• Telp : 0725-41507
  • Fax : 0725-47296
Diposting oleh Tgl 17-12-2017 & wkt 10:28:48 dibaca Sebanyak 122 Kali

Penulis: Habibatul Fauziah (Mahasiswa Bidikmisi Angkatan Tahun 2016)

Abdurrahman Wahid atau yang akrab dikenal Gus Dur merupakan salah seorang tokoh Muslim Indonesia dan merupakan presiden ke empat Indonesia. Dalam buku yang berjudul tentang Islamku, Islam Anda, Islam Kita (Agama Masyarakat Negara Demokrasi) yang membahas tentang Islamku, Islam Anda, Islam Kita, Gus Dur mendapati pandangan sendiri tentang Islam yang tengah mengalami perubahan perubahan besar. Semula Gus Dur mengikuti jalan pemikiran ekstrim yang menganggap Islam sebagai alternatif terhadap pola pemikiran Barat.  

Kemudian setelah mengikuti Ikhwanul Muslimin, di Jombang Gusdur menyebutkan dua hal sekaligus: di satu pihak, pengalaman Gus Dur yang tidak akan pernah dirasakan oleh orang lain, dan sekaligus kesamaan pengalaman dengan orang lain yang mengalami pengembaraan mereka sendiri. Menurut  Gus Dur pengalaman pribadi orang tidak akan pernah sama dengan pengalaman orang lain. Dengan begitu menurut beliau kita harus bangga dengan pemikiran pemikiran sendiri yang berbeda dari pemikiran orang lain. Tapi kenyataan pada sekarang ini banyak orang yang tidak percaya tentang hasil pemikirannya sendiri dan menganggap bahwa pemikiranya jauh tertinggal dari orang lain, bahkan dalam penulisan makalah saja para mahasiswa tidak berani menuangkan hasil pendapatnya dalam makalah tersebut.

Maka dari situlah Gus Dur  berkesimpulan bahwa Islam yang dipikirkan dan dialaminya adalah sesuatu yang khas, yang dapat disebut sebagai ’Islamku’, sehingga yang demikian itu watak yang seperti itu harus dipahami sebagai pengalaman pribadi yang patut diketahui orang lain tanpa melalui paksaan.

Gus Dur menganggap bahwa pandangan yang dikemukakan adalah yang paling benar diantara yang lain tidaklah rasional walaupun isinya sangat rasional. Sebaliknya pandangan spiritual yang irrasional dapat diterima oleh orang lain tanpa paksaan melalui bukti hal hal yang irrasional itu benar benar terjadi dalam kehidupan nyata. Jadi pandanagan yang rasional adalah pandangan yang dibuktikan melalui kahidupan nyata dan sudah terbukti kebenaranya.

Dalam tradisionalisme agama dalam buku Gus Dur disebutkan bahwa ‘Islam Anda’ seperti terjadinya haul atau peringatan Sunan Bonang di Tuban dalam setiap tahunya, tanpa diumumkan banyak orang berduyun duyun datang ke alun alun Tuban membawa tikar dan koran serta minuman sendiri untuk mendengarkan urain para pemceramah tentang diri Sunan Bonang. Disini pihak panitia hanya mengundang pihak penceramah dan hanya menyediakan meja kursi ala kadarnya demi sopan santunya kepada para tamu undangan. Tidak penting benar, adakah Sunan Bonang pernah hidup, dalam pikiran pengunjung demikian, dan itulah adanya kenyataan yang ada dalam pandangan mereka, tidak terbantahkan. Jadi menurut Gus Dur ‘Islam anda’ adalah keyakinan/kepercayaan yang sudah tertanam dalam pikiran orang banyak dan entah apakah kepercayaan itu benar atau tidak.

Gus Dur mengatakan dalam bukunya bahwa kesantrian dalam pelaksanaan ajaran Islam oleh seseorang tidak menentukan kebaikan. Banyak muslim yang tidak diberi predikat ‘muslim yang baik’ karena tidak pernah memikirkan masa depan Islam. Sedangkan santri yang kurang sempurna dalam menjalankan ajaran agama sering dianggap sebagai ‘muslim yang baik’, hanya karena menyatakan pemikiran pemikiran tentang masa depan Islam.

Pandangan yang seperti inilah yang mementingkan masa depan Islam yang disebut dengan ‘Islam kita’. Hal tersebut terjadi karena merasa prihatin terhadap dengan masa depan agama tersebut, sehingga keprihatinan itu mengacu pada kepentingan bersama kaum muslim. Jadi menurut Gus Dur ‘Islam kita’ ini mencangkup ‘Islamku’ dan ‘Islam anda’, karena berwatak umum dan menyangkut nasib kaum muslim seluruhnya dimanapun mereka berada. Dari situ terbukti bahwa Islam kita dalah Islam yang menggabungkan antar 'Islamku' dan 'Islam anda'. 'Islamku' adalah Islam yang telah terbukti kebenaranya yang itu berarti rasional sedangkan Islam anda adalah kepercayaan yang sudah ada dalam pemikiran seseorang tanpa mempedulikan bahwa hal itu benar atau tidak.

Dengan begitu jika kita ingin melestarikan ‘Islamku’ maupun ‘Islam anda’, yang harus dikerjakan ialah menolak Islam yang dijadikan ideologi negara. Bisakah hal hal esensial yang menjadi keprihatinan kaum muslimin, melalui proses yang sukar, akhirnya diterima sebagai ‘Islam kita’, dengan penerimaan suka rela yang bersifat  pemaksaan pandanagn. Jadi ‘Islam kita’ dapat disebutkan bentuk empati kita sebagai muslim terhadap kepentingan bersama.[]

Berita Lainnya

Masukkan Komentar

CtfMS

Total Komentar (0)


Halaman :