• Telp : 0725-41507
  • Fax : 0725-47296
Diposting oleh Tgl 15-11-2017 & wkt 01:44:00 dibaca Sebanyak 473 Kali

Jika anda seorang pemimpin negara ini, apa yang anda pikirkan pertama ketika bangun tidur? bagaimana memberi makan 250-an  juta rakyat, mencari tambahan cadangan minyak yang makin menipis, mencari tambalan karena defisit anggaran yang makin mengangga, memastikan rakyat tetap tinggal di rumah yang layak dan anak-anak mereka tetap sekolah.

Jika anda seorang pemimpin keluarga, apa yang anda pikirkan pertama kali ketika bangun tidur? memastikan anggota keluarga tidak ada yang kelaparan hari itu, membeli gas, membayar tagihan listrik, dan membayar biaya pendidikan anak.

Orang bijak akan membuat hirarki kebutuhan berdasarkan tingkat urgensinya bagi kehidupannya. Memilah dan memilih mana yang paling mendesak untuk segera dipenuhi.

Dalam ekonomi syariah, dikenal tiga hirarki kebutuhan: dharuriyat (primer/sangat mendesak), hajiyyat (sekunder), dan tahsiniyyat (tersier). Dharuriyyat adalah kebutuhan yang mutlak harus dipenuhi oleh manusia, jika tidak manusia akan terancam hidupnya. Imam Syatibi sebagaimana yang dikutip oleh Al Yasa’ Abubakar (2012) menyatakan bahwa dharuriyyat dibagi menjadi lima bagian, yakni pemenuhan yang diperlukan untuk menjaga  (1) keselamatan agama (ketaatan ibadah kepada Allah SWT) (2) keselamatan nyawa (perindividu), (3) keselamatan akal (termasuk hati nurani), (4) keselamatan atau kelangsungan keturunan (eksistensi manusia) serta terjaga dan terlidunginya harga diri dan kehormatan seorang dan (5) keselamatan serta perlindungan atas harta kekayaan yang dikuasai atau dimiliki seorang. Sedangkan kebutuhan hajiyyat ialah kebutuhan-kebutuhan sekunder, dimana tidak terwujudkan keperluan ini tidak sampai mengancam keselamatannya. Berbeda lagi kebutuhan tahsiniyyat, kebutuhan ini hanyalah untuk kenyaman, kemudahan, dan kelapangan hidup.

Adalah tampak aneh, jika akhir-akhir ini justru yang menjadi fokus kajian dan implementasi dari pegiat ekonomi syariah justru berada pada wilayah yang sifatnya hajiyyat/tahsiniyyat, seperti: perbankan, pasar modal, asuransi, dan lain-lain. Masalah ketahanan pangan, lingkungan hidup, energi, dan persoalan yang sifatnya lebih mendesak seolah teralienasi dari fokus kajian, dianggap tidak penting. Mungkin jika bahan pangan mulai menipis, lingkungan tercemar, udara kotor, air  mulai mengering, kita baru sadar, bahwa kita tidak bisa memakan uang yang ada di bank, asuransi, dan pasar modal.

Jadi, mereka yang berjuang melakukan ekperimen untuk menemukan bibit pangan yang unggul, sebenarnya mereka juga berjuang untuk ekonomi syariah. Mereka yang berjuang menciptakan teknologi yang ramah lingkungan, mereka juga sedang berjuang untuk ekonomi syariah. Mereka yang tidak membuang sampah dan limbah sembarangan, mereka juga sedang berjuang untuk ekonomi syariah. mereka yang berjuang menjadi aktivis sosial atau pun relawan di negara yang mengalami konflik politik, mereka juga sedang berjuang untuk ekonomi syariah. Bukan hanya mereka yang ahli dalam mengelola uang di bank syariah, atau mereka yang pandai mengutip ayat dan hadits tentang jual-beli, atau mereka ahli dalam mengeluarkan fatwa-fatwa syariah.

Konsep syumul (komprehensif) yang selama ini didengungkan oleh para pegiat ekonomi syariah justru menjadi tampak paradoks dengan fakta yang ada. Menyatakan bahwa islam adalah agama yang syumul  sembari mempromosikan lembaga keuangan yang bebas riba sebagai implementasi ke-syumul-annya. Mereka yang tidak menyimpan uang, bertransaksi, atau ikut membeli saham dengan indeks syariah dianggap tidak syumul dalam mengamalkan ajaran islam. Padahal mungkin saja disaat yang bersamaan  mereka yang menyimpan, bertransaksi, atau membeli saham syariah juga membuang sampah sembarangan, memakai teknologi yang tidak ramah lingkungan, ikut membeli saham yang meskipun tidak memproduksi barang haram tapi menghasilkan limbah pabrik yang merusak lingkungan.

Kecenderungan implementasi yang parsial ini salah satunya juga disebabkan pengajaran, internalisasi ajaran dan nilai-nilai syariah yang tidak komprehensif di lembaga pendidikan tinggi, sebagaimana yang penulis rasakan saat ini. mahasiswa terlalu asyik berdebat soal status bunga bank, sibuk melabeli transaksi ini dan itu sebagai transaksi yang halal dan haram, memandang segala sesuatu secara hitam putih, sibuk mengutuk kapitalisme dan komunisme sebagai penyebab semua petaka ekonomi. Karya-karya tulis yang dihasilkan  pun kebanyak hanya sebatas mencari tahu status halal-haram sebuah transaksi, tanpa memberikan solusi yang implementatif. Pada akhirnya, tugas belajar hanyalah untuk mengejar karir sebagai pebisnis atau bekerja di lembaga keuangan syariah.

Sudah saatnya menyegarkan kembali pemahaman sekaligus implementasi ekonomi syariah secara komprehensif. Tidak mengabaikan kajian terhadap hal-hal yang sifatnya lebih urgen. Mendahulukan pemenuhan kebutuhan atas perkara yang dharuriyat dibandingkan dengan hajiyyat apalagi tahsiniyyat. Jika tidak, Jangan-jangan kita sibuk melakukan hal menurut kita penting, tetapi sebenarnya orang tidak butuh apa yang kita lakukan.

Penulis: Tomi Nurrohman

Berita Lainnya

Masukkan Komentar

DVF2E

Total Komentar (0)


Halaman :