• Telp : 0725-41507
  • Fax : 0725-47296
Diposting oleh Tgl 23-05-2017 & wkt 04:48:53 dibaca Sebanyak 170 Kali

Minggu (21/05/2017) pagi yang dingin pukul 06.00, kesekian kali saya bertemu dengan orang tua yang berharap anaknya bisa melanjutkan kuliah. Ya, IAIN Metro mungkin menjadi pilihan utama di kota ini. Kota yang terjangkau biaya hidupnya, ramah warganya namun akhir-akhir ini sedikit rusak oleh arogansi segelintir elit kekuasaan. Kuliah di Metro bagi sebagian warga kabupaten lain bukanlah hanya harapan, tapi memang demikian yang bisa diupayakan oleh mereka yang tidak sanggup menguliahkan anaknya di Bandar Lampung apalagi di luar provinsi. Tak ada mimpi bagi kalangan menengah ke bawah ini untuk menyekolahkan anaknya ke Bandar Lampung yang semakin memberikan kapayahan terkait lonjakan biaya hidup dan melambungnya uang kuliah tunggal di Universitas Lampung (UNILA) dan Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung. Selain itu adalah kampus swasta untuk mereka yang orang tuanya ber-uang.

Bapak dan anak gadisnya ke rumah mertua, setelah mengetahui bahwa saya datang. Kata mertua mereka berharap seperti anak bapak fulan, yang kemarin lulus bidik misi dan bisa kuliah di IAIN Metro. Dengan pekerjaan sebagai buruh dan memiliki anak yang mendapat juara 2 di sekolahnya, si bapak tidak kuasa menolak anaknya mau melanjutkan kuliah walaupun tidak ada biaya yang jelas dari mana akan dapat menguliahkan anaknya tersebut. Kawannya yang juara 1 sudah mendaftar di Unila, jurusan bahasa Inggris.

Anaknya mau ambil jurusan apa pak? (Dengan mimik bingung, bapak dan anak itu kembali berpandangan, lalu bertanya balik ke saya).

Adanya jurusan apa aja ya Pak?

Tetangga mertua di Kalirejo Lampung Tengah ini memang awam tentang kuliah. Yang dia tahu anaknya dari SMP sampai SMA sekaligus tinggal pondok pesantren sekitaran desa.

Saya sampaikan beberapa jurusan di IAIN Metro dan mereka menyimak dan beberapa menit selalu menganggukkan kepala.
Anak gadis ini menyukai pelajaran bahasa arab, dan dia minat di jurusan tersebut. Pilihan selanjutnya saya tawarkan ke Manajemen Haji dan Umroh yang dalam workshop kurikulum menekankan kemampuan bahasa arab aktif.
Singkat, saya hanya mengatakan dicoba dulu tes dan sekaligus mendaftar bidik misi. Jika lulus nanti pasti di survey oleh lembaga. “Semoga Allah memberi jalan yang terbaik.”pesan saya kepada mereka.  Karena mengetahui kami akan ada acara keluarga jam 9, maka mereka juga bergegas untuk berpamitan pulang.

Saya kira cerita ini penting diketahui oleh pemangku kebijakan di kota ini terutama walikota. Bahwa warga eks-kabupaten yang beliau pimpin dulu cukup bergantung dengan kampus yang ada di kota ini. Kota yang cukup tenang dan penuh tepo sliro tanpa ada arogansi keakuan. Sebagai orang jawa tentu beliau mengerti maksud saya ini. Dalam adat jawa kita dilarang Adigang, Adigung dan Adiguna. Setelah reformasi, suara warga wajib didengar guna menjalankan kekuasaan secara demokratis dan beradab. Kota ini terletak di tengah provinsi Lampung dan menjadi tumpuan bagi para orang tua kelas menengah ke bawah. Bukan hanya IAIN Metro, kampus lain seperti Universitas Muhammadiyah, IAI Agus Salim, IAIM NU Metro, STISIPOL Dharma Wacana dan kampus lainnya turut berkontribusi besar dalam mendukung kota ini bervisi kota Pendidikan. Tanpa lembaga pendidikan ini, visi walikota hanyalah jargon kosong tanpa nyawa. IAI Agus Salim bahkan punya sejarah gemilang pernah memiliki 5000 mahasiswa lebih saat masih membuka program D-2. Kampus ini sangat bersejarah membantu para calon-calon guru di Provinsi Lampung saat itu.
 
Kita semua bukankah harus sama-sama berjuang untuk membuat kota ini lebih baik tanpa menghilangkan sisi humanisnya. Kota yang menjadi tempat berjuang dan menempa diri para pemuda di sebagian besar wilayah kabupaten di Provinsi Lampung. Banyak dari mereka yang kemudian menjadi orang sukses di kota ini dan ikut membangun kemajuan kota. Berkat pendidikan mereka menjadi orang-orang yang menggunakan akal dan hatinya untuk hidup lebih baik, dan mengangkat derajat orang tuanya di kampung sana.
Pendidikan adalah alat yang ampuh untuk merubah dunia__ucapan terkenal Nelson Mandela. Pendidikan adalah lecut perubahan untuk mereka merubah nasib. Mereka banyak yang masih percaya bahwa dengan anaknya sekolah mereka dapat hidup lebih baik. Meskipun anggapan itu tidak selalu benar. Banyak dari kaum terdidik meninggalkan pertanian, mimpi kerja dikantoran bahkan budaya orang tuanya dibenci sejadi-jadinya. Pertanian, Peternakan menjadi momok, bagi segelintir mereka yang terdidik tapi lupa untuk pulang ke akar budaya mereka. Persis seperti apa yang diucapkan Boy Frido,”sekolah tidak mengajarkan kita untuk pulang.”

Tapi tidak semua yang terdidik demikian adanya Pak Walikota! Kota yang maju bukan karena gedungnya tinggi-tinggi, banyak mobil mewah, hotelnya bintang lima, rumah makannya terlampau elit dan meminggirkan mereka yang ingin memelihara usaha kecil. Kota yang baik tentu tidak asal gusur pedagang kaki lima, lalu dijamurkannya mini market yang menindas warung-warung warga. Bapak walikota tidak usah ikut-ikutan pejabat pusat di Jakarta sana yang tidak mau tinggal di hotel kota ini, hanya karena tidak berbintang, tidak mau belanja di kota ini karena tidak ada mall mewah seperti di Bandar Lampung. Orang-orang pusat berteriak soal dukung usaha kecil menengah tapi mereka selalu berperilaku elit sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Tidak usah bermimpi Pak Walikota soal Mall, karena pemiliknya jelas bukan warga anda, tapi orang-orang di Jakarta sana. Tidak usah mimpi ada hotel bintang lima karena yang bisa membangun orang-orang di Jakarta sana. Lambat laun kota ini akan macet dan walikota setelah anda akan berpikir buat jembatan layang supaya terlihat kota-isme yang penuh kemacetan.

Ing Ngarso sing tulodho, Ing madyo mangun karso, tut wuri handayani adalah adagium Ki Hajar Dewantara yang tak pernah usang. Orang-orang masih yakin dengan pendidikan—sekolah formal—mereka akan mengubah nasib di masa depan. Walaupun pendidikan menjadi struktur kaku, menformalkan pencarian ilmu dengan silabus-silabus rumit. Pendidikan seolah barang asing yang diambil dengan metode khusus. Orang yang tidak sekolah dalam arti formal, akan kalah dimakan zaman rezim intelektual bergelar. Pendidikan kita memang telah lama dikungkung oleh hirarki struktur Pak Walikota.

Orang-orang sejak masa kolonial mengeja pendidikan dengan seksama. Betapa tidak manjur, negeri ini bangkit dari orang-orang terdidik. Tirto Adi Surjo misalnya moncer sebagai orang terdidik yang menggunakan pengetahuannya untuk melawan penjajahan. Orang terdidik lain dari Sumatra Barat seperti Haji Salim punya cerita lain, walau kandas kuliah di Belanda, Agus Salim akhirnya bekerja menjadi seorang konsulat Belanda di Jeddah. Usaha Kartini mengirim surat ke pemerintah Belanda pun kandas untuk melihat Agus Salim menjadi sarjana kedokteran. Tapi Lelaki tua Polyglot itu mendapat pendidikan substansi di ruang-ruang perdebatan organisasi.

Generasi Indonesia selanjutnya yang beruntung mendapat pendidikan barat adalah Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir. Kedua founding fathers ini muncul sebagai intelektual progresif di zamannya. Di dalam negeri pendidikan etis Belanda tidak kalah bersaing, Soekarno dan Muhammad Natsir adalah jagoan podium Bandung yang berpengaruh di zamannya. Sekolah di zaman pra kemerdekaan menjadi pembeda kuat mereka yang sekolah dan tidak sekolah.

Betapa miris, mereke-mereka yang hidup di tengah kampus menjalani ritualisme pendidikan tanpa makna, bosan dan mengerjakan tugas perkuliahan yang tidak mengakar pada permasalahan sosial. Realitas dan wacana kampus berjalan sendiri-sendiri. Pemerintah, Kampus dan warga kreatif selalu enggan bersapa dan berembug ria. Pengangguran sarjana dalam data Kompas pun mencengangkan, tercatat 1.142.751 jumlah yang tidak sedikit, dan setiap tahun ada 400 ribu mahasiswa pendidikan yang lulus dari universitas.

Pendidikan sekolah hari ini seperti alat penindasan, sekolah menjadi penjara dan guru menjadi ketakutan-ketakutan baru selain orang tua di rumah. Sekolah membuat generasi kehilangan kreatifitas. Moral pendidik yang kian carut marut, berita Dosen memakai narkoba, menjual barang haram, menginap di hotel dengan mahasiswa adalah kabar hitam. Dan di kota ini, walikota sedang diperbincangkan warganya akan menggusur sebuah kampus. Meskipun Pemerintah Kota punya landasan hukum saya kira sebaik-baik budaya kita adalah musyawarah kekeluargaan dan mencari solusi terbaik. Semoga, pemberitaan media selama ini hanyalah isu panas yang diciptakan Pak wali, agar warga Metro lupa terkait gambar-gambar calon Gubernur yang mulai bertebaran di sepanjang jalan. Semoga ini strategi Pak Walikota untuk membuat warganya kritis dan berpikir, bahwa kota ini harus dipikirkan oleh semua warga, bukan hanya walikotanya. Atau memang ini tabiat kekuasaan yang memaksakan kebijakan atas nama pembangunan-isme? n

Dharma Setyawan
Komunitas Cangkir Kamisan

Berita Lainnya

Masukkan Komentar

2cFZM

Total Komentar (0)


Halaman :
Jajak Pendapat
Polling Management
Apakah Web ini sudah memberiakan informasi yang anda butuhkan?
573(48.7%)
TOTAL 1177
Statistik
Online : 1 User
Hits : 1093699
Hari Ini : 223
Bulan Ini : 16021
Tahun Ini : 110063
Total : 110455