menenggelamkan atau membakar pohon kurma, (6) janganlah korupsi, (7) dan janganlah kalia takut.

Dalam sebuah riwayat, Nabi juga pernah memberikan sabda, bahwa diantara pahala yang tetap mengalir meskipun seseorang telah meninggal adalah menanam pohon kurma, menggali sumur dan mengalirkan sungai. Riwayat lain juga menyebutkan bahwa dalam kondisi genting saat akan terjadi hari kiamat, dan di tangan kita menggenggam biji kurma, maka kita diperintahkan untuk menanamnya sekiranya masih sempat.

Sampai di sini sebenarnya kita bisa memahami. Kalau saja umat ini mau sedikit peka akan ajarannya, maka fakta-fakta menyedihkan dan memalukan seputar ekologi bisa dicegah. Bagaimana mungkin, disaat islam mengajarkan umatnya untuk menjaga kelestarian air sekalipun untuk keperluan bersuci, tetapi faktanya justru kita merusak sumbernya? Mengotori sungai? di saat islam mengajurkan menanam pohon dan melarang untuk merusaknya sekalipun dalam kondisi berperang, justru kita secara brutal menebangi pohon. Dan di saat Nabi memerintahkan untuk menanam pohon sekalipun akan kiamat, justru kita berlomba-lomba menanam beton.

Kita berharap, bahwa masih akan ada cendikiawan muslim yang mau mereproduksi pengetahuan agamanya dalam ranah ekologi. Bukan hanya dalam bidang akademik, tetapi sekaligus bisa diimplementasikan. Agar seterusnya kita tidak hanya bisa terus mempropagandakan adagium “Rahmatal lil alamin” tetapi sungguh memalukan saat melihat justru negeri non-muslim jauh lebih bersih, tertib, dan asri.

 

Penulis: Tomi Nurrohman

Berita Lainnya

Masukkan Komentar

dWyl4

Total Komentar (0)


Halaman :