• Telp : 0725-41507
  • Fax : 0725-47296
Diposting oleh Tgl 20-08-2017 & wkt 11:42:56 dibaca Sebanyak 65 Kali

Sekolah menjadi salah satu tempat pembentukan kepribadian dan pengembangan intelektual anak. Sekolah bukan  hanya sebagai tempat berlangsungnya proses pembelajaran, tetapi juga proses pendidikan. Dalam pembelajaran, terjadi interaksi guru-siswa dan siswa-siswa. Pada lingkungan sekolah, interaksi tersebut terjadi lebih luas lagi, yaitu: guru-siswa, siswa-siswa, guru-kepala sekolah, guru-pegawai, siswa-kepala sekolah, dan siswa-pegawai.

Sayang, belum semua sekolah menjadi tempat belajar yang baik bagi siswa. Secara sengaja atau tidak disengaja, ada sebagian sekolah melakukan kekerasan kepada siswa, terutama kekerasan yang bersifat samar (kekerasan simbolik). Guru yang seharusnya menjadi pendamping siswa dalam belajar, tempat berlindung dan mengadu siswa, tempat siswa mendapatkan kasih sayang yang mungkin kurang di rumah, sebagian justru membelenggu perkembangan siswa, mendeskreditkan siswa, membuat siswa kehilangan rasa percaya diri. Sebagian sekolah justru menjadi tempat yang menakutkan bagi siswa.

Apa itu kekerasan simbolik?

Barangkali kita masih ingat kasus kekerasan di kalangan anak-anak ketika tayangan "smack down" marak ditayangkan oleh televisi. Ada anak yang mengalami patang tulang, ada pula yang babak belur karena di-"smack down" teman sepermainannya. Tayangan kekerasan yang dikemas sebagai tontonan yang indah dan menarik dan berakibat buruk pada karakter anak-anak di atas itulah yang disebut sebagai praktik kekerasan simbolik. Apakah yang dimaksud dengan kekerasan simbolik? Kekerasan simbolik adalah makna, logika dan nilai yang mengandung bias tetapi secara halus dan samar dipaksakan oleh komunikator kepa-da pihak lain (Bourdieu, 1994; Roekhan, 2007 dan 2009; Fashri, 2007).

Kekerasan simbolik itu dilakukan berlandaskan adanya kepercayaan, loyalitas, kesediaan untuk menerima, dan perasaan berhutang budi pihak yang menjadi sasaran kekerasan simbolik (Thomson, 2007). Harapannya makna, logika, dan nilai yang mengandung bias itu diterima oleh pihak yang menjadi sasaran kekerasan sebagai makna, logika, dan nilai yang benar, baik, dan dapat dipercaya.

Kekerasan simbolik menyembunyikan kekerasannya sehingga tidak dikenali dan tidak dirasakan kekerasannya oleh pihak yang menjadi sasaran kekerasan. Dengan menyembunyikan kekerasannya, diharapkan kekerasan simbolik tersebut justru diterima oleh pihak yang menjadi sasaran kekerasan sebagai hal yang wajar (periksa Bourdieu, 1994; Rusdiarti, 2003; Fashri, 2007; Piliang, 2001; dan Foucault, 1971).

Bentuk kekerasan simbolik di sekolah

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Roekhan (2011) Ada beberapa bentuk kekerasan simbolik yang mungkin dilakukan guru di kelas atau di sekolah, kekerasan simbolik itu diantarnya adalah: pertama, guru tidak akomodatif terhadap pandangan, pendapat, harapan, dan keinginan siswa, misalnya: siswa membentuk peraturan kelas dan kelompok kerja tanpa memperhatikan keinginan dan harapan siswa, menolak pendapat siswa yang tidak sesuai dengan pendapat guru, membagi hasil ulangan tanpa membahasnya lebih dulu, melak- sanakan ulangan atau memberi pelajaran baru tanpa menyiapkan siswa lebih dulu, dan lain-lain.

Kedua, guru bersikap permisif terhadap sikap, perilaku dan ucapan siswa di kelas yang tidak atau sesuai dengan peraturan sekolah, moral, dan agama, misalnya siswa keluar-masuk kelas ketika pelajaran berlangsung, siswa mengganggu siswa lain ketika pelajaran berlangsung, siswa bermain-main di kelas ketika pelajaran berlangsung, siswa melaksaan pekerjaan sekolah ala kadarnya, dan lain-lain. Ketiga, guru bersikap dan berperilaku yang tidak atau kurang sesuai dengan aturan sekolah, moral, dan agama di kelas,  misalnya merokok di kelas, duduk di meja selama mengajar, memukulkan penggaris keras-keras untuk menenangkan siswa, memberi siswa label negatif, dan lain-lain.

Dampak kekerasan simbolik

Kekerasan simbolik tidak jelas pengaruhnya pada sikap dan perilaku anak dalam jangka pendek. Akan tetapi dalam jangka panjang, kekerasan simbolik terbukti mempunyai pengaruh yang besar terhadap pembentukan sikap dan perilaku anak.

Panjangnya masa timbulnya pengaruh kekerasan simbolik terhadap pembentukan sikap dan perilaku (karakter) anak karena pengaruh itu terjadi secara bertahap. Pertama, anak menerima pajanan nilai-nilai negatif di sekitarnya secara terus-menerus. Kedua, siswa mempersepsi nilai-nilai negatif tersebut sebagai nilai-nilai yang positif dan layak untuk ditiru. Persepsi positif ini akan semakin kuat kalau penerapan nilai-nilai negatif tersebut dilakukan oleh orang dewasa yang mereka teladani, seperti guru dan orang tua.

Ketiga, anak memasukkan dan menyimpan nilai-nilai negatif tersebut menjadi bagian dari nilai-nilai positif dalam dirinya. Dengan kata lain, nilai-nilai negatif tersebut dipersepsi dan diterima oleh siswa sebagai nilai yang positif (baik). Keempat, siswa menerapkan nilai-nilai negatif tersebut dalam kehidupan mereka sehari-hari, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Pada tahap inilah nilai-nilai negatif yang disalurkan melalui kekerasan simbolik tersebut telah menjadi bagian dari karakter siswa.

Penulis: Tomi Nurohman (Mahasiswa IAIN Metro)

Berita Lainnya

Masukkan Komentar

UZMfH

Total Komentar (0)


Halaman :